Posted: 8 May 2011 in bahasa

Analisis Struktur Informasi Latar-Baru pada Wacana Putra Khadafi Dikabarkan Tewas dalam Harian Seputar Indonesia1

 Tresiana Sari Diah Utami2

1.      Pendahuluan

Hal yang dapat membedakan wacana atau bukan, teks lengkap dan tidak lengkap adalah adanya kesatuan, baik struktur maupun teksturnya. Istilah struktur dan tekstur dapat dipahami sebagai kohesi dan koherensi. Elemen-elemen struktur wacana antara lain (menurut Van Dijk), Tematik (apa yang dikatakan), Skematik (bagaimana pendapat disusun dan dirangkai), Semantik (makna yang ingin ditekankan), sintaksis (bagaimana pendapat disampaikan), stilistika (pilihan kata apa yang dipakai), dan retoris (bagaimana dan dengan cara apa penekanan dilakukan.

Melalui berbagai karyanya, Van Dijk (dikutip Eriyanto, 2001:227-229; Sobur, 2001:73-84) mencetuskan kerangka analisis wacana yang terdiri atas tiga struktur utama yaitu : struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro (macro structure, superstructure, and micro structure) (http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/4%20i%20wyn%20mulyawan%20edited-revision.pdf.).

Struktur makro menunjuk pada makna keseluruhan (global meaning) yang dapat dicermati dari tema atau topik yang diangkat oleh suatu wacana. Superstruktur menunjuk pada kerangka suatu wacana atau skematika, seperti kelaziman percakapan atau tulisan yang dimulai dari pendahuluan, dilanjutkan dengan isi pokok, diikuti oleh kesimpulan, dan diakhiri dengan penutup. Bagian mana yang didahulukan, serta bagian mana yang dikemudiankan, akan diatur demi kepentingan pembuat wacana. Struktur mikro menunjuk pada makna setempat (local meaning) suatu wacana. Ini dapat digali dari aspek semantik, sintaksis, stilistika, dan retorika. Aspek semantik suatu wacana mencakup latar, rincian, maksud, pengandaian, serta nominalisasi. (http://www.scribd.com/doc/40515927/wacana).

Pada tingkatan superstruktur, misalnya seorang penulis ataupun pembicara dalam menyampaikan pesannya kepada pendengar atau pembaca akan memikirkan cara dan bentuk yang dianggapnya paling tepat agar komunikasi dapat berlangsung secara efektif. Seorang penutur akan memilih metode yang dianggap paling sesuai dalam menyampaikam imformasi atau gagasan yang ada di dalam benaknya kepada lawan bicara sehigga komunikasi tidak mengalami kendala. Ia memilih informasi-informasi apa saja yang akan disampaikan. Baik di awal, di tengah, dan di akhir sehingga membentuk suatu kesatuan yang utuh.

Selain itu, penulis atau penutur juga memiliki pilihan yang dapat menjadi dasar dalam memilih atau menyajikan informasi yang ingin disampaikan dengan urutan tertentu berdasarkan pendangannya sendiri dalam unit-unit terkecil yang merupakan bagian dari teks atau wacana secara keseluruhan hal ini terkait dengan bagaimana informasi-informasi dirumuskan dengan kata-kata, frase, klausa, atau kalimat-kalimat yang saling berkaitan.

Oleh karena itu, makalah ini akan berusaha menjelaskan bagaimana informasi-informasi itu dibentuk dalam suatu struktur informasi oleh penutur atau penulis dalam judul struktur informasi : Latar dan Baru. Kemudian penulis mencoba memperlihatkan analisis struktur informasi dari teks wacana yang dapat penulis lakukan.

 

2.      Struktur Informasi : Latar dan Baru

Struktur informasi yang dimaksudkan dalam pembahasan ini berkaitan dengan cara bagaimana proposisi didisstribusikan dalam struktur sintaksis atau satuan-satuan informasi. Satuan informasi menurut Halliday sebagimana dikemukakan Brown dan Yule (1996:12) dapat dikategorikan menjadi dua status, informasi latar dan informasi baru. Informasi latar merupakan informasi yang dianggap telah diketahui oleh kawan bicara karena secara fisik ada dalam konteks atau karena sudah disebutkan dalam wacana. Sementara informasi baru merupakan informasi yang oleh penutur dianggap tidak atau belum diketahui oleh kawan bicara.

Akan tetapi, dari beberapa literatur yang penulis dapatkan, penjelasan tentang realisasai status informasi latar-baru ini masih sulit dipahami. Pertama–tama dikemukakan oleh Halliday (Brown dan Yule, 1996:154) bahwa satuan-satuan informasi direalisasikan dalam wicara sebagai kelompok-kelompok ton yang secara fonologis dapat ditentukan batas-batasnya. Kelompok-kelompok ton tersebut terdiri atas suku kata tonis yang merupakan bagian dari kelompok-kelompok ton yang mendapatkan  tekanan. Suku kata tonis ini disebut juga suku kata inti. Kata tonis yang mendapat tekanan inilah yang oleh Halliday dianggap berfungsi untuk memfokuskan informasi baru. Dicontohkan seorang anak perempuan yang berusia 4 tahun menceritakan dongeng peri yang sangat dikenalnya. Anak perempuan tersebut membagi ceritanya menjadi kelompok-kelompok ton a, b, c, d, dan e. Dalam setiap kelompok ton, anak perempuan tersebut memberikan tekanan pada salah satu unsur leksikal yang dianggap sebagai focus informasi baru (dicetak dengan huruf capital).

  1. //in /far away/LAND//
  2. //there/ lived a/bad naughty/FAIRy//
  3. //and a/handsome/PRINCE//
  4. //and a/lovely/PRINcess//
  5. //She was a/really/WICKed/fairy//

Dalam kelompok-kelompok ton a s.d. d, suku kata tonis terletak pada unsur leksikal yang terakhir. Pada kelompok ton e, suku kata tonis tidak terletak pada unsur leksikal yang terakhir (fairy) karena fairy sebagai unsur leksikal pada kelompok ton e dianggap sudah diketahui pada ko-teks sebelumnya, yaitu pada kelompok ton b.

Selanjutnya Brown dan Yule (1996:166) mengemukakan bahwa struktur informasi sebagian direalisasikan oleh sintaksis dan sebagian oleh system-sistem fonologis seperti penonjolan fonologis (intonasi) yang ada pada bahasa Inggris sebagaimana dicontohkan oleh Halliday di atas. Namun demikian, Brown dan Yule juga mengatakan bahwa bukan system fonologis atau sintaksisnya yang menentukan status informasi tersebut baru atau latar penutur. Penuturlah yang akan menentuka bahwa siuatu informasi dinilai baru atau latar lalu memberikan suku kata tonis atau menggunakan bentuk-bentuk ungkapan sintaksis tertentu.

Beberapa bentuk sintaksis yang biasanya mengungkapkan informasi latar dalam bahasa Inggris dicontohkan oleh Brown dan Yule (1996:168-169) berikut:

1)      Satuan-satuan leksikal yang disebutkan untuk kedua kalinya dengan ungkapan tentu (partikel the).

  1. Mary got some beer out of the car.
  2. The beer was warm.

2)      Satuan-satuan leksikal yang berada dalam bidang semantis satuan leksikal yang disebut sebelumnya.

  1. Robert found an old car.
  2. The steering wheel had broken off.

3)      Pronominal-pronominal yang digunakan secara anaforis sesudah bentuk leksikal penuh dalam kalimat terdahulu.

  1. What happened to the jewels?
  2. They were stolen by a customer

4) Pronominal-pronominal yang dipakai secara eksoforis yang di situ ada referen.

  1. Look out.
  2. It’s falling.

5)      Proverbal-proverbal

  1. William works in Manchester.
  2. So do I.

Pada masing-masing contoh di atas bagian dicetak miring pada huruf b merupakan informasi latar yang informasi tersebut sudah pernah disebutkan sebelumnya pada huruf a yang dicetak tebal sehingga sudah dianggap sudah diketahui oleh kawan/lawan bicara.

Dalam bahasa Indonesia Lubis (1993:82-83) memberikan contoh sebagai berikut.

1)      Saya melihat sepeda motor merah di parkiran. Motor itu masih baru.

2)      Kamu harus membawa semua alat tulismu. Pensil terutama.

3)   Ayah, ibu, dan anak itu sedang berwisata bersama. Mereka terlihat bahagia.

4)      Hal ini wajib mereka lakukan. Saling menghormati.

5)      Si A sedang membaca buku. Si B melakukan juga.

Penjelasan tentang struktur informasi juga pernah dikemukakan Cook. Menurutnya susunan atau pengurutan informasi dapat ditentukan berdasarkan anggapan tersebut, informasi dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu informasi yang menurut perkiraan penutur sudah diketahui oleh kawan bicara atau given information dan informasi baru (new information) yang menurut perkiraan penutur belum diketahui oleh kawan bicaranya. Status baru atau given yang sudah diberikan dapat berubah dalam sebuah wacana, informasi baru dapat menjadi given information.  Perhatikan contoh berikut.

Given                           Putu Wijaya dilahirkan

New                             di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944.

Hampir semua seniman Indonesia mengetahui tentang keberadaan seniman yang bernama Putu Wijaya. Informasi tersebut dapat dijadikan sebagai given (latar). Begitu puladengan fakta bahwa Putu Wijaya dilahirkan dapat dikatakan sebagai given karena semua manusia juga dilahirkan. Di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944 merupakan informasi baru karena diperkirakan bahwa tidak semua mengetahui bahwa Putu Wijaya dilahirkan di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944.

Lubis mengemukakan di dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan informasi lama dan informasi baru (old and new information). Menurut Lubis, yang menjadi informasi lama dan baru dalam bahasa Indonesia adalah subjek dan predikat secara semantic. Berikut ini beberapa contoh kalimat dalam bahasa Indonesia yang diberikan lubis. Bagian yang dicetak miring adalah subjek yang mengandung informasi lama.

1)      Saya membaca buku.

2)      Yang membaca buku saya.

3)      Buku saya baca.

4)      Di mana Kamu tinggal?

5)      Bagaimana bentuknya?

6)      Bacalah buku itu!

Berdasarkan beberapa contoh di atas, dapat dikatakan bahwa informasi lama dan baru dapat dianalisis dengan memperkirakan apakah unsur leksikal tertentu sudah disebutkan sebelumnya atau belum, baik secara fisik maupun secara kontekstual ada di dalam wacana, sehingga diduga sudah diketahui atau tidak oleh pendengar atau pembaca. Informasi diduga belum atau tidak diketahui disebut informasi baru, sedangkan informasi yang diperkirakan sudah diketahui disebut informasi lama atau latar.

Fungsi intonasi dalam penentuan informasi latar dan baru dalam bahasa Indonesia kemungkinan besar tidak dapat dilakukan karena belum adanya standar bakutentang letak tekanan atau informasi tersebut. Terkecuali menggunakan alat untuk mendeteksi tekanan nada dalam mengucapkan kata-kata yang berupa informasi latar atau baru. Walaupun sudah ada penelitian oleh beberepa ahli bahwa tekanan dalam bahasa Indonesia jatuh pada suuku kata penultima. Tekanan dalam bahasa Indonesia hanya memiliki fungsi kontrastif dan demarkatif yang berkaitan dengan penonjolan bagian tertentu (unsur penting) dari kalimat dan untuk memperlihatkan perasaan atau emosional (Dardjowidjojo, 1995:179—205).

Dengan demikian, penentuan struktur informasi lama dan baru ini bermanfaat juga untuk menetukan kekohesif dan kekoherensian sebuah wacana. Adanya hubungan yang kohesi dan koheren antara informasi latar dalam sebuah ujaran atau kalimat dengan informasi baru yang ada pada ujaran atau kalimat sebelumnya atau dengan konteks yang ada dalam wacana akan turut menentukan kekohesian dan kekoherenan wacana itu. 

 

3.      Analisis Informasi Latar Baru pada Wacana Putra Khadafi Dikabarkan Tewas pada Harian Seputar Indonesia

Kepercayaan masyarakat terhadap kepala pemerintah sudah sangat memprihatinkan. Hal tersebut dapat dilihat dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia. Presiden Mesir, Hosni Mobarak dan Presiden Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali telah mundur dari tahta kepemimpinan setelah mempertahankan kekuasaan berpuluh-puluh tahun. Pemerintahan Negara RI juga pernah merasakan seperti yang dirasakan oleh negara-negara tersebut. Namun, akibat peristiwa tersebut membuat Negara-negara yang melakukan hal yang sama terhadap kepala pemerintahan mereka. Negara yang sekarang sedang mengalami pemberontakan atau peperangan melawan kepala pemerintah mereka sendiri yaitu Negara Libya. Presiden Muammar Khadafi setelah 42 tahun memimpin Libya dirasa sudah tidak berkompeten dan cenderung otoriter terhadap jalannya pemerintahan. Khadafi melancarkan banyak aksi untuk mempertahankan tahtanya, dari membuat benteng untuk menyelamatkan rumahnya hingga menggunakan 300 bodyguard perempuan, yang merupakan perumpuan-perempuan yang sudah dilatih selama 3 tahun di akademik kemiliteran yang dibentuk khusus untuk perempuan-perempuan yag menjaganya.

Berikut ini, penulis mencoba melakukan analisis terhadap pengungkapan atau penggunaan proposisi yang mengandung informasi latar dan baru pada wacana Putra Khadafi Dikabarkan Tewas.

1)      Putra Khadafi dikabarkan tewas

2)      Salah satu putra Pemimpin Libya Muammar Khadafi, Khamis

3)      Kemarin dikabarkan tewas saat serangan udara di ibu kota Tripoli.

4)      Putra keenam Khadafi itu tewas saat seorang pilot Libya bunuh diri menabrakkan pesawatnya ke Kompleks Bab el-Aziziya yang juga kediaman Khadafi.

Pada teks di atas, data ke-1 yang merupakan judul berita, Putra khadafi merupakan informasi latar karena informasi mengenai Khadafi yang memiliki putra diperkirakan sudah diketahui dan didapatkan oleh pembaca. Baik dari beberapa pemberitaan sebelumnya, baik di media cetak ataupun di media elektronik. Sedangkan informasi bahwa dikabarkan tewas tidak atau belum diketahui sebelumnya oleh pembaca. Dengan demikian, informasi bahwa Putra Khadafi dikabarkan tewas merupakan informasi baru bagi pembaca.

Pada data ke-2, salah satu putra pemimpin Libya Muammar Khadafi, dideteksi merupakan informasi latar karena sudah dijelaskan atau disebutkan sebelumnya. Khamis yang merupakan nama putra Khadafi yang meninggal, dapat dikategorikan menjadi informasi baru. Hal ini dikarenakan karena pembaca belum mengetahui dengan jelas nama putra Khadafi yangtewas. Sudah diketahui bahwa Khadafi mempunyai 7 anak laki-laki dan 1 anak perempuan. Sehinggga Khamis, putra bungsu Khadafi dapat dikategorikan informasi baru.

Pada teks ke-3, Kemarin dikabarkan tewas saat serangan udara di ibu kota Tripoli, dapat dianalisis bahwa kemarin dan saat serangan udara dikategorikan informasi baru karena diprediksi pembaca belum mengetahui bahwa Putra Khadafi itu tewas kemarin, 15 Maret 2011. Saat serangan udara merupakan proposisi yeng mengandung informasi baru. Penulis berita juga menyisipkan proposisi tewas dan ibu kota Tripoli sudah diketahui oleh pembaca.

Pada data ke-4, mengandung informasi baru yaitu saat seorang pilot Libya bunuh diri menabrakkan pesawatnya ke Kompleks Bab el-Aziziya. Hal ini bias saja baru diketahui pembaca bahwa Khamis tewas karena pilot Libya bukan pilot Negara lain. Sudah banyak diketahui bahwa yang mendorong Khadafi bukan saja masyarakatnya tetapi beberapa Negara lain pun ikut mendukung, jadi tingkat mengecilkan kemungkinan pilot yang melakukan aksi bunuh diri adalah pilot Negara lain. begitu juga dengan tempat tujuan sasaran yang merupakan informasi baru bagi pembaca. Namun, penjelasan kediaman Khadafi merupakan informasi latar karena sudah dijelaskan dalam berita-berita sebelumnya.

Berikut ini disajikan data yang merupakan informasi-informasi latar dan baru yang disajikan di dalam wacana yang berjudul “Putra Khadafi Tewas” dari harian Seputar Indonesia.

5)      “Khamis tewas akibat luka bakar yang dialaminya setelah dibawa ke sebuah rumah sakit di Tripoli,” tulis laman Arabian Business News kemarin. Anak keenam Khadafi itu dilaporkan tewas pada Sabtu malam pekan lalu. Berita kematiannya baru diperoleh hari ini. Insiden bunuh diri terjadi pada Selasa, 15 Maret 2011. 

6)      Pilot pesawat itu menolak untuk menyerang warga sipil dan melakukan aksi bunuh diri dengan menyerang pasukan Khamis. Setelah penyerangan tersebut, Khamis yang mengalami luka bakar parah langsung dilarikan ke rumah sakit di Tripoli. Namun, upaya pertolongan gagal.

7)      Khamis menghembuskan nafas terakhirnya. Khamis diketahui jebolan Akademi Militer Tripoli dan Akademi Militer Frunze, Moskow, Rusia. Selama krisis berlangsung, Khamis diketahui sebagai panglima Brigade Ke-32 yang bertugas menggempur demonstran di Libya. Kesatuan beranggotakan 1.000 orang yang dinamakan Brigade Khamis inilah yang dianggap bertanggung jawab atas kematian puluhan warga sipil pada gempuran terhadap pemberontak di berbagai kota dinegara tersebut. 

8)      Sementara itu, serangan intensif yang dilakukan pasukan sekutu ke kediaman Khadafi di Tripoli juga belum berhasil melumpuhkan Khadafi. Hingga kemarin pemimpin yang mengendalikan tampuk kekuasaan Libya setelah menggulingkan Raja Idris melalui Revolusi Al Fatah pada 1969 itu dikabarkan masih selamat. Khadafi dikabarkan bersembunyi di bungker rahasia yang dijaga 40 pasukan Garda Amazon. Pasukan perempuan yang bersenjata lengkap. Sehari sebelumnya, pascaserangan ke gedung pemerintahan di kompleks kediaman Khadafi di Bab el-Aziziya,Tripoli, Khadafi bahkan sempat menggelar pidato yang ditayangkan di televisi. Khadafi yang tidak terlihat di publik sejak serangan udara pasukan koalisi diduga melarikan diri ke Sabha, sebuah kota gurun yang dihuni 130.000 orang yang semuanya sangat setia pada pemimpin Libya tersebut. 

9)      Pemimpin yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Libya dan Akademi Militer Benghazi itu dilaporkan dikawal pasukan khusus dari Chad, Nigeria, dan Eropa Timur, untuk memberikan perlindungan penuh kepadanya. Pasukan itulah yang setiap menit selalu menjaganya. Meski ada kabar bahwa Khadafi masih berada di Libya, beberapa negara Barat yakin dia akan keluar dari negaranya saat kekalahan di pihaknya tinggal hitungan hari. “Jika melarikan diri, Khadafi diduga akan menuju negara sahabatnya seperti Zimbabwe, di mana Robert Mugabe mengatakan bahwa dia akan menyambut pemimpin Libya tersebut.”

10)  Negara lain yang diduga menjadi tujuan Khadafi ialah Venezuela serta negara-negara Afrika seperti Chad dan Nigeria. Presiden Venezuela Hugo Chavez merupakan sahabat Khadafi yang saling memberi dukungan. “Dugaan inilah yang menjadi alasan mengapa pesawat tempur Barat membombardir sebuah bandara yang dekat dengan perbatasan di Libya.

11)  Bandara itu digunakan pesawat pribadi milik keluarga Khadafi dan akan menjadi cara ideal baginya untuk melarikan diri. Serangan itu menggunakan bom kendali laser dari pesawat tempur Prancis dan Inggris,” Khadafi sempat muncul dengan berbicara melalui telepon yang disiarkan televisi Libya sebelum serangan udara pasukan koalisi. 

12)  Dia sengaja tidak langsung muncul di kamera televisi karena hal itu dapat menunjukkan keberadaannya. “Dia diduga telah keluar dari Tripoli untuk menyelamatkan diri dari serangan bom pasukan tempur sekutu. Namun, sejumlah putra Khadafi masih berada di ibu kota untuk membantu logistik,”Putra-putra Khadafi yang masih di Libya ialah Khamis, 32, yang dikabarkan tewas di kompleks kediaman ayahnya. Kakak kandungnya, Saif al- Islam, 38, juga diduga masih berada di Tripoli. Sedangkan Saadi Khadafi, 37, merupakan mantan pemain sepak bola profesional di Malta dan Italia, kini memimpin pasukan khusus Libya.  Syarifudin Mutassim Gaddafi, 33, diduga memiliki posisi terkuat di antara empat saudara kandungnya karena memegang posisi Penasihat Keamanan Nasional Libya.

Pada data ke-5 terlihat proposisi tersebut sudah ada di bagian awal wacana. Begitu pula dengan proposisi ke-6. Proposisi ke-5 dan ke-6 di dalamnya tekandung informasi tentang putra Khadafi, Khamis yang tewas akibat bunuh diri pilot Libya. Dijelaskan kembali bahwa Khamis korban bunuh diri akibat pilot yang menjatuhkan pesawatnya mengakibatkan Khamis mengalami luka bakar sebelum tewas. Informasi tersebut dikategorikan informasi latar yang berhubungan dengan tewasnya Khamis.

Teks ke-7 terlihat proposisi tersebut sudah ada bagian awal pada teks ke-6. Mengandung informasi latar tentang menghembuskan nafas terakhir yang juga berhiponim dengan tewas. Begitu juga dengan informasi kegiatan dannkehidupan Khamis selama perang Libya, informasi tersebut merupakan informasi latar yang sudah diketahui sebagian orang tentang tugas Khamis tersebut.

Pada data ke-8, terdapat informasi latar dan baru. Informasi yang menjelaskan tentang kondisi Khadafi yang masih selamat hingga sekarang dan juga perlindungan Khadafi oleh 40 wanita bersenjata dari akademi militer yang didirikannya merupakan informasi latar yang memang sudah banyak diketahui oleh pembaca. Sedangkan informasi mengenai dugaan bahwa Khadafi melarikan diri ke Sabha, sebuah kota gurun yang dihuni 130.000 orang yang semuanya sangat setia padanya merupakan informasi baru.

Begitu juga pada data ke-9, penulis berita menjelaskan kembali pengawal-pengawal Khadafi yang berasal dari berbagai Negara. Hal ini sudah lazim sekali bahwa selama memerintah lebih kurang 42 tahun, Khadafi memiliki kedekatan dengan berbagai pemimpin Negara lain, jadi hal tersebut merupakan informasi latar. Penulis juga memberikan informasi baru mengenai prediksi Negara yang akan menampungnya adalah Zimbabwe. Meskipun ia memiliki kolega yang banyak, namun Zimbabwe dengan terang-terangan kesediaannya menampung kepala pemerintah Libya tersebut. Hal tersebut dilanjutkan pada data ke-10, informasi baru mengenai tempat-tempat  yang menjadi tujuan Khadafi setelah ia lengser nanti. Pada data ke-10 juga diinformasikan bahwa bandara di perbatasan Libya dibombardir oleh pesawat tempur barat yang merupakan informasi baru.

Selanjutnya dijelaskan kembali proposisis tentang penggunaan bandara yang digunakan Khadafi melarikan diri ke Negara tetangga dan serangan terhadap bandara tersebut merupakan informasi latar yang sebelumnya telah dijelaskan pada data ke-10. Namun, sebelum dilancarkannya serangan itu, Khadafi muncul dengan berbicara di telepon dan disiarkan di televise Libya merupakan informasi baru pada data ke-11, mengenai kondisi Khadafi sebelum diserang. Hal ini dikarenakan ia tidak mau memberitahukan keberdaannya kepada masyarakat agar ia tetap terjaga dari serangan tersebut. Hal ini merupakan informasi baru bagi pembaca yang belum mengetahui siasat dari Khadafi.

Pada data selanjutnya, ke-12. Dijelaskan lebih tegas lagi informasi latar mengenai mengapa Khadafi tidak muncul di televisi dan hanya suaranya saja yang disiarkan. Sudah dapat diperkirakan bahwa Khadafi sudah tidak berada di kediamannya di Tripoli untuk menyelamatkan dirinya. Namun, tidak disangka bahwa Khadafi melarikan diri tanpa beberapa putranya. Putra-putra masih bertahan di Tripoli untuk membantu logistik. Mereka adalah Khamis (32), Saif al- Islam (38), Saadi Khadafi (37), dan Syarifudin Mutassim Gaddafi. Hal tersebut merupakan informasi baru yang kemungkinan belum diketahui oleh pembaca.

Beberapa bentuk sintaksis yang biasanya mengungkapkan informasi latar dalam bahasa Inggris tredapat juga dalam wacana bahasa Indonesia yang mengandung unsur-unsur satuan-satuan leksikal yang disebutkan untuk kedua kalinya dengan ungkapan tentu (partikel the). Misalnya ketika pemaparaan berikut.

“Dugaan inilah yang menjadi alasan mengapa pesawat tempur Barat membombardir sebuah bandara yang dekat dengan perbatasan di Libya. Bandara itu digunakan pesawat pribadi milik keluarga Khadafi dan akan menjadi cara ideal baginya untuk melarikan diri.

Proposisi bandara dapat dikatakan sebagai unsur-unsur leksikal yang disebutkan untuk kedua kalinya. Penjelasan yang di cetak tebal merupakan informasi baru mengenai letak bandara yang dibombardir oleh pesawat tempur barat. Proposisi bandara pada kalimat selanjutnya merupakan leksikal yang dlam bahasa Inggris menggunakan partikel the.

Satuan-satuan leksikal yang berada dalam bidang semantis satuan leksikal yang disebut sebelumnya juga terdapat dalam tek tersebut, misalnya.

Khadafi dikabarkan bersembunyi di bungker rahasia yang dijaga 40 pasukan Garda Amazon. Pasukan perempuan tersebut bersenjata lengkap.

Proposisi Garda Amazon dan pasukan perempuan merupakan satuan-satuan leksikal yang dijelaskan sebelumnya. Garda Amazon merupakan nama atau sebutan dari pasukan perempuan milik Khadafi.

 

4.      Penutup

Struktur informasi terkait dengan upaya penutur (pembicara atau penulis) mengatur, menempatkan, dan menyajikan informasi berdasarkan pola-pola tertentu. Pengaturan informasi berhubungan dengan bagaimana informasi latar dan baru disampaikan. Informasi baru merupakan informasi yang ada dalam proposisi dan diduga belum atau tidak diketahui oleh kawan atau lawan bicara karena tidak ada penyebutan sebelumnya di dalam wacana ataupun ketiadaan konteks yang berhubungan dengan wacana itu. Informasi latar merupakan informasi yang diperkirakan sudah diketahui oleh kawan bicara berdasarkan konteks yang ada atau karena informasi tersebut memang sudah ada rujukannya di dalam wacana.

Status informasi ditentukan tidak oleh struktur wacana tetapi oleh penutur. Tidak ada juga kaidah-kaidah untuk menentukan status informasi baru dan latar bagi penutur. Namun, ada keteraturan-keteraturan dan juga penekanan intonasi 

 

Daftar Pustaka

Agus, Saefullah. 2010. Wacana. http://www.scribd.com/doc/40515927/wacana.  Diunduh 27 Maret 2011.

Brown dan Yule. 1996. Analisis Wacana (terjemahan). Jakarta: PT Gramedia Pustaka utama.

Lubis, A. Hamid Hasan. 1993. Analisis Wacana Pragmatik. Bandung:Angkasa.

Mulyawan, I Wayan. 2011. Struktur Wacana Iklan Media Cetak Kajian Struktur Van Djik.  Jurnal. http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/4%20i%20wyn%20mulyawan%20edited-revision.pdf.  Diunduh 20 Maret 2011.

2011.  “Putra Khadafi Dikabarkan Tewas”.  http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/388719/. Diunduh 16 Maret 2011.

 

 Lampiran

Putra Khadafi Dikabarkan Tewas

 


TRIPOLI – Salah satu putra Pemimpin Libya Muammar Khadafi, Khamis kemarin dikabarkan tewas saat serangan udara di ibu kota Tripoli. Menurut surat kabar Arab, putra keenam Khadafi itu tewas saat seorang pilot Libya bunuh diri menabrakkan pesawatnya ke Kompleks Bab el-Aziziya yang juga kediaman Khadafi.

Namun, laporan itu disangkal Pemerintah Libya. Sejumlah pemberitaan lain menyebut kabar tewasnya Khamis merupakan bagian dari propaganda pasukan pemberontak. “Khamis tewas akibat luka bakar yang dialaminya setelah dibawa ke sebuah rumah sakit di Tripoli,” tulis laman Arabian Business News kemarin. Anak keenam Khadafi itu dilaporkan tewas pada Sabtu malam pekan lalu. Berita kematiannya baru diperoleh hari ini. Insiden bunuh diri terjadi pada Selasa, 15 Maret 2011. 

Pilot pesawat itu menolak untuk menyerang warga sipil dan melakukan aksi bunuh diri dengan menyerang pasukan Khamis. Setelah penyerangan tersebut, Khamis yang mengalami luka bakar parah langsung dilarikan ke rumah sakit di Tripoli. Namun, upaya pertolongan gagal. Pada Sabtu (15/3), Khamis menghembuskan nafas terakhirnya. Khamis diketahui jebolan Akademi Militer Tripoli dan Akademi Militer Frunze, Moskow, Rusia. Selama krisis berlangsung, Khamis diketahui sebagai panglima Brigade Ke-32 yang bertugas menggempur demonstran di Libya. Kesatuan beranggotakan 1.000 orang yang dinamakan Brigade Khamis inilah yang dianggap bertanggung jawab atas kematian puluhan warga sipil pada gempuran terhadap pemberontak di berbagai kota dinegara tersebut. 

Sementara itu, serangan intensif yang dilakukan pasukan sekutu ke kediaman Khadafi di Tripoli juga belum berhasil melumpuhkan Khadafi. Hingga kemarin pemimpin yang mengendalikan tampuk kekuasaan Libya setelah menggulingkan Raja Idris melalui Revolusi Al Fatah pada 1969 itu dikabarkan masih selamat. Khadafi dikabarkan bersembunyi di bungker rahasia yang dijaga 40 pasukan Garda Amazon. Pasukan perempuan tersebut bersenjata lengkap. Sehari sebelumnya, pascaserangan ke gedung pemerintahan di kompleks kediaman Khadafi di Bab el-Aziziya,Tripoli, Khadafi bahkan sempat menggelar pidato yang ditayangkan di televisi. Khadafi yang tidak terlihat di publik sejak serangan udara pasukan koalisi diduga melarikan diri ke Sabha, sebuah kota gurun yang dihuni 130.000 orang yang semuanya sangat setia pada pemimpin Libya tersebut. 

Pemimpin yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Libya dan Akademi Militer Benghazi itu dilaporkan dikawal pasukan khusus dari Chad, Nigeria, dan Eropa Timur, untuk memberikan perlindungan penuh kepadanya. Pasukan itulah yang setiap menit selalu menjaganya. Meski ada kabar bahwa Khadafi masih berada di Libya, beberapa negara Barat yakin dia akan keluar dari negaranya saat kekalahan di pihaknya tinggal hitungan hari. “Jika melarikan diri, Khadafi diduga akan menuju negara sahabatnya seperti Zimbabwe,di mana Robert Mugabe mengatakan bahwa dia akan menyambut pemimpin Libya tersebut,”

Negara lain yang diduga menjadi tujuan Khadafi ialah Venezuela serta negara-negara Afrika seperti Chad dan Nigeria. Presiden Venezuela Hugo Chavez merupakan sahabat Khadafi yang saling memberi dukungan. “Dugaan inilah yang menjadi alasan mengapa pesawat tempur Barat membombardir sebuah bandara yang dekat dengan perbatasan di Libya. Bandara itu digunakan pesawat pribadi milik keluarga Khadafi dan akan menjadi cara ideal baginya untuk melarikan diri. Serangan itu menggunakan bom kendali laser dari pesawat tempur Prancis dan Inggris,” papar mirror.co.uk. Khadafi sempat muncul dengan berbicara melalui telepon yang disiarkan televisi Libya sebelum serangan udara pasukan koalisi. 

Dia sengaja tidak langsung muncul di kamera televisi karena hal itu dapat menunjukkan keberadaannya. “Dia diduga telah keluar dari Tripoli untuk menyelamatkan diri dari serangan bom pasukan tempur sekutu. Namun, sejumlah putra Khadafi masih berada di ibu kota untuk membantu logistik,” Putra-putra Khadafi yang masih di Libya ialah Khamis, 32, yang dikabarkan tewas di kompleks kediaman ayahnya. Kakak kandungnya, Saif al- Islam, 38, juga diduga masih berada di Tripoli. Sedangkan Saadi Khadafi, 37, merupakan mantan pemain sepak bola profesional di Malta dan Italia, kini memimpin pasukan khusus Libya.  Syarifudin Mutassim Gaddafi, 33, diduga memiliki posisi terkuat di antara empat saudara kandungnya karena memegang posisi Penasihat Keamanan Nasional Libya.   

Posted: 8 May 2011 in Tak Berkategori

Tes Berbicara, Tes Membaca, Tes Menulis, Dikte, Tes Cloze, dan Tes C1

 Tresiana Sari Diah Utami2

 1.      Pendahuluan

Tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh anak atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi anak tersebut, yang dibandingkan dengan nilai yang dicapai anak-anak lain atau dengan nilai standar yang ditetapkan.

Definisi di atas bila dikaitkan dengan pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas, maka tes adalah suatu alat yang digunakan oleh pengajar untuk memperoleh informasi tentang keberhasilan peserta didik dalam memahami suatu materi yang telah diberikan oleh pengajar.

Tes bahasa merupakan bagian dari sebuah rangkaian pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa tersebut yang nantinya akan megarahkan bentuk tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Selain itu, atas dasar hasil tes, dapat diperoleh informasi tingkat penguasaan hasil belajar siswa. Apakah seorang siswa telah mencapai tingkat penguasaan bahasa yang cukup terhadap materi belajar, selain itu dapat juga diketahui tentang masalah dan kesulitan yang dialami siswa dalam belajar bahasa. Hal ini dapat dilihat dari jawaban atas pekerjaan siswa yang salah yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Menurut Djiwandono (2008:114—135), tes bahasa yang berdasarkan sasarannya, yaitu kemampuan atau komponen bahan mana yang dijadikan fokus pengukuran tingkat penguasaannya. Tes bahasa dapat dikategorikan sebagai tes yang sasarannya adalah kemampuan bahasa, yaitu (1) tes kemampuan menyimak, (2) tes kemampuan berbicara, (3) tes kemampuan membaca dan (4) tes kemampuan menulis.

Tes yang sasarannya komponen bahasa seperti (5) tes kemampuan melafalkan, (6) tes kemampuan kosakata, dan (7) tes kemampuan tata bahasa, karena sasaran utamanya adalah tingkat penguasaan kemampuan bahasa, dan tingkat penguasaan melafalkan atau penguasaan tata bahasa dan sebagainya.

Lebih lanjut Djiwandono mengemukakan, selain tes kemampuan bahasa dan tes unsur bahasa, masing-masing dengan berbagai jenis dan variasi tesnya, di dalam kelompok tes bahasa secara lugas dapat dimasukkan salah satu dari kedua kelompok tes bahasa itu. Misalnya, sasaran utama tes kemampuan membaca adalah kemampuan membaca. Demikian pula halnya dengan penguasaan dan kemampuan tata bahasa yang merupakan sasaran utama dari tes bahasa. Sementara itu, terdapat tes bahasa yang tidak dapat dengan lugas dikaitkan dengan salah satu dari kelompok tes bahasa tersebut. Jenis tes terrsebut dimasukkan ke dalam kelompo tes bahasa khusus, meliputi Dikte, Tes Cloze, dan Tes-C. Makalah sebelumnya telah dipaparkan tes menyimak. Makalah ini membahas tentang  Tes Berbicara, Tes Membaca, Tes Menulis, Dikte, Tes Cloze, dan Tes-C.

2.      Tes Kemampuan Berbicara

Berbicara merupakan aktivitas kedua dalam berbahasa yang dilakukan manusia setelah mendengarkan. Tes kemampuan berbicara dimaksudkan untuk mengukur tingkat kemampuan mengungkapkan diri secara lisan. Tingkat kemampuan berbicara ini ditentukan oleh kemampuan untuk mengungkapkan isi pikiran sesuai dengan tujuan dan konteks pembicaraan yang sedang dilakukan, bagaimana isi pikiran disusun sehingga jelas dan mudah dipahami, dan diungkapkan dengan bahasa yang dikemas dalam susunan tata bahasa yang wajar, pilihan kata-kata yang tepat, serta lafal dan intonasi sesuai dengan tujuan dan sifat kegiatan berbicara yang sedang dilakukan. Berikut akan dicontohkan berbagai bentuk tes kompetensi berbicara. Akan tetapi, tugas-tugas yang ditekankan pada tugas-tugas pragmatik pragmatik atau otentik, sedangkan tugas-tugas yang bersifat diskret atau mungkin integrative sengaja ditinggalkan. Tugas-tugas tes pragmatik dan otentik menghendaki peserta peserta didik telah menguasai tahap elementer dalam suatu bahasa, paling tidak sudah dapat mempergunakan bahasa itu untuk aktivitas berbicara. Dalam tugas berbicara otentik terdapat dua hal pokok yang tidak boleh dihilangkan, yaitu benar-benar tampil berbicara dan isi pembicaraan mencerminkan kebutuhan realitas kehidupan (bermakna). Peserta didik tidak sekedar ditugasi untuk berbicara (mempergunakan bahasa secara lisan) melainkan juga menyangkut isi pesan yang dijadikan bahan pembicaraan atau dengan kata lain berbicara dlam konteks yang jelas. Konteks meliputi : siapa yang berbicara, situasi pembicaraan, isi dan tujuan pembicaraan, dll. (Nurgiyantoro, 2010:397—400).

a.      Berbicara Berdasarkan Gambar

Media gambar dapat dijadikan rangsang pembicaraan yang baik. Rangsang berupa gambar ini baik dipergunakan untuk anak-anak usia sekolah dasar dan pembelajar bahasa asing tahap awal. Akan tetapi, dapat juga digunakan untuk tingkat yang lebih tinggi tergantung pada keadaan gambar yang dipergunakan itu sendiri. Rangsang gambar yang dapat dipakai sebagai rangsang berbicara dapat dikelompokkan ke dalam gambar objek  dan gambar cerita.

1)      Gambar Objek

Gambar objek adalah gambar yang masing-masing memiliki nama satu kata dan merupakan gambar-gambar lepas yang antara satu dengan yang lain kurang berkaitan. Gambar objek dapat dijadikan rangsang berbicara  untuk peserta didik tingkat awal, misalnya taman kanak-kanak, atau pembelajar bahasa asing tingkat pemula masih dalam tahap melancarkan lafal bahasa dan memahami makna kata. Mereka sekedar menyebutkan atau menemukan nama-nama gambar tersebut karenanya tidak pragmatik. Tugas yang diberikan tidak bermakna karena tidak bermakna dalam kaitannya dengan situasi konteks (Nurgiyantoro, 2008:402-403).

Contoh :

Siapa nama hewan di samping ini …

2)      Gambar Cerita

Gambar cerita adalah rangkaian gambar yang membentuk sebuah cerita. Ia mirip komik atau buku gambar tanpa kata (wordless picture), yaitu buku-buku gambar cerita yang alurnya disajikan lewat gambar-gambar. Gambar-gambar tersebut berisi suatu aktivitas, mencerminkan maksud, atau gagasan tertentu, bermakna, dan menunjukkan situasi konteks tertentu. Untuk menceritakannya diberikan nomor urut  atau dapat pula tanpa nomor agar peserta didik mampu menemukan logika urutannya sendiri.

Tugasnya menceritakan makna gambar atau menjawab pertanyaan terkait. Tugas-tugas pragmatik untuk berbicara bedasarkan gambar yang disediakan dapat dengan cara-cara sebagai berikut (Nurgiyantoro, 2010:405-406) :

a)      Pemberian Pertanyaan

Diajukan pertanyaan-pertanyaan yang dengan mudah dijawab karena memang memang hanya itu jawabannya. Misalnya, pertanyaan yang dimulai dengan siapa yang menanam padi? Atau apa yang ditanam oleh petani?. Jawabannya telah jelas yaitu petani dan padi. Jawaban peserta didik kemungkinan akan berbeda-beda. Untuk itu diperlukan kriteria jawaban yang tepat. Oller dikutip Nurgiyantoro (2008:405) mengemukakan bahwa penilaian dapat dilakukan secara terpisah yaitu dari segi ketepatan (struktur) bahasa dan kelayakan konteks.

b)     Bercerita

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan di atas hanya menuntut peserta didik untuk memberikan jawaban yang sesuai yang biasanya hanya terdiri dari satu kalimat. Peserta didik  diminta untuk mengungkapkan kemampuan berbahasa dan pemahaman kandungan makna secara logis yaitu meminta siswa bercerita sesuai gambar yang disediakan. Tugas ini dilakukan dalam tes proses, guru diminta menuliskan kesalahan-kesalahan berbahasa anak sehingga dapat dibetulkan kemudiannya. Guru tidak diperbolehkan memotong pembicaraan peserta didik agar mereka tidak terganggu dan mematikan keberaniaannya. Rubrik  penilaian yang digunakan sebagai berikut.

Tabel 2.1

No

Aspek yang Dinilai

Tingkat Capaian Kinerja

1

2

3

4

5

1 Kesesuaian dengan gambar
2 Ketepatan logika urutan cerita
3 Ketepatan makna keselurruhan cerita
4 Ketepatan kata
5 Ketepatan kalimat
6 Kelancaran
                Jumlah Skor :  

 b.      Bercerita Berdasarkan Rangsang Suara

Tugas berbicara berdasarkan rangsang suara yang lazim dipergunakan adalah suara yang berasal dari radio atau rekaman yang sengaja dibuat untuk maksud itu. Misalnya, siaran radio, sandiwara, atau program-program lain. Kegiatan seperti ini masih banyak digunakan dalam tidak sekolah dasar. Namun, dapat juga digunakan dalam tingkat menengah pertama disesuaikan dengan kesulitan dalam memahami bacaan. Tugas yang dapat diberikan misalnya, dengarkan siaran sandiwara berikut ini, kemudian tuliskan hal-hal penting. Setelah itu ceritakan kembali di depan kelas. Kegiatan berbicara seperti ini sering digunakan dalam tingkat dasar. Rubrik  penilaian yang digunakan sebagai berikut.

Tabel 2.2

No

Aspek yang Dinilai

Tingkat Capaian Kinerja

1

2

3

4

5

1

Kesesuaian isi pembicaraan

2

Ketepatan logika urutan cerita

3

Ketepatan makna keseluruhan cerita

4

Ketepatan kata

5

Ketepatan kalimat

6

Kelancaran
       Jumlah Skor :  

Namun, ada beberapa penulis buku yang menuliskan hal yang ditekankan adalah menyimak. Hal ini dikarenakan, kompetensi menyimaklah yang lebih dominan. Namun, kembali ke guru yang menekankan kompetensi yang akan dinilainya.

c.       Bercerita Berdasarkan Rangsang Visual dan Suara

Nurgiyantoro (2010;408—410) mengemukakan bahwa bercerita berdasarkan rangsang visual dan suara merupakan gabungan antara berbicara berdasarkan gambar dan suara di atas. Media yang digunakan misalnya siaran televisi, video, atau berbagai bentuk rekaman sejenis. Tugas bentuk ini terlihat lebih didominasi dengan kompetensi menyimak, namun juga terdapat bentuk-bentuk lain yang memerlukan pengamatan dan pencermatan seperti gambar, gerak, tulisan, dan lain-lain yang terkait langsung dengan unsur suara dan secara keseluruhan menyampaikan suatu kesatuan informasi.

Tugasnya dapat berupa : Cermatilah siaran televisi berikut. Catatlah hal-hal penting kemudian ceritakan kembali di dalam kelas. Penilaian yang digunakan hampir sama dengan berbicara berdasarkan rangsang suara tetapi dalam hal ini ditambahkan ketepatan detil peristiwa.

d.      Bercerita

Kemampuan berbicara yang berbentuk berbicara dapat dilakukan dengan cara meminta  untuk mengungkapkan sesuatu (pengalamannya atau topik tertentu). Hampir saama dengan tes berbicara terhadap rangsang. Namun, cakupannya lebih luas. Ia dapat berupa rangsang apa saja tergantung perintah guru. Misalnya, berbagai cerita fiksi, beberapa pengalaman, dan lain-lain. Dapat berupa tugas menceritakan kembali teks atau cerita. Bercerita berdasarkan isi buku banyak dilakukan guru bahkan hingga tingkatan pendidikan tinggi. Untuk tingkatan tinggi bercerita mencakup laporan secara lisan terhadap buku yang dibaca. Tugas bercerita ini dapat berkaitan dengan kompetensi menulis. Rubrik  yang dapat digunakan hampir sama dengan yang digunakan berbicara terhadap rangsang. Namun, terdapat tambahan aspek ketepatan penunjukan detil cerita. Rubrik  pun dapat dibuat sendiri oleh guru berdasarkan bahan tugas yang diberikan (Nurgiyantoro, 2010:409-410).

e.       Wawancara

Dipakai untuk mengukur kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi. tes ini bisa dipakai apabila memiliki kemampuan berbahasa yang cukup mewadahi sehingga memungkinkan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya dalam bahasa itu.

Masalah yang ditanyakan dalam wawancara dapat menyangkut beberapa hal tetapi hendaknya disesuaikan dengan tingkat pengalaman peserta uji. Misalnya usia, sekolah, dan kemampuan berbahasa. Anak sekolah dapat dimulai dengan berapa usiamu, di manakah kamu tinggal, dll. Anak  dalam tingkat menengah dapat digunakan pertanyaan seandainya anda menjadi X, apa yang Anda lakukan, bagaimanakah sikap Anda setelah melihat hal tersebut, dll. Kemudian untuk tingkatan yang lebih tinggi dapat menggunakan pertanyaan, setujukah Saudara terhadap pandangan itu dan paparkanlah alasannya, dll.

Dalam tahap sekolah dasar, diajukan pertanyaan yang mencakup pengetahuan sederhana yang tidak memerlukan penjabaran yang luas. Semakin tinggi tingkatan maka semakin luas pemaparan dalam menjawab pertanyaan yang diajukan.

Media bacaan dan rekaman dapat digunakan sebagai rangsang. Misalnya dapat diajukan pertanyaan, permintaan pandangan, pendapat, sikap, atau sesuatu yang lain berdasarkan bacaan atau rekaman. Namun, penggunaan media tersebut memiliki kelemahan, salah satunya ditakutkan terjadi kesalahpahaman dalam menafsirkan bacaan atau rekaman, dll. penggunaan media ini hanya tepat jika digunakan untuk tingkat lanjut. Selain itu, teknik wawancara ini juga memiliki kelemahan dalam penilaian karena adanya penilaian subjektif pada pihak penilai. Maka dibutuhkan beberapa model penilaian wawancara, misalnya model pengembangan guru sendiri dan model penilaian The Foreign Service Institute. Model penilain yang dikembangkan oleh guru dapat digunakan rubrik penilaian berikut.

Tabel 2.3

No

Aspek yang Dinilai

Tingkat Capaian Kinerja

1

2

3

4

5

1

Keakuratan dan keaslian gagasan

2

Ketepatan argumentasi

3

Keruntutan penyampaian gagasan

4

Ketepatan kata

5

Ketepatan kalimat

6

Kelancaran

7

Pemahaman
       Jumlah Skor :  

Model penilaian The Foreign Service Institute digunakan dalam menilai wawancara dalam bahasa kedua (asing, bahasa Inggris). Model ini mencakup tiga komponen yaitu tujuan, komponen, dan deskripsi kefasihan. Model ini hanya mencakup komponen kebahasaan saja dan tidak mengukur komponen gagasan (Nurgiyantoro, 2010:410—418).

f.       Berdiskusi dan Berdebat

Tugas berbicara ini paling tidak melibatkan dua orang pembicara. Tugas berbicara ini sering dilakukan para peserta didik di sekolah lanjutan menengah dan terlebih mahasiswa untuk melatih kemampuan dan keberanian berbicara.  Dalam aktivitas ini, peserta didik dilatih mengungkapkan gagasan, menanggapi gagasan sendiri dengan argumentasi secara logis dan dapat dipertanggungjawabkan. Rubrik penilai yang digunakan dapat digunakan dalam berwawancara tetapi dapat ditambahkan aspek ketepatan stile penuturan.

g.      Berpidato

Untuk melatih kemampuan peserta didik mengungkapkan gagasan dalam bahasa yang tepat dan cermat, tugas berpidato baik untuk diajarkan dan diujikan di sekolah. Baik tingkatan dasar, menengah, atau perguruan tinggi. Rubrik penilaian yang digunakan oleh guru dapat menggunakan aspek-aspek yang sebelumnya atau menggunakan/mengadaptasi rubrik penilaian yang dibuat oleh Jakobovits dan Gordon (Vallette dikutip Nurgiyantoro, 2010:421-422). Terdapat sedikit perbedaan yang dinilai oleh mereka. Mereka lebih menekankan aspek gagasan daripada kebahasaan yang mencakup kosakata dan struktur kalimat. Berikut disajikan rubrik penilaian yang telah diadaptasi,

Tabel 2.4

No

Aspek yang dinilai

Tingkat Capaian

1

Keakuratan informasi (sangat buruk-akurat sepenuhnya) 1   2   3   4   5   6   7   8   9   10

2

Hubungan antarinformasi (sangat sedikit-berhubungan sepenuhnya) 1   2   3   4   5   6   7   8   9   10

3

Ketepatan struktur (tidak tepat-tepat sekali) 1   2   3   4   5   6   7   8   9   10

4

Ketepatan kosakata (tidak tepat-tepat sekali) 1   2   3   4   5   6   7   8   9   10

5

Kelancaran (terbata-bata-lancar sekali) 1   2   3   4   5   6   7   8   9   10

6

Kewajaran urutan wacana (tidak normal-normal) 1   2   3   4   5   6   7   8   9   10

7

Gaya pengucapan (kaku-wajar) 1   2   3   4   5   6   7   8   9   10
       Jumlah Skor :  

3.      Tes Kemampuan Membaca

Sasaran tes kemampuan membaca adalah memahami isi teks yang dipaparkan secara tertulis. Tes membaca dapat berisi butir-butir tes yang menanyakan pemahaman rincian teks yang secara eksplisit disebutkan, rincian teks yang isinya terdapat dalam teks meskipun dengan kata-kata dan susunan bahasa yang berbeda, menarik kesimpulan tentang isi teks, memahami nuansa sastra yang terkandung dalam teks, memahami gaya dan maksud penulisan di balik yang terungkap dalam teks.

Tes kompetensi membaca adalah bagaimana mengukur kemampuan pemahaman isi pesan tersebut, yaitu apakah sekedar menuntut peserta didik memilih jawaban yang telah disediakan atau menanggapi dengan bahasa sendiri. Selama ini, bentuk soal yang lazim dipakai adalah merespon jawaban yang telah dibuat dan belum terlihat memaksimalkan tugas-tugas yang menuntut peserta uji mendayakan potensi yang dimiliki untuk merespon wacana dengan kemampuannya sendiri (Nurgiyantoro, 2008:377—392).

a.      Tes Kompetensi membaca dengan Merespon Jawaban

Soal ujian yang lazim dipilih adalah bentuk objektif pilihan ganda. Tes seperti ini hanya memnuntut peserta didik menjawab soal adalah dengan memilih opsi jawaban. Jenis tes ini dikenal sebagai tes tradisional. Soal yang dibuat dapat bervariasi tingkat kesulitannya tergantung tingkat kesulitan wacana dan kompleksitas soal yang bersangkutan. Di bawah ini dicontohkan soal-soalnya.

1)      Tes Pemahaman Wacana Prosa

Bahan ujian membaca pemahaman adalah wacana yang berbentuk prosa, fiksi atau nonfiksi, singkat atau panjang, dengan isi tentang berbagai hal menarik. Soal yang diberikan kepada peserta didik harus sesuai dengan bacaan atau pemahaman teks bacaan. Soal umum yang sering ditanyakan adalah tema, gagasan pokok, gagasan penjelas, makna tersurat dan tersirat, bahkan juga makna istilah dan ungkapan. Contohnya,

Keluarga kami hidup sederhana. Pakaian yang kami kenakan tidak ada yang berharga mahal. Lauk –pauk untuk makan sehari-hari pun hanya sekedar memenuhi kriteria gizi.Bila kami mengalami kejenuhan dalam bekerja, kami berekreasi dengan menciptakan permainan sendiri.

Gagasan pokok paragraf  tersebut adalah……………….

  1. hidup sederhana*
  2. pakaian tidak ada yang berharga
  3. lauk-pauk asal ada
  4. penciptaan hiburan untuk rekreasi

(http://zulmasri.wordpress.com/2008/02/26/soal-soal-latihan-un-bahasa-indonesia-smp/)

2)      Tes pemahaman Wacana Dialog

Tes membaca dalam wacana bentuk dialog dimaksudkan untuk mengukur pemahaman isi wacana. Wacana dialog banyak digunakan dalam realitas kehidupan, misalnya dalam pembicaraan telepon dan berbagai dialog yang melibatkan berbagai orang dalam berbagai profesi dalam berbagai konteks. Sehingga macam soal dapat dibuat bervariasi.

Contohnya,

Wartawan       : Visi GOPTKI apa, Bu?

Bu Tati            : Visi GOPTKI adalah membina anak usia dini, membentuk akhlak bangsa yang aktif, dinamis, dan kreatif.

                        Wartawan        : Mengapa anak-anak usia dini tersebut harus masuk TK?

                        Bu Tati            : Pendidikan itu di mulai sejak usia dini. Pada usia 0-8 tahun, anak harus diberi nutrisi mental atau pendidikan mental yang baik. Penyiapan mental usia dini ada yang formal yaitu Tk dan nonformal kelompok bermain

Pernyataan yang jawabannya terdapat dalam wacancara tersebut adalah…….

  1. Di mana wawancara tersebut berlangsung?
  2. Kapan wawancara itu berlangsung?
  3. Mengapa pewawancara berkepentingan tentang pendidikan usia dini?
  4. Bagaimana penjelasan Ibu Tati tentang pendidikan usia dini?*

3)      Tes Pemahaman Wacana Kesastraan

Pengambilan bahan biasanya mengutip sebagian teks yang secara singkat telah mengandung unsur tertentu yang layak untuk diteskan. Dalam banyak hal tes diambil dari teks-teks kesastraan tidak jauh beda dengan wacana yang bukan kesastraan. Kedua-duanya sama-sama terkait dengan pemahaman pesan, makna tersirat, makna ungkapan,dll. Contoh,

Bukan main lebih hati Bu Kasim waktu itu yang memikirkan nasib suaminya. Semua tetangga ikut bersedih ketika menyaksikan kejadian itu. Akan tetapi, mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Tentara Belanda bersenjata lengkap sedangkan penduduk tidak punya apa-apa untuk melawannya”. Tidak beberapa setelah kejadian itu, Guntarman pun pulang. Ia juga tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali menyimpan saja kesedihan dan dendam kesumat di dalam dadanya.

Kutipan novel tersebut menggunakan konflik….

a.  jasmani                                                                   c. Fisik

b.  batin*                                                                    d. Lahir

4)      Tes Pemahaman Wacana Lain : Surat, Tabel, dan Iklan

Selain jenis wacana di atas, ada sejumlah wacana penting lain yang juga banyak ditemukan, misalnya surat, tabel, diagam, iklan, slogan, telegram, dll. berbagai jenis wacana tersebut erat kaitannya denan kebutuhan hidup, maka mereka menjadi penting.

b.      Tes kompetensi Membaca dengan Mengkontruksi Jawaban

Jenis kedua tes membaca ini menuntut peserta didik untuk memahami wacana berdasarkan pemahamannya tersebut, mereka mengerjakan tugasnya. Tugas ini dapat menggali dan memaksimalkan potensi peserta didik untuk mengkreasikan dan mengkontruksi jawaban dengan bahasa pilihannya sendiri.

1)      Pertanyaan Terbuka

Guru memberikan pertanyaan berkaitan dengan teks bacaan yang harus dijawab oleh peserta didik. Pertanyaan bersifat memaksa mereka berpikir tingkat tinggi, analitis, sintesis, dan evaluatif. Contoh,

Sebanyak 30 nelayan asal kabupaten Indramayu, Jawa Barat, dikabarkan hilang di perairan Laut Jawa. Mereka merupakan awak dua kapal penangkapan ikan Sarijadi I dan Sarijadi II, yang rusak dihempas ombak dan mengalami kebocoran di tengah lautan.

Pertanyaan :

Apakah yang seharusnya disiapkan oleh para nelayan agar tidak terjadi kecelakaan?

2)      Menceritakan Kembali

Tes seperti ini sudah sering dilakukan. Untuk mengerjakan tugas ini, peserta didik harus memahami bacaan lebih saksama. Peserta didik bebas memilih bahasa, namun gagasan yang dikemukakan harus sesuai dengan isi pesan wacana tersebut. Rubrik penilaian yang dapat digunakan jika disajikan secara lisan,

Tabel 3.1

No

Aspek yang Dinilai

Tingkat Capaian Kinerja

1

2

3

4

5

1

Pemahaman isi teks

2

Pemahaman detil isi teks

3

Ketepatan diksi

4

Ketepatan struktur kalimat

5

Kebermaknaan penuturan

6

Kelancaran pengungkapan
  Jumlah Skor :  

Contoh tugas,

Bacalah dengan cermat bacaan di hadapan Anda, setelah ini ceritakan kembali dengan bahasamu sendiri isi wacana tersebut.

Bentuk tes membaca yang dipaparkan di atas dapat digunakan untuk semua tingkatan. Membeedakannya hanya tingkat kesulitan bacaan dan juga soal yang diajukan.

4.      Tes Kemampuan Menulis

Tes kemampuan menulis diselenggarakan dengan tujuan untuk mengukur tingkat penguasaan kemampuan mengungkapkan pikiran kepada orang lain secara tertulis. Pengukuran tingkat kemampuannya pada dasarnya mengacu pada relevansi isi, keteraturan penyusunan isi, dan bahasa yang digunakan. Penggunaan bahasa pada tes menulis lebih menekankan penyusunannya, karena waktu yang lebih longgar untuk memilih kata-kata dan menyusunnya dengan lebih tepat bahkan peluang untuk memperbaiki dan melengkapi apa yang kurang jelas.

Menulis diartikan sebagai aktivitas pengekspresikan ide, gagasan, pikiran atau perasaan ke dalam lambang-lambang kebahasaan  Kemampuan menulis yang merupakan keterampilan berbahasa produktif lisan melibatkan kemampuan : penggunaan ejaan, penggunaan kosa kata, penggunaan kalimat, penggunaan jenis komposisi, penentuan ide, pengolahan ide, pengorganisasian ide. Kesemua inilah yang diukur dalam kemampuan menulis.

Secara umum, bentuk tes yang digunakan dalam tes menulis dapat berupa tes objektif dengan berbagai variasinya (untuk tingkat ingatan dan pemahaman) dan tes subjektif dengan berbagai variasinya (untuk tingkat penerapan ke atas). Ragam bentuk tes subjektif yang digunakan dalam tes menulis dapat dipaparkan sebagai berikut (Nurgiyantoro, 2008:422—442).

1)       Menulis Berdasarkan Rangsangan Gambar

Bentuk tes menulis berdasarkan rangsangan visual dilakukan dengan cara disajikan gambar yang membentuk rangkaian cerita, dan peserta didik diminta untuk membuat karangan berdasarkan gambar yang telah diberikan. Gambar yang digunakan sebagai rangsang diberikan kepada murid sekolah dasar atau pelajar bahasa (bahasa target) pada tahap awal.

Contoh tugas :

Di bawah ini disediakan empat buah gambar yang membentuk sebuah cerita,

  1. Buatlah sebuah karangan berdasarkan gambar itu yang panjangnya kira-kira  satu halaman.
  2. Jangan lupa karangan harus diberi judul.

Rubrik penilaian yang digunakan dapat disamakan dengan rubrik penilaian berbicara berdasarkan gambar. Perbedaannya hanyalah saran yang digunakan untuk mengungkapkan bahasa, berikut rubrik yang dapat digunakan pada tabel 4.1,

No

Aspek yang Dinilai

Tingkat Capaian Kinerja

1

2

3

4

5

1 Kesesuaian dengan gambar
2 Ketepatan logika urutan cerita
3 Ketepatan makna keselurruhan cerita
4 Ketepatan kata
5 Ketepatan kalimat
6 Ejaan dan tata tulis
                Jumlah Skor :  

2)      Menulis Berdasarkan Rangsang Suara

Bentuk tes ini dilaksanakan dengan cara disajikan suara yang dapat berbentuk ceramah, diskusi, atau tanya jawab, baik yang berupa rekaman suara maupun langsung. Tugas yang diberikan kepada peserta didik berupa tugas untuk menulis berdasarkan pesan atau informasi yang didengarkannya melalui sarana rekaman atau radio.  Contoh tugas ;

Dengarkan siaran radio sandiwara yang telah direkam dengan baik. Anda boleh mencatat hal-hal penting. Setelah itu, Anda diminta untuk menceritakannya secara tertulis.

Rubrik penilaian yag digunakan hampir sama dengan penilain berbicara berdasarkan rangsang suara, yang membedakannya  pada aspek ke-6. Ejaan tata tulis dapat digunakan dalam penilaian berbicara ini.

3)         Menulis Berdasarkan Rangsang Visual dan Suara

Tugas bentuk ini terkait dengan kompetensi menyimak, namun juga terdapat bentuk-bentuk lain yang memerlukan pengamatan dan kencermatan seperti gambar, gerak, tulisan, dll. yang secara keseluruhan menyampaikan satu kesatuan iformasi. Tugasnya dapat berbunyi :

Cermatilah siaran televisi (siaran binatang) pada pukul 18.00 WIB. Catatlah hal-hal penting. Setelah itu, Anda diminta untuk menceritakan kembali hal yang Anda tonton ke dalam bentuk tulisan.

Rubrik penilaian yang dapat digunakan seperti pada berdasarkan rangsang dengan sedikit penambahan komponen pada ejaan dan tata tulis. Tes menulis berdasarkan rangsang, suara, dan rangsang suara dapat diterapkan untuk setiap jenjang pendidikan. Persoalan dan jenis pertanyaan yang diajukan disesuaikan dengan tingkat/jenjang pendidikan.

4)      Tes Menulis dengan Rangsangan Buku

Pada tingkat-tingkat sekolah yang lebih rendah (sekolah dasar), menengah pertama, dan menengah ke atas, menulis dengan rangsang buku lebih dimaksudkan untuk melatih peserta didik secara produktif menghasilkan bahasa. Termasuk mahasiswa bahasa asing dalam rangka menulis dalam bahasa target. Pada tingkat sekolah yang lebih tinggi, tugas menulis bukan lagi sebagai latihan, menulis dengan rangsang buku biasanya laporan buku untuk meningkatkan pemahaman terhadap isi buku yang bersangkutan.

Bentuk tes ini dilakukan dengan cara menyajikan teks bacaan, dan peserta didik diminta untuk membuat karangan berdasarkan teks yang telah dibacanya. Bentuk tugas yang harus dikerjakan peserta didik dapat berupa membuat ringkasan/rangkuman, membentuk resensi, atau membuat kritik.

Buku yang dijadikan rangsang dapat berupa buku fiksi dan nonfiksi. Tugas buku fiksi lebih banyak dipilih untuk melatih kemampuan  menulis karena menarik dan dilakukan dengan senang hati. Misalnya :

Tulislah kembali dengan bahasa sendiri buku Mutiara dari Sebuah Dusun yang Anda baca. Tugas tersebut biasanya dilakukan pada jenjang sekolah dasar dan tahap awal dalam jenjang sekolah menengah. Kemudian tugas untuk meringkas bacaan novel Ayat-ayat Cinta dapat dilakukan untuk jenjang yang lebih tinggi. Tugas menulis berdasarkan rangsang buku ini juga dapat berupa tugas membuat resensi.

Rubrik yang dapat digunakan : Tabel 4.2.

No

Aspek yang Dinilai

Tingkat Capaian Kinerja

1

2

3

4

5

1 Pemahaman isi buku
2 Ketepatan penunjukkan detil isi buku
3 Ketepatan argumentasi
4 Kebermaknaan keseluruhan tulisan
5 Ketepatan kata
6 Ketepatan kalimat
7 Ketepatan stile penulisan
8 Ejaan dan tata tulis
                Jumlah Skor :  

 

5)         Tes Menulis Laporan

Bentuk tes ini dilakukan dalam tahap tingkatan menengah, baik pertama maupun atas dengan cara meminta peserta didik untuk membuat laporan kegiatan yang pernah dilakukan (mengikuti khotbah jumat, mengikuti seminar/diskusi, mengikuti darmawisata, atau kegiatan perkemahan) atau kegiatan penelitian sederhana yang telah dilakukan. Salah satu bentuk tugas otentik dalam pembelajaran adalah kerja proyek. Peserta didik dilatih bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk menghasilkan sebuah karya tertentu. Salah satu hasil kerjanya berupa laporan tertulis dalam melakukan penelitian kecil  (menganalisis berita tentang pendidikan di sejumlah surat kabar). Peserta didik harus mampu bekerja sama dalam pembagian tugas, dan pemecahan masalah dalam berkelompok. Berikut rubrik penilaian yang dapat digunakan pada tabel 4.3:

No

Aspek yang Dinilai

Tingkat Capaian Kinerja

1

2

3

4

5

1 Pemahaman isi berita
2 Organisasi penulisan
3 Ketepatan analisis data dan menyimpulkan
4 Kebermaknaan keseluruhan tulisan
5 Ketepatan diksi
6 Ketepatan kalimat
7 Ketepatan stile penulisan
8 Ejaan dan tata tulis
                Jumlah Skor :  

6)         Tes Menulis Surat

Bentuk tes ini dilakukan dengan cara peserta didik diminta untuk menulis sebuah surat. Jenis surat yang ditulis hendaknya ditekankan pada surat-surat resmi atau penulisan surat yang menuntut penggunaan bahasa secara benar. Penilaian dapat menggunakan rubrik berikut ini :

Tabel 4.4.

No

Aspek yang Dinilai

Tingkat Capaian Kinerja

1

2

3

4

5

1 Ketepatan isi surat
2 Kelengkapan isi surat
3 Kepantasan format surat
4 Ketepatan kata
5 Ketepatan kalimat
6 Ejaan dan tata tulis
                Jumlah Skor :  

7)      Tes Menulis Berdasarkan Tema Tertentu

Bentuk tes ini dilakukan dengan cara  disajikan sebuah atau beberapa topik, tema, dan ada kalanya judul-judul yang dapat dipilih peserta didik kemudian diminta untuk membuat suatu karangan berdasarkan topik yang telah ditentukan. Jenis karangan dapat berupa fiksi dan nonfiksi. Penulisan nonfiksi berupa pemberian tugas mengarang yang harus memaksa peserta didik mencari bacaan, data, rujukan, atau hal-hal yang terkait baik yang diperoleh dari buku, kamus, internet, dll. misalnya, bertemakan “Bahaya Merokok”. Siswa diharuskan mencari data-data berdasarkan sumber-sumber yang empirik. Hal ini diharapkan adanya kemajuan datam tiap tingkat peserta didik dalam mengarang. Tes ini dapat diterapkan dalam tingkat menengah atas. Tingkat sekolah dasar dan menengah lebih banyak ke arah penulisan fiksi (kesastraan) sedikit yang mengulas mengenai penulisan nonfiksi. Rubrik penilaian yang dapat digunakan:

Tabel 4.5

No

Aspek yang Dinilai

Tingkat Capaian Kinerja

1

2

3

4

5

1 Isi gagasan yang dikemukakan
2 Organisasi isi
3 Tata bahasa
4 Gaya : pilihan struktur dan kosakata
5 Ejaan dan tata tulis
                Jumlah Skor :  

5.      Dikte

Dikte menyangkut lebih dari satu jenis kemampuan atau komponen bahasa dan menugaskan peserta tes untuk menulis suatu wacana yang dibacakan oleh seorang penyelenggara tes. Dalam penyelenggaraan dikte, seorang peserta tes hanya dapat menuliskan apa yang didengarkan dari pemberi dikte dengan benar apabila dia mampu mendengar dan memahami dengan baik wacana yang didiktekan (kemampuan menyimak). Apabila peserta tidak mendengarkan secara utuh, ada kalanya peserta tes menggunakan kemampuan bahasa yang lain berupa  kemampuan tata bahasa dan kosakata.

Tes dikte lebih banyak digunakan dalam tingkatan dasar. Dikte yang banyak digunakan di sekolah-sekolah mengikuti format biasa yang dapat digolongkan ke dalam dikte standar dan dikte sebagian. Dikte standar menggunakan teks standar yang telah dipilih sesuai dengan isi, jenis teks, panjang teks, dll. Teks dibaca tiga kali, pembacaan pertama dilakukam dengan kecepatan membaca biasa dan peserta tes hanya mendengarkan dengan seksama. Pembacaan kedua, dilakukan bagian demi bagian, penjedaan waktu digunakan peserta tes untuk menulis. Pembacaan ketiga, dilakukan kembali pembacaan seluruh teks dengan kecepatan biasa.

Dikte sebagian, merupakan gabungan dikte dan tes Cloze. Diawali dengan pembacaan teks secara keseluruhan. Perbedaannya adalah sambil mendengarkan pembacaan teks secara keseluruhan peserta tes memiliki teks tertulis yang sama dengan yang dibacakan, kecuali beberapa bagian yang sengaja dilesapkan. Bagian-bagian yang dilesapkan itu yang perlu diperhatikan baik-baik untuk dituliskan pada lembar khusus yang disediakan (http://arerariena.wordpress.com/category/bahasa/).

Misalnya :

Dikte Sebagian

Dengarkan baik-baik pembacaan teks berikut, sambil memperhatikan teks dihadapan Anda.

Kekayaan alam Minangkabau dan seni budayanya sangat mempengaruhi  (1)…………………….dengan pola yang mengangumkan. Sekalipun ragam hias tercipta dari alat yang amat sederhana serta (2) ……………………tetapi hasil tenunannya merupakan (3) ……………………Jadi, songket (4) ……………………, melainkan telah menjadi suatu bentuk seni rupa. Karena diproses dengan kecintaan dan (5) ……………………yang ramah terhadap lingkungan alam.

Jawaban :

(1)   Terciptanya berbagai ragam

(2)   Proses kerja menenun yang terbatas

(3)   Karya seni yang tinggi nilainya

(4)   Tidak hanya sekedar kain

(5)   Diangkat dari fantasi penciptnya

 6.      Tes Cloze

Cloze test yang dikembangkan oleh Taylor (1953) adalah sejenis tes dalam bentuk wacana dengan sejumlah kata yang dikosongkan (rumpang) dan pengisi tes diminta mengisi kata-kata yang sesuai di tempat yang kosong itu. Kebenaran isi jawaban akan dilihat dari naskah asli wacana tersebut (http://penchenk.blogspot.com/2009/01/cloze-test.html).

Tes Cloze bertujuan untuk mengukur tingkat penguasaan kemampuan pragmatik, yaitu kemampuan memahami wacana atas dasar penggunaan kemampuan linguistik dan ekstralinguistik. Pengukuran tingkat penguasaan kemampuan pragmatik itu dilakukan dengan menugaskan peserta tes untuk mengenali, dan untuk mengembalikan seperti aslinya, bagian-bagian suatu wacana yang telah dihilangkan.

Dalam prosedur cloze, kata-kata dihilangkan dari sebuah teks setelah pengenalan kalimat. Dasar penghilangan disusun dengan adalah rumus setiap kata ke-n,  biasanya antara kata ke-5, ke-7, dan seterusnya. Para peserta harus mengisi tiap yang dikosongkan/celah dengan mengisi kata yang mereka pikir telah dihilangkan.

Prosedur dan langkah-langkah dalam penggunaan cloze test adalah :

1)      menghilangkan kata pada urutan tertentu secara konsisten, tanpa membedakan jenis kata (the fixed-ratio method). Misalnya, apabila kata yang dihilangkan itu adalah kata yang ke-5, maka setiap kata yang kelima dihilangkan secara konsisten.

2)      menghilangkan kata pada urutan tertentu dengan ketentuan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan pembuat tes (the variables-fixed ratio). Misalnya, kata itu akan dihilangkan apabila termasuk kata benda atau kata kerja.

3)      menghilangkan kata pada urutan tertentu secara sistematis tetapiapabila kata pada urutan tertentu itu adalah nama tempat, nama diri, angka, tanggal, bulan, tahun, atau istilah, maka kata itu dilampaui dan dipilih kata berikutnya. (the modified fixed-ratio method).

Prosedur dan langkah-langkah dalam penggunaan tes cloze adalah :

  1. Ambil sampel (bagian awal, tengah, dan akhir). Uraian yang dipilih sebaiknya :
  • Narasi / wacana
  • Isinya suatu pemikiran yang utuh
  • Tidak mengandung banyak nama diri
  • Tidak mengandung banyak istilah baru
  1. Pilih kata-kata kurang lebih 250 kata.
  2. Biarkan kalimat pertama dan kalimat terakhir utuh
  3. Rumpangkan / bolongi pada kata kelima atau ketujuh, dll. secara konsisten
  4. Beri nomor pada setiap kata yang dibolongi
  5. Kumpulkan, dan beri skor (penilaian). Dengan pengkategorian :
    a.  50% benar = Mudah dipahami, dalam arti pembaca mengerti isi bacaan.

            Contoh :

TES KETERBACAAN

LKS BAHASA INDONESIA

UNTUK KELAS XII SEKOLAH MENENGAH ATAS

Petunjuk:

  1. Bacalah teks bacaan dibawah ini dengan teliti dan pahami isinya!
  2. Tulislah kata yang tepat (sesuai dengan kata yang terdapat dalam teks asli) pada bagian-bagian yang masih kosong yang terdapat dalam teks bacaan tersebut pada lembar jawaban yang tersedia
  3. Waktu 90 menit

 

Banyak Pupuk Bersubsidi Diselundupkan

Banyak pupuk urea bersubsidi yang diselundupkan ke negara tetangga sehingga pupuk langka di sejumlah daerah antara lain di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatra Utara.

“Kalau pupuk langka sama (1)………. tidak, tapi memang ada (2)………. di beberapa daerah akibat (3)………… yang pas-pasan karena produksi (4)……….. akibat pasokan gas yang (5)………..”, kata Dirut PT Pusri (6)………. menjadi induk BUMN produsen (7)………. , Zainal Soedjais, di sela-sela (8)…………. di Jakarta, kamis 29 (9)……….

Dijelaskannya, akibat pasokan pupuk (10)………… tersendat, pupuk untuk sektor (11)……….. yang diberi subsidi semakin (12)……….. yang merembes ke sektor (13)…………., seperti perkebunan, sehingga ada (14)………….. yang mengalami kelangkaan.

Harga (15)………. sektor pangan dan nonpangan (16)……… selisih Rp 200 – Rp (17)……….. per kilogram. Pemerintah dalam (18)……….. mendukung ketahanan pangan telah (19)………… subsidi pupuk urea kepada (20)………. sehingga harganya Rp 1.050 (21)……. kilogram.

Namun Sudjais tidak (22)………. memperkirakan berapa persen dari (23)……….. subsidi yang merembes ke (24)………… nonpangan (perkebunan dan industri) (25)………… sebenarnya kecil sekitar 600.000 (26)………. per tahun. Sedangkan untuk kebutuhan pupuk sektor pangan sekitar empat juta ton per tahun.

(http://fikriyansyah8.wordpress.com/2010/04/19/cara-membuat-dan-contoh-tes-cloze/).

Di atas merupakan tes cloze yang diberikan untuk anak tingkat menengah atas. Tes cloze ini dapat diberikan disemua tingkatan. Tingkat kesulitan soal hanya perlu disesuaikan dengan tingkat pendidikannya. Namun, kenyataan yang merisaukan tentang tingkat kesulitan tes cloze yang menunjukkan bahwa bahkan penutur asli tidak mudah untuk memperoleh skor maksimum. Penilaian jwaban peserta didik yang dapat dilakukan secara beragam yang menurut beberapa ahli tes bahasa merupakan sumber ketidakpastian yang menganggu. Maka, terdapat sebuah alternatif untuk menghindari ketidakpastian itu. Penyesuaian tes Cloze disebut Tes-C.

7.      Tes-C

Tes-C merupakan upaya untuk beranjak dari kesulitan dan keberatan terhadap tes cloze, terutama karena tingkat kesulitan yang tinggi untuk mencapai skor yang memadai. Dikembangkan di Jerman oleh C. Klein Braley (1983). Tes-C diselenggarakan dengan menggunakan wacana berupa teks bacaan sebagai bahan pokok. Perbedaannya, tes cloze menggunakan teks bacaan utuh sedangkan Tes-C menggunakan beberapa teks bacaan pendek .

Pelesapan kata pada Tes-C dilakukan dengan menerapkan formula kaidah serba dua. Kalimat pertama dan terakhir teks dibiarkan tetap seperti aslinya, tanpa pelesapan kata. Pelesapan kata baru dimulai oada kalimat ke-2, mulai dengan kata ke-2 dan setiap kata ke-2 berikutnya dengan melesapkan bagian ke-2 dari kata-kata tersebut (Djiwandono, 2008:149—151). Contoh,

Keluarga kami hidup sederhana. Pakaian (1) ya.. kami (2) kena… tidak (3) a.. yang (4) ber…… mahal. Lauk-pauk (5) un… makan (6) sehari-…. pun (7) ha… sekedar (8) meme…. kriteria (9) gi… Bila kami mengalami kejenuhan dalam bekerja, kami berekreasi dengan menciptakan permainan sendiri.

Kenyataan bahwa tes-C dirasakan peserta tes lebih sederhana dan kurang sulit  dibandingkan tes cloze. Secara umum perolehan skor pada tes C lebih tinggi daripada tes cloze.

 

8.      Penutup

Tes bahasa yang berdasarkan sasarannya, yaitu kemampuan atau komponen bahan mana yang dijadikan fokus pengukuran tingkat penguasaan-nya. Tes bahasa dapat dikategorikan sebagai tes yang sasarannya adalah kemampuan bahasa, yaitu (1) tes kemampuan menyimak, (2) tes kemampuan berbicara, (3) tes kemampuan membaca dan (4) tes kemampuan menulis.

Selain tes kemampuan bahasa tersebut, terdapat tes bahasa yang tidak dapat dengan lugas dikatitkan dengan salah satu dari kelompok tes bahasa tersebut. Jenis tes tersebut dimasukkan ke dalam kelompok tes bahasa khusus, meliputi Dikte, Tes Cloze, dan Tes-C. Berbagai macam tes bahasa yang telah dipaparkan, hampir semuanya dapat diterapkan dalam segala tingkatan. Namun, ada juga yang hanya diberikan pada tingkatan dasar, menengah, atau tingkatan atas.

Daftar Pustaka

Djiwandono, Soenardi. 2008. Tes Bahasa Pegangan Bagi Pengajar Bahasa. Jakarta: Indeks.

Fikriyansyah. 2010. Cara Membuat dan Contoh Tes Cloze.  http://fikriyansyah8.wordpress.com/2010/04/19/cara-membuat-dan-        contoh-tes-cloze/. Diunduh 3 Maret 2011.

Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Penilaian Pembelajaran Bahasa Berbasis                      Kompetensi. Yogyakarta : BPFE-Yogyakarta.

Nuzulia, Dian. 2010. Tes Bahasa.                                                                      (http://arerariena.wordpress.com/category/bahasa/) Diunduh 3 Maret 2011.

­­­­­­­­______. 2011.  Cloze Test .http://penchenk.blogspot.com/2009/01/cloze-test.html. diunduh 3 Maret 2011.


1. PENDAHULUAN

Bahasa sebagai alat komunikasi manusia diperoleh sejak kecil. Potensi  berbahasa seorang anak dibawanya sejak lahir. Sejak dini bayi telah berinteraksi di dalam lingkungan sosialnya. Menurut Chomsky (dalam Subyakto dan Nababan, 1992:77), setiap anak sejak lahir sudah dilengkapi dengan perangkat yang memungkinkannya memperoleh bahasa Chomsky menamakannya dengan Language Acquisition Device (disingkat LAD). Karena semua orang telah dilengkapi dengan LAD, seorang anak tidak perlu lagi menghafal dan menirukan pola-pola kalimat agar mampu menguasai bahasa itu. Ia akan mampu dengan sendirinya mengucapkan kalimat yang belum pernah didengar sebelumnya dengan menerapkan kaidah-kaidah tata bahasa yang secara tidak sadar diketahui melalui LAD.

Pemerolehan bahasa adalah proses penguasaan bahasa secara alamiah.  Dimaksudkan adalah proses penguasaan bahasa secara langsung melalui interaksi atau komunikasi dengan masyarakat pemakai bahasa itu. Dapat juga dikatakan bahwa pemerolehan bahasa merupakan proses penguasaan bahasa yang berlangsung secara alamiah karena pemerolehan bahasa pertama terjadi pada bayi sampai usia kurang lebih enam tahun (Purnomo, 2002:1).

Penelitian tentang pemerolehan bahasa pada umumnya dilakukan terhadap output yang dihasilkan anak, karena sulitnya mengamati bagaimana proses itu terjadi. Pemerolehan bahasa anak dapat dikatakan mempunyai ciri-ciri  kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit.

Pemerolehan bahasa kedua (second language acquisition) merupakan penguasaan bahasa setelah anak-anak atau orang dewasa menguasai suatu bahasa. Pemerolehan bahasa kedua dapat terjadi pada anak-anak dan dapat pula terjadi pada orang dewasa. Pemerolehan bahasa kedua  terjadi secara alamiah setelah seseorang menguasai suatu bahasa  sebagai bahasa pertamanya. Sifat alamiah yang merupakan ciri pemerolehan bahasa juga berlaku pada pemerolehan bahasa kedua ini (Purnomo, 2002:1—2).

Penelitian ini bebeda dengan penelitian yang telah dilakukan Dardjowijojo pada cucunya Echa ataupun Bloom yang menggunakan anaknya Allison dalam penelitiannya. Dardjowijojo melakukan penelitian pada cucunya dengan menggunakan desain longitudinal lebih kurang lima tahun lamanya. Desain longitudinal sendiri memiliki ciri utama period yang memerlukan jangka waktu panjang karena yang diteliti adalah perkembangan sesuatu yang dikaji dari satu masa hingga ke masa yang lain. Masa yang hanya selama satu hingga empat bulan lazimnya belum dapat memberikan gambaran bagaimana sesuatu itu berkembang dalam bahasa. Jumlah subjek biasanya juga lebih sedikit dan bahkan satu orang cukup (Soenjono, 2009:192).

Penelitian ini menggunakan desain cross-sexsional. Desain cross-sexional dilakukan pada masa tertentu. Dalam satu jangka masa. Subjeknya lebih dari satu orang, dan topiknya sudah ditentukan terlebih dahulu. Topik yang dipilih bukanlah topik yang menyangkut perkembangan (misalnya, bagaimana anak menguasai bentuk pasif) tetapi yang berlaku pada masa itu (misalnya, bagaimana anak umur 2 tahun dan 3 tahun menggunakan bentuk pasif) (Soenjono, 2009:193). Penelitian ini dilakukan pada 2 anak autis kelas 2 SD Yayasan Pelita Hati Palembang dengan jangka waktu ± 1 bulan dengan frekuensi pengamatan 5 kali seminggu (senin s.d. jumat) dengan lama pertemuan tiga jam, yaitu mulai pukul 13.00 s.d. 16.00 WIB. Penelitian berlangsung pada situasi formal dan informal. Penelitian dilakukan untuk mengetahui situasi dan kondisi ketika ujaran diproduksi.

Pemerolehan sintaksis diperoleh setiap anak dimulai dari satu kata, dua kata, atau multi kata.  Mulai dari kata hingga kalimat. Ujaran satu kata pada anak sudah muncul ketika mereka memasuki umur lebih kurang satu setengah tahun. Berikut contohnya:

(a)    [mam] ’makan’

(b)   [bem] ’mobil’

(c)    [bo’] ’bobo/ tidur’

dari contoh-contoh di atas tampak bahwa anak tersebut telah mampu memproduksi ujaran satu kata dan memilih suku terakhir untuk mewakili kata yang dimaksud. Contoh kata di atas, bagi anak sebenarnya kalimat penuh, tetapi karena dia belum dapat mengatakan lebih dari satu kata, dia hanya mengambil satu kata dari seluruh kalimat itu. Misalnya saja mam, kata mam dapat berfungsi saya ingin makan, saya tidak ingin makan, dll. Memasuki umur dua tahun atau lebih seorang anak telah mampu memproduksi ujaran yang lebih banyak. Selanjutnya ujaran dua kata dan ujaran multi kata telah mereka produksi dan menghasilkan komunikasi dua arah.

Setiap anak normal memiliki kemampuan memproduksi kata, frasa, klausa dan kalimat. Mereka memproduksi frasa, klausa, dan kalimat tersebut untuk mengekspresikan pikirannya. Kemampuan tersebut mereka peroleh dari kecil secara bertahap dari yang sederhana hingga yang sangat kompleks. Misalnya:

(a) mau makan dong ’ mau makan dong’

(b)   nak nyampak ’mau jatuh’

(c)    nak belanjo ’mau berbelanja’

dari contoh frasa diatas tampak bahwa seorang anak mampu memproduksi frasa yang terdiri dari dua kata dalam satu fungsi yaitu predikat. Frasa verbal yang mereka gunakan berfungsi untuk mengekspresikan keinginan mereka untuk makan,  jatuh, dan berbelanja. Setelah mereka mampu menghasilkan frasa, mereka pun memproduksi klausa selanjutnya kalimat. Berikut contoh ujaran yang diproduksi oleh anak berdasarkan hasil penelitian Helmi (2006:81):

(a)    Aku yang pendek. ’Aku yang pendek’.

(b)   Minum, buk Titik!. ’Minum, Bu Titik!’.

(c)    Ibuk, itu ciki siapo? ’Ibu, itu Chiki siapa?’.

dari contoh kalimat di atas sang anak memproduksi kalimat untuk mengekspresikan pikirannya baik berupa penyampaian berita, memerintah, ataupun bertanya kepada siapapun.

Berbeda dengan anak normal, anak yang tidak normal belum tentu mampu memperoleh sintaksis secara sempurna. Misalnya anak autis. Autis merupakan salah satu kelainan dalam berbahasa. Menurut Veskarisyanti (2008:26), autis merupakan salah satu gangguan pada anak yang ditandai munculnya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, komunikasi, ketertarikan pada interaksi sosial, dan perilakunya. Kelainan ini ditemukan pada otak kecil, yang berfungsi untuk melakukan proses daya ingat, berpikir, aktivitas sensoris, perhatian, dan belajar berbahasa. Setiap anak autis belum tentu mampu memproduksi bahasa seperti anak normal yang lainnya. Hal ini seperti pendapat yang dikeluarkan oleh Maulana (2007:13—14) bahwa ”Jika kita memerhatikan kemampuan berbicara para penderita autisme itu, maka separuh anak-anak penderita autis tidak memiliki kemampuan itu. Sementara itu, anak autis yang lainnya hanya dapat mengeluarkan suara gema-gema saja dari tenggorokan mereka”.

Tidak setiap anak autis mengekspresikan pikirannya secara verbal. Contohnya saat ia mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya. Ketika ia melakukan kesalahan, ia membutuhkan penghapus pensil yang ada di tangan gurunya tersebut. Si anak autis ini hanya mendekat dan tidak berbicara. Ketika ditanya ia tidak menjawab dan hanya memandang gurunya dengan tatapan kosong kemudian ia tertawa sendiri tanda ia menghayalkan sesuatu. Ketika disadarkan oleh gurunya dari lamunan tersebut, sang guru memberikan penghapus tersebut kepada anak autis tersebut dan ia langsung mengambilnya. Namun, pada saat ia tak terkontrol maka banyak ujaran yang mampu ia produksi. Peristiwa tersebut terjadi di Yayasan Pelita Hati yang merupakan tempat bersekolahnya anak autis ketika berlangsungnya proses belajar mengajar.

Anak slow learner (lambat belajar) juga memiliki kemampuan yang berbeda dengan anak normal dalam hal berbahasa. Berikut pendapat yang dikutip dalam situs Universitas Surabaya bahwa ”Anak dengan SL memiliki ciri fisik normal. Namun, saat di sekolah mereka sulit menangkap materi, responnya lambat, dan kosa kata juga kurang” (http://www.ubaya.ac.id/ubaya/news_wu_detail/400/Anak_Slow_Learner_bukan_Anak_Idiot.html). Anak  slow learner memiliki prestai belajar rendah (di bawah rata-rata anak pada umumnya) pada salah satu atau seluruh area akademik, tetapi mereka ini bukan tergolong anak terbelakang mental. Skor tes IQ mereka menunjukkan skor anatara 70 dan 90.  Dengan kondisi seperti demikian, kemampuan belajarnya lebih lambat dibandingkan dengan teman sebayanya (http://bppk.dindikbanten.org).

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengkaji pemerolehan bahasa khususnya sintaksis pada anak autis yang slow learner. Anak autis berbeda dengan anak biasa pada umumnya. Pemerolehan bahasanya pun berbeda. Berdasarkan pengamatan peneliti di Yayasan Pelita Hati Autis Plaju Palembang selama dua minggu dengan intensitas pertemuan sepuluh hari pada tanggal 10 s.d. 22 Agustus 2009, anak-anak yang berada di kelas 2 SD Yayasan Pelita Hati Palembang sebagian telah mampu memproduksi frasa, klausa, dan kalimat. Namun, ada sebagian juga yang belum mampu memproduksi frasa, klausa, dan kalimat. Kebanyakan anak autis tidak memiliki dorongan untuk mengungkapkan apa yang ingin ia ungkapkan secara verbal padahal secara kasat mata memandang bahwa ia mampu mengungkapkannya secara verbal.

Subyek penelitian diwakili oleh dua orang siswa kelas II Yayasan Pelita Hati Palembang yaitu Kevin dan Yudo Pangestu. Berikut adalah wawancara dengan orang tua dan dokter yang menangani mereka. Wawancara dilakukan tanggal 20 Agustus 2009. Kevin dilahirkan di Palembang 31 Agustus 1999 dan bertempat tinggal di jalan D .I Panjaitan Lrg. Kolam  Plaju. Pada usia 3 tahun sudah terlihat tanda-tanda Kevin mengalami autis. Sejak kecil Kevin senang bermain sendiri, melamun, tertawa, dan menangis tanpa sebab yang pasti. Ayah Kevin Charles Abdi yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil dan ibunya Meisya sebagai ibu rumah tangga. Selain autis kevin juga termasuk anak yang slow learner (lambat belajar). Kevin harus selalu diawasi oleh gurunya agar proses belajarnya berjalan dengan normal. Kevin termasuk dalam anak autis yang hiperaktif. Proses berkomunikasi Kevin masih terlihat satu arah karena Kevin lebih sering bermonolog. Ia telah mampu berkomunikasi dengan orang lain meskipun produksi kosakatanya masih belum sempurna, hanya sepenggal-sepenggal kata yang ia produksi dengan sempurna. Namun, ketika ia tidak melanggar ”diet”, ia akan mampu memproduksi kata melebihi biasanya. Bahasa yang digunakan Kevin sehari-hari adalah bahasa Palembang.

Subjek penelitian berikutnya adalah Yudo Pangestu. Yudo panggilan akrabnya. Yudo lahir di Inderalaya, 15 September 1999 dan bermukim di Komp. Persada Blok F/24. Yudo sejak umur 3, 5 tahun telah nampak mengalami autis ditandai dengan tidak adanya komunikasi. Sepintas dibandingkan dengan temannya Yudo tak terlihat seperti anak autis. Namun, ditelisik lebih jauh kita akan melihat lama-kelamaan Yudo terlihat  senang berimajinasi dengan diri sendiri. Selain autis Yudo juga termasuk anak yang slow learner (lambat belajar). Komunikasinya telah lancar seperti anak normal lainnya hanya memproduksi kosakatanya masih kurang sempurna atau cedal. Yudo harus selalu diawasi oleh gurunya agar proses belajarnya berjalan dengan normal seperti Kevin. Selain menuntut ilmu di sekolah khusus anak autis, Yudo juga bersekolah di sekolah umum anak normal. Ayah Yudo, Abrahim Ahmad adalah seorang anggota polisi dan ibunya Aminah seorang ibu rumah tangga. Bahasa yang digunakan Yudo sehari-hari adalah bahasa Palembang.

Dalam hal berbahasa, Ujaran yang diamati merupakan ujaran yang diproduksi saat belajar di dalam kelas dan istirahat makan siang karena pada waktu itu anak-anak mempunyai kesempatan yang cukup leluasa untuk berkomunikasi, baik dengan teman sepermainan, guru, maupun dengan orang-orang disekelilingnya. Berikut contoh hasil ujaran yang dihasilkan oleh beberapa anak autis yang slow learner.

1)      penghapus Udo ’penghapus Yudo

2)      modek ke Lahat……. ’mudik ke Lahat……..’

3)      Nama saya Kevin. ’Nama saya Kevin’

contoh frasa (1) di atas dikategorikan ke dalam frasa nominal subordinatif. Frasa nominal tersebut berstruktur nomina+nomina yang memiliki makna gramatikal ’milik’. Frasa tersebut diujarkan oleh Yudo ketika penghapus pensilnya akan diambil oleh Hafis. Klausa (2) Modek ke Lahat……. merupakan sepenggal dari kalimat yang diujarkan oleh Yudo ketika ia bercerita tentang bagaimana ia menghabiskan akhir pekannya. Klausa di atas  termasuk dalam kategori klausa preposisional. Klausa yang fungsi predikatnya yaitu modek diisi oleh frase preposisional yaitu ke Lahat. Contoh (3) yaitu Kalimat Nama saya Kevin merupakan kalimat yang diproduksi oleh anak autis yang berjenis eksesif/hiperaktif yaitu Kevin. Kalimat diatas digunakannya untuk memberikan informasi kepada peneliti.  Kalimat tersebut dikategorikan kalimat deklaratif karena selain memberikan informasi kalimat tersebut merupakan pernyataan yang diucapkan oleh Kevin.

Penelitian ini hanya dibatasi pada frasa, klausa, dan kalimat. Hal ini mengacu kepada pendapat banyak pakar pemerolehan bahasa yang menganggap bahwa pemerolehan sintaksis dimulai ketika kanak-kanak mulai dapat menggabungkan dua buah kata atau lebih (Chaer, 2002:183). Berdasarkan pendapat tersebut maka komponen kata yang merupakan satuan terkecil dari sintaksis tidak diteliti begitu juga dengan satuan wacana yang merupakan satuan tertinggi dalam hierarki sintaksis.

Penelitian pemerolehan bahasa anak telah diteliti oleh Dardjowidjojo (2000) pada cucunya Echa. Penelitian tersebut menggunakana desain longitudinal dengan masa waktu lebih kurang lima tahun lamanya. Pada pertumbuhan bahasa Echa terdapat Perkembangan sintaksis yang mengikuti kecenderungan universal, tetapi ada cukup banyak yang menyimpang atau tepatnya berbeda dari pemerolehan bahasa pada anak-anak, khususnya anak-anak yang di Barat.

Indrawati dan Oktaria (2003) juga meneliti pemerolehan bahasa tehadap empat orang siswa TK Pembina Bukit Besar Palembang. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ada ciri-ciri tertentu untuk menandai fungsi ujaran, yaitu ciri verbal dan nonverbal.

Penelitian mengenai pemerolehan sintaksis pernah dlakukan oleh Helmi pada tahun 2006 dengan skripsinya yang berjudul ”Pemerolehan Sintaksis terhadap Anak Play Group Kiddy Club Plaju Palembang”. Penelitian ini menunjukkan adanya beberapa frasa dan kalimat yang muncul dalam ujaran anak tersebut. Selain itu, kalimat yang muncul adalah kalimat tunggal dan kalimat majemuk..

Anak autis juga pernah menjadi objek penelitian yang dilakukan oleh Maruti (2009). Maruti meneliti pemerolehan bahasa anak autis di Yayasan Pelita Hati. Hasilnya dua anak penderita autis yang berjenis hiperaktif atau eksesif, mampu menguasai ketujuh fungsi bahasa dan menunjukkan bahwa tidak semua pola interaksi fungsi bahasa yang dikemukakan Halliday terpenuhi.

Perbedaan antara penelitian sebelumnya yaitu terletak pada objek penelitian dan fokus kajiannya. Objek penelitan adalah pada jenis kelainan autis tersebut. anak autis tersebut tidak hanya semata autis hiperaktif ’murni’ tetapi anak tersebut juga mengalami slow learner (lambat belajar). slow learner (lambat belajar) merupakan kelainan pada kemampuan proses belajar anak. Anak memiliki kecenderungan untuk dipaksa dalam menangkap pelajaran. Fokus kajiannya pun tak semata frasa dan kalimat saja tetapi klausa juga dikaji dalam penelitian ini.

 

2. Masalah

Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pemerolehan sintaksis anak autis Yayasan Pelita Hati Palembang, khususnya:

  1. Bentuk-bentuk frase apa sajakah yang diproduksi anak autis Yayasan Pelita Hati Palembang?
  2. Bentuk-bentuk klausa apa sajakah yang diproduksi anak autis Yayasan Pelita Hati Palembang?
  3. Bentuk-bentuk kalimat apa sajakah yang diproduksi anak autis Yayasan Pelita Hati Palembang?

 

3. Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemerolehan sintaksis anak autis Yayasan Pelita Hati Palembang, khususnya:

  1. Mendeskripsikan pemerolehan bentuk-bentuk frasa anak autis Yayasan Pelita Hati Palembang.
  2. Mendeskripsikan pemerolehan bentuk-bentuk klausa anak autis Yayasan Pelita Hati Palembang.
  3. Mendeskripsikan pemerolehan bentuk-bentuk frasa kalimat anak autis Yayasan Pelita Hati Palembang.

 

4. Manfaat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan secara teoretis dan praktis. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai penyumbang bagi teori pemerolehan bahasa khususnya sintaksis, yaitu memperkuat teori yang ada. Secara praktis, penelitian ini bermanfaat bagi guru. Khusunya guru sekolah khusus anak autis. Dimana diharapkan mampu membantu guru dalam memperlancar proses belajar mengajar. Guru dapat membantu siswa autis yang memiliki kesulitan dalam memproduksi bahasa khususnya frasa, klausa, dan kalimat agar proses berbahasa anak autis tersebut menjadi lebih baik dan sempurna.

 

5.  TINJAUAN PUSTAKA

5.1 Pemerolehan Bahasa Pertama dan Bahasa Kedua

Pemerolehan bahasa pertama memang bersifat primer, paling sedikit dalam dua hal, dari segi urutan dan dari segi kegunaan  (Tarigan, 1988:84). Istilah pemerolehan bahasa (language acquisition) dibedakan dengan belajar bahasa (language learning). Pateda (1990:42) menyatakan bahwa psikologi dewasa ini cenderung menggunakan istilah pemerolehan bahasa (language acquisition) daripada belajar bahasa (language learning). Beberapa ahli berpendapat bahwa perbedaan antara pemerolehan dan belajar bahasa terletak pada proses penguasaan bahasa itu. Istilah “pemerolehan” digunakan dalam penguasaan bahasa pertama oleh anak-anak, sedangkan istilah “belajar” digunakan oleh orang-orang yang ingin menguasai bahasa kedua.

Bahasa pertama adalah bahasa yang digunakan anak sejak kecil. Pemerolehan bahasa pertama terjadi apabila anak sejak semula tanpa bahasa dan selanjutnya memperoleh bahasa. Menurut Purnomo (1996:1), “Pemerolehan bahasa pertama adalah pemerolehan bahasa yang terjadi pada awal kehidupan anak pada umumnya”. Pada umumnya, pemerolehan bahasa pertama terjadi pada bayi sampai usia kurang lebih enam tahun.

Pemerolehan bahasa kedua adalah pemerolehan bahasa secara sadar dan alamiah setelah seseorang memperoleh bahasa pertama. Prose pemerolehan bahasa kedua pada dasarnya memiliki persamaan dengan proses pemerolehan bahasa pertama. Penguasaan bahasa pertama menunjukkan persamaan atau kemiripan dengan proses pemerolehan bahasa pertama merupakan suatu proses yang secaratidak sadar dialami oleh semua orang. Namun, proses mempelajari bahasa kedua merupakan proses tersendiri yang membutuhkan perhatian khusus. Adapun persamaannya mencakup strategi kognitif yang sama, yakni pemelajar mencari keteraturan susunan kata demi kata, bergerak dari permasalahan yang sederhana sampai kompleks dalam hal perkembangan sintaksis, membuat generalisasi bentuk-bentuk leksikal dan morfologis, dan juga menafsirkan apa-apa yang tidak diketahui dengan berdasarkan pada hal-hal yang sudah diketahui. Perbedaan antara kedua proses tersebut adalah berkaitan dengan aspek linguistik, aspek sosial, dan aspek psikologis (Pramuniati dalam Helmi, 2006:8).

Beberapa ahli bahasa membagi tahap-tahap perkembangan bahasa ke dalam tahap pralinguistik dan tahap linguistik. Akan tetapi, tahap pralinguistik tidak dapat dikatakan bahasa permulaan karena bunyi-bunyi seperti tangisan dan rengekan dikendalikan oleh rangsangan (stimulus) semata dan tidak mengandung makna. Selaras dengan teori pemerolehan bahasa anak, penguasaan sintaksis berlangsung secara bertahap satu kata, dua kata, dan tiga kata atau lebih. Dalam bahasa Barat seperti Bahasa Inggris, ujaran satu kata (one world ulterancer) adalah sama dengan ujaran satu kata dalam Bahasa Indonesia karena kebanyakan hal, kata dalam Bahasa Indonesia karena kata dalam Bahasa Indonesia pada umumnya adalah dwisuku atau bahkan polisuku (Dardjowijojo, 2000:124).

Sejalan dengan gagasan mengenai kriteria pemerolehan bahasa, Tarigan (1988:85) menambahkan bahwa produksi ucapan-ucapan yang berdasarkan tata bahasa yang teratur rapi tidaklah secara otomatis mengimplikasikan bahwa sang pembicara telah menguasai bahasa yang bersangkutan secara baik, dia mungkin saja memaknai ucapan-ucapan ini dengan makna yang agak berbeda.

5.2 Sintaksis

Ada banyak definisi sintaksis yang dikemukakan oleh linguis. Chrystal  dalam Ba’dulu (2004:43)  mendefinisikan ”Sintaksis sebagai telaah tentang kaidah-kaidah yang mengtur cara kata-kata yang dikombinasikan untuk membentuk kalimat dalam suatu bahasa”. ”Sintaksis adalah telaah tentang hubungan antara unsur-unsur struktur kalimat, dan telaah kaidah-kaidah yang menguasai pengaturan kalimat dalam gugus-gugus kata” menurut Paul Robert dalam Ba’dulu (2004:43).

Jika sebuah struktur muncul hanya pada satu konteks, ia seharusnya diperhitungkan. Contohnya pada saat seorang anak menggunakan struktur wh-question dengan benar hanya pada “what’s that?” kita tidak dapat mengasumsikan bahwa mereka memperoleh struktur wh-. Faktanya mereka bisa menghasilkan why we here dan konstruksi pertanyaan transisional wh- pada saat yang sama.

Sama halnya jika contoh  yang ada dari possessive yang digunakan secara benar adalah Granma’s seperti pada we’re going to Granma’s seperti bahwa posesif’s adalah pola yang diingat daripada sebuah aturan produktif. Kata-kata yang pernah digunakan dalam bentuk tunggal juga menjadi kandidat “mengingat keseluruhan’. Itulah yang terbaik untuk menganalisis kata seperti scissors, glasses dan slacks terpisah dari nomina-nomina lain yang digunakan baik tunggal ataupun jamak menurut Dulay, Burtm dan Krashen dalam Helmi (2006:13).

5.2.1 Frase

Menurut Chaer (2008:120), “Frasa adalah satuan sintaksis yang tersusun dari dua buah kata atau lebih, yang di dalam klausa menduduki fungsi-fungsi sintaksis”. Simak bagan berikut:

S P O KEt
Adik saya Suka makan Kacang goreng di kamar

Semua fungsi klausa di atas diisi oleh sebuah frase: fungsi S oleh frase adik saya, fungsi P diisi oleh frase suka makan, fungsi O oleh frase kacang goreng, dan fungsi Keterangan diisi oleh frase di kamar (Chaer, 2008:39).

5.2.1.1 Pembagian Frase

Frasa dilihat dari hubungan kedua unsurnya dibagi menjadi frasa koordinatif dan frase subordinatif. Frase koordinatif adalah frase yang kedudukan kedua unsurnya sederajat, dan frase subordinatif yaitu yang kedua unsurnya tidak sederajat. Dilihat dari hubungan kedua unsurnya dibedakan adanya frase endosentrik, yaitu yang salah satu unsurnya dapat menggantikan keseluruhannya, dan adanya frase eksosentrik, yaitu  yang kedua unsurnya merupakan satu kesatuan. Kemudian kalau  dilihat dari kategorinya, dibedakan adanya frase nominal, frase verbal, frase adjektifal, dan frase preposisional. Berdasarkan kriteria di atas kita dapat mencatat adanya:

  1. frase nominal  koordinatif
  2. frase verbal koordinatif
  3. frase ajektifal  koordinatif
  4. frase nominal  subordinatif
  5. frase verbal subordinatif
  6. frase ajektifal  subordinatif

karena frase subordinatif pada dasarnya sama dengan frase endosentrik, maka merupakan frase eksosentrik hanyalah:

  1. frase preposional.

(Chaer, 2008: 120-121)

a. Frase Nominal Koordinatif (FNK)

FNK dapat disusun dari

1)      dua buah kata berkategori nomina yang merupakan pasangan dari antonim relasional. Contoh:

(1)   ayah ibu

(2)   guru murid

2)      dua buah kata berkategori nomina yang merupakan anggota dari suatu medan makna. Contoh:

(3)   sawah ladang

(4)   kampung halaman

(Chaer, 2008: 121-122)

b. Frase Verbal Koordinatif (FVK)

Menurut Chaer (2008: 138), FVK dapat disusun dari:

1)      dua buah kategori verbal yang merupakan anggota antonim relasional, dan memiliki makana gramatikal ‘menggabungkan’ sehingga diantara keduanya  dapat disisipkan kata dan. Contoh:

(5)   tambah kurang

(6)    jual beli

2)      dua buah kategori  verbal yang merupakan anggota dari satu medan makna dan memiliki gramatikal ‘menggabungkan’ sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata dan. Contoh:

(7)   makan pakai

(8)   dengar lihat

c. Frase Ajektifal  Koordinatif  (FAK)

FAK dapat disusun dari:

1)  dua buah kategori ajektifal yang merupakan anggota antonim relasional, dan memiliki makna gramatikal ‘pilihan’ sehingga di antara keduanya  dapat disisipkan kata atau. Contoh:

(9)               baik buruk

(10)           tua muda

2)   dua buah kategori  ajektifal yang merupakan anggota dari pasangan bersinonim, dan memiliki makna gramatikal ‘sangat’. Contoh:

(11)           tua renta

(12)           cantik molek

3)      dua buah kata berkategori ajektifal yang maknanya sejalan tidak bertentangan dan memiliki makana gramatikal ‘himpunan’ sehingga diantara keduanya dapat disisispkan kata dan. Contoh:

(13)           bulat panjang

(14)           gemuk pendek

4)      dua buah kata berkategori ajektival yang maknanya tidak sejalan (bertentangan) dan memiliki makna ‘berkebalikan’ sehingga di antara kedua unsurnya harusnya disisipkan kata tetapi. Contoh:

(15)           murah tetapi bagus

(16)           jelek tetapi kaya

(Chaer, 2008: 144-145).

d. Frase Nominal  Subordinatif (FNS)

FNS dapat disusun dari:

1)      FNS yang berstruktur N+N

Sejauh ini yang berstruktur N+N memiliki makna gramatikal:

(a)    Milik, contoh: rumah paman, mobil direktur, dll.

(b)   Bagian, contoh: awal tahun, akhir bulan, dll.

(c)    Asal bahan, contoh: soto ayam, cincin emas, dll.

(d)   Asal tempat contoh: jeruk Bali, putri Solo, dll.

(e)    Campuran, contoh: sate lontong, kopi susu, dll.

(f)    Hasil, contoh: lukisan Afandi, sate Pak Kumis, dll.

(g)   Jenis, contoh: rokok kretek, pisau lipat, dll.

(h)   Jender, contoh: ayam jago, anak laki-laki, dll.

(i)     Seperti, contoh: kopi bubuk, jamur kuping.

(j)     Model, contoh: topi koboi, peci haji, dll.

(k)   Menggunakan, memakai, contoh: kereta listrik, mesin bensin, dll.

(l)     Peruntukan, contoh: pensil alis, tinta computer, dll.

(m) Ada di, contoh: kapal laut, ski air, dll.

(n)   Wadah, contoh: botol kecap, tabung gas, dll.

(o)   Letak, contoh: laci atas, pintu belakang, dll.

(p)   Dilengkapi, contoh: kursi roda, sepeda motor, dll.

(q)   Sasaran, contoh: pelebaran jalan, pelestarian alam, dll.

(r)     Perilaku, contoh: bantuan presiden, pemberian kakek, dll.

(s)    Alat, contoh: balap mobil, perang mulut, dll.

(Chaer, 2008: 122-134).

e. Frase Verbal Subordinatif (FVS)

Frase verbal subordinatif  dapat disusun dari Adv+V, V+Adv, V+N, dan V+A.

1)      FVS yang berstruktur Adv+V, memiliki makna gramatikal:

(a)    Ingkar, contoh: tidak membayar, tidak sembahyang, dll.

(b)   Frekuensi, contoh: jarang mandi, sering muncul, dll.

(c)    Kuantitas, contoh: banyak menulis, sedikit bicara, dll.

(d)   Waktu, contoh: lagi makan, sudah mandi, dll.

(e)    Keinginan, contoh: mau mandi, ingin makan, dll.

(f)    Keselesaian, contoh: sudah hadir, belum membaca, dll.

(g)   Keharusan, contoh: harus pergi, boleh datang, dll.

(h)   Kepastian, contoh: pasti hadir, tentu datang, dll.

(i)     Pembatasan, contoh: hanya minum, cuma menonton, dll.

2)      FVS yang berstruktur V+Adv memiliki makna gramatikal:

(a)    Berulang, contoh: makan lagi, tidur lagi, dll.

(b)   Ikut serta, contoh: minum juga, naik juga, dll.

3)      FVS yang berstruktur V+N, contoh: terjun payung, lempar cakram, dll.

4)      FVS yang berstruktur V+A, contoh: lompat jauh, loncat indah, dll.

(Chaer, 2008: 139-143).

 

f.   Frase Adjektifal Subordinatif (FAS)

Menurut Chaer  (2008: 145—148), FAS disusun dengan struktur:

1)      A+N, memiliki makna gramatikal ‘seperti’, contoh: merah darah, kuning emas, dll.

2)      A+A, memiliki makna gramatikal ‘jenis warna’, contoh: merah terang, putih kebiru-biruan, dll.

3)      A+V, memiliki makna gramatikal ‘untuk’, contoh: berani datang, takut pulang, dll.

4)      Adv+A, memiliki makna gramatikal:

(a)    ‘ingkar’, contoh: tidak takut, tidak malas, dll.

(b)   ‘derajat’, contoh: sangat bagus, kurang bagus, dll.

5)      A+Adv, memiliki makna gramatikal ‘sangat’ atau ‘tingkat superlatif’, contoh: indah sekali, merah sekali, dll.

 

g. Frase Preposisional

Frase preposisional adalah frase yang berfungsi sebagai pengisi fungsi keterangan di dalam sebuah klausa. Frase preposisional ini bukanlah frase koordinatif ataupun frase subordinatif, melainkan frase eksosentrik. Jadi, di dalam frase ini tidak ada unsur inti dan unsur tambahan. Kedua unsurnya merupakan satu kesatuan yang utuh. Frase preposisional tersusun dari kata berkategori preposisi dan kata atau frase berkategori nominal. Contoh: di pasar, ke dalam kamar, ke rumah sakit, dll (Chaer, 2008: 149).

 

5.2.2 Klausa

Berdasarkan pendapat Chaer (2008:41), “Klausa merupakan satuan sintaksis yang berada di atas satuan frase dan di bawah satuan kalimat, berupa runtutan kata-kata berkonstruksi predikatif”. Klausa dapat dibedakan berdasarkan kategori dan tipe kategori yang menjadi predikat.

1)      Klausa Nominal, yakni klausa yang predikatnya berkategori nomina. Contoh:

(1)   kakeknya orang Batak

S                  P

 

2)      Klausa Verbal, yakni klausa yang redikatnya berkategori verba. Lalu, karena secara gramatikal dikenal beberapa verba maka dikenal adanya.

(a)  Klausa verba transitif, yakni yang predikatnya berupa verba transitif, seperti:

(2)   Andi membaca komik

S         P            O

(b)   Klausa verba intransitif, yakni klausa yang predikatnya berupa verba intransitive, misalnya:

(3)   anak-anak berlari

S           P

 

3)      Klausa Ajektifal, yakni klausa yang predikatnya berkategori ajektifa.

Misalnya:

(4)   nenekku masih cantik

S              P

4)      Klausa Preposisional, yakni klausa yang predikatnya berkategori preposisi. Misalnya:

(5)   nenek ke Medan

S           P

 

5)      Klausa Numeralia, yakni klausa yang predikatnya berkategori numeralia. Misalnya:

(6)   simpanannya lima juta

S                   P

(Chaer, 2008: 150-162).

 

5.2.3 Kalimat

Kalimat adalah satuan sintaksis yang dibangun oleh konstituen dasar dan memiliki intonasi final (Chaer, 2008:163). Kalimat, jika dilihat dari bentuk sintaksisnya, dapat dibagi atas (1) kalimat deklaratif, (2) kalimat interogatif, (3) kalimat imperatif, dan (4) kalimat eksklamatif.

 

5.2.3.1 Kalimat Deklaratif

Kalimat deklaratif yang juga dikenal dengan nama kalimat berita. Dalam pemakaian bahasa bentuk kalimat deklaratif umumnya digunakan oleh pembicara/penulis untuk membuat pernyataan sehingga isinya merupakan berita bagi pendengar atau pembacanya. Dalam bentuk tulisnya, kalimat berita diakhiri dengan tanda titik. Dalam bentuk lisan, suara berakhir dengan nada turun (Alwi, dkk,. 1998:353).

Menurut Chaer (2008:187), kalimat deklaratif adalah kalimat yang isinya menyampaikan pernyataan yang ditujukan kepada orang lain. Kalimat deklaratif ini dibangun oleh seseorang kepada orang lain untuk menyatakan sesuatu. Contoh: Tadi pagi ada tabrakan mobil di dekat monas.

 

5.2.3.2 Kalimat Interogatif

Kalimat interogatif  yang juga dikenal dengan kalimat tanya, secara formal ditandai oleh kehadiran kata tanya seperti apa, siapa, berapa, kapan, dan bagaimana dengan atau tanpa partikel –kah sebagai penegas. Kalimat interogatif diakhiri dengan tanda tanya (?) pada bahasa tulis dan pada bahasa lisan dengan suara naik, terutama jika tidak ada kata tanya atau suara turun.

Bentuk kalimat interogatif biasanya digunakan untuk meminta (1) jawaban ”ya”  atau ”tidak”, atau  (2) informasi mengenai sesuatu atau seseorang dari lawan bicara atau pembaca. Contoh: apa pemeritah akan memungut pajak deposito? (Alwi, dkk,. 1998:357—358).

 

5.2.3.2 Kalimat Imperatif

Menurut Alwi, dkk (1998:353—354), perintah atau suruhan dan permintaan jika ditinjua dari isinya, dapat diperinci menjadi enam golongan:

1)         Perintah atau suruhan biasa jika pembicara menyuruh lawan bicaranya berbuat sesuatu;

2)         Perintah halus jika pembicara tampaknya tidak memerintah lagi, tetapi menyuruh mecoba atau mempersilakan lawan bicara sudi berbuat sesuatu;

3)         Permohonan jika pembicara, demi kepentingannya, minta lawan bicara berbuat sesuatu;

4)         Ajakan dan harapan jika pembicara mengajak atau berharap lawan bicara berbuat sesuatu;

5)         Larangan atau perintah negatif, jika pembicara menyuruh agar jangan dilakukan sesuatu; dan

6)         Pembiaran jika pembicara minta agar jangan dilarang.

Kalimat imperatif memiliki ciri formal sebagai berikut.

1)         Intonasi yang ditandai nada rendah di akhir tuturan,

2)         Pemakaian partikel penegas, penghalus, dan kata tugas ajakan, harapan, permohonan, dan larangan,

3)         Susunan inversi sehingga urutannya menjadi tidak selalu terungkap predikat-subjek jika diperlukan, dan

4)         Pelaku tindakan tidak selalu terungkap.

Misalnya: Belikanlah adikmu sepatu baru!

5.2.3.3 Kalimat Eksklamatif

Kalimat eksklamatif, yang juga dikenal dengan kalimat seru, secara formal ditandai oleh kata alangkah , betapa, atau bukan main pada kalimat berpredikat ajektival. Kalimat ekslamatif ini, yang juga dinamakan kalimat interjeksi biasa digunakan untuk menyatakan perasaan kagum atau heran. Contoh: Alangkah bebasnya pergaulan meraka! (Alwi, dkk,. 1998:362).

 

5.3 Beberapa Aliran Pemerolehan Bahasa

5.3.1 Aliran Nativisme

Penganut aliran ini adalah Noam Chomsky. Dia percaya bahwa setiap manusia normal yang lahir ke dunia dilengkapi dengan suatu alat memperoleh bahasa yang disebut dengan Language Acquisition Device (LAD). LAD ini mempunyai kemampuan untuk mengklasifikasi dan memproses data bahasa yang masuk sehingga data itu dapat dikelompokkan secara teliti dan sekaligus membuat aturan-aturan gramatika. Chomsky (dalam Pateda, 1990:46) berpendapat bahwa ujaran anak-anak dapat dipengaruhi oleh kaidah-kaidah yang mereka dengar.

Menurut pandangan natives, bahasa terlalu kompleks dan mustahil dipelajari secara singkat melalui peniruan. Karena itu, beberapa aspek penting mengenai sistem bahasa pasti sudah ada pada manusia secara alamiah. Aliran nativisme memandang pelajar sebagai “inisiator menawan”. Input dilihat sebagai usaha yang membangkitkan mekanisme internal.

 

5.3.2 Aliran Behavioristik

Aliran ini berpandangan bahwa proses penguasaan bahasa (pertama) dikendalikan dari luar, yaitu oleh ransangan  yang disodirkan melalui lingkungan.

”Aliran ini dikembangkan oleh B.F Skinner dan kelompoknya. Teori behaviorisme ini bertolak pada hubungan tanggapan (response) dan peristiwa yang ada disekelilingnya. Usaha untuk menghasilkan tanggapan yang tepat terhadap rangsangan merupakam usaha pokok pemelajar. Tanggapan yang sesuai akan mendapat penguatan dan menjadi kebiasaan, sedangkan tanggapan yang tidak sesuai tidak akan diulangi pada situasi yang sama dan mirip” (Purnomo, 2002:4).

Aliran behavioristik menekankan pada aspek perilaku berbahasa yang langsung bisa diamati dan hubungan antara rangsangan dan reaksi (Bardja, 1990:12).

5.3.3 Aliran Kognitif

Piaget berasumsi bahwa bahasa itu bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah, melainkan salah satu diantara beberapa kemampuan  yang berasal dari pematangan kognitif. Menurut aliran ini, bahasa harus berlandaskan pada perubahan yang menyadarkan dan lebih umum.

Pada tahap ini, orang juga berbicara tentang peran biologi pada bahasa karena mereka mulai merasa bahwa biologi merupakan landasan dimana bahasa itu tumbuh. Orang-orang seperti Chomsky dan Lenneberg menyatakan bahwa pertumbuhan bahasa seseorang manusia terikat secara geneik dengan pertumbuhan biologinya (Dardjowijojo, 2003:6).

5.4 Anak Autis

Autism syndrome merupakan kelainan yang disebabkan adanya gangguan neurobiologis pada susunan saraf pusat (otak).

”Autis merupakan salah satu kelompok dari gangguan pada anak yang ditandai dengan munculnya gangguan keterlambatan dalam kognitif, komunikasi, ketertarikan pada interaksi sosial, dan perilakunya. Dalam bahasa Yunani dikenal kata autis, “auto” berarti sendiri ditujukan kepada seseorang ketika dia menunjukkan gejala “hidup dalam dunianya sendiri atau mempunyai dunia sendiri.” Autisme memang merupakan kelainan perilaku  yang penderitanya hanya tertarik pada aktivitas mentalnya sendiri” (Veskarisyanti, 2008:17) .

Autisme banyak disebabkan oleh gangguan saraf otak, virus yang ditularkan oleh ibu ke janin, dan lingkungan yang terkontaminasi zat beracun. Autisme yang sering melanda anak-anak sudah tampak sebelum anak tersebut mencapai umur 3 tahun. Perkembangan yang terganggu pada anak yang mengalami autisme adalah dalam bidang:

  1. Komunikasi, munculnya kualitas komunikasi yang tidak normal. Misalnya, tidak mampu untuk memulai suatu pembicaraan yang melibatkan komunikasi dua arah dengan baik.
  2. Interaksi sosial, timbulnya gangguan kualitas interaksi sosial. Misalnya, anak mengalami kegagalan untuk bertatap mata, menunjukkan wajah yang tidak berekspresi.
  3. Perilaku, aktivitas, perilaku, dan ketertarikan anak terlihat sangat terbatas. Misalnya, banyak pengulangan terus-menerus seperti adanya suatu kelekatan pada rutinitas atau rutinitas atau ritual yang tidak berguna, misalnya kalau mau tidur harus cuci kaki dulu, sikat gigi, pakai piyama, menggoosokkan kaki di keset, baru naik ke tempat tidur. Bila ada satu aktivitas di atas yang terlewatkan atau terbalik urutannya, maka ia akan sangat terganggu dan menangis bahkan berteriak-teriak minta diulang.
  4. Gangguan sensorik, misalnya senang mencium-cium, menjilat-jilat mainan atau benda-benda.
  5. Pola bermain, misalnya dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa kemana-mana.
  6. Emosi, misalnya: sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis tanpa alasan.

Perilaku autistik pada anak dapat digolongkan menjadi 2 macam, yaitu: perilaku yang eksesif (berlebihan) yaitu perilaku yang tidak terkontrol antara lain perilaku hiperaktif dan mengamuk berupa menjerit, menggigit, menyepak, memukul, dsb serta perilaku defisit (berkekurangan) (Veskarisyanti, 2008:17-27).

 

5.5 Anak Slow Learner

Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/25/kesulitan-dan-bimbingan-belajar/). Anak yang mengalami kesulitan belajar seperti slow learner akan tampak dari berbagai gejala yang dimanifestasikan dalam perilakunya, baik aspek psikomotorik, kognitif, konatif maupun afektif . Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar, antara lain :

  1. Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
  2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah
  3. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
  4. Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.
  5. Menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau pun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, dan sebagainya.
  6. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti : pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.

 

6. METODE PENELITIAN

6.1 Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Menurut Best (dalam Sukardi, 2003:167), “Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasikan objek sesuai dengan apa adanya”. Ini dilakukan dengan usaha mengumpulkan data, mengolah data, menyimpulkan, dan melaporkan sesuai dengan tujuan penelitian.

6.2 Lokasi dan Subjek Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah Yayasan Pelita Hati Palembang, yang merupakan yayasan yang membawahi Klinik Autis Anakku (terapi) dan Sekolah Pelita Hati (SD Autis). Berdasarkan pengamatan, klinik Autis Anakku (terapi) hanya untuk anak-anak yang menjalani terapi biasanya 1 guru mengajar untuk 1 siswa di dalam ruangan. Sedangkan, sekolah Pelita Hati terdiri dari 6 kelas. Kelas 1 berjumlah 1 anak diajar 1 guru. Kelas 2 berjumlah 8 anak diajar oleh 3 guru, kelas 2 berjumlah 4 anak diajar oleh 2 guru, kelas 3 berjumlah 4 anak dan diajar oleh 2 guru, kelas 4 berjumlah 1 anak dan diajar 1 guru, kelas 5 berjumlah 3 anak diajar oleh 1 guru dan kelas 6 berjumlah 1 anak diajar oleh 1 guru.

 

Data penelitian ini bersumber dari ujaran-ujaran yang diproduksi oleh siswa kelas II Yayasan Pelita Hati (SD Autis). Tempat yang digunakan untuk mengambil data adalah kelas yang merupakan tempat situasi pembelajaran berlangsung.

6.3 Teknik Pengumpulan Data

Dalam mengumpulkan data dipergunakan teknik-teknik sebagai berikut:

6.3.1 Pengamatan

Pengamatan dilakukan pada delapan siswa dalam jangka waktu satu bulan dengan frekuensi pengamatan 5 kali seminggu (senin s.d. jumat) dengan lama pertemuan tiga jam, yaitu mulai pukul 13.00 s.d. 16.00 WIB. Pengamatan berlangsung pada situasi formal dan informal. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui situasi dan kondisi ketika ujaran diproduksi.

6.3.2 Pencatatan

Sewaktu pengamatan dilakukan, teknik catat juga digunakan untuk mencatat situasi kondisi ketika ujaran produksi. Hal-hal yang dicatat meliputi tindakan-tindakan yang dilakukan dan ekspresi anak ketika ujaran diproduksi. Pencatatan dilakukan selama berlangsungnya pengamatan.

6.3.3 Perekaman

Saat pengamatan dan pencatatan, ujaran-ujaran yag diproduksi  anak direkam dengan menggunakan  tape recorder dan handphone nokia N70 dan 5320 jika dibutuhkan. Perekaman dilakukan bersamaan dengan belangsungnya pengamatan.

 

6.4 Teknik Analisis Data

Metode yang digunakan dalam anlisis data adalah metode agih. Metode agih digunakan berkaitan dengan kajian sintaksis. Sudaryanto (1993:15) menyatakan bahwa metode agih adalah metode yang dipakai untuk mengkaji  atau menentukan identitas satuan lingual tertentu dengan alat penentunya bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri.

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik bagi unsur langsung (BUL). Teknik BUL dalam peneltian ini digunakan untuk menganalisis data yang berupa frase, klausa, dan kalimat.

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan prosedur sebagai berikut:

  1. Mengubah data rekaman ke dalam bentuk teks yaitu data yang direkam dalam audio tape recorder dipindahkan ke dalam teks tertulis.
  2. Menerjemahkan data yang berbahasa Palembang ke dalam Bahasa Indonesia, data tersebut dikelompokkan berdasarkan kategorinya.
  3. Mengidentifikasi frasa, kalusa, dan kalimat. Pengidentifikasian dilakukan dengan memperhatikan ciri-ciri frasa, klausa, dan kalimat. Berikut contohnya:

Frasa terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa, misalnya:

S

P
Aku

mau berlibur.

Kalimat itu terdiri dari dua fungsi, yaitu Aku sebagai subjek dan mau berlibur sebagai predikat. Kata mau berlibur disebut frasa karena terdiri dari dua kata dalam satu fungsi yaitu predikat. Oleh karena itu, jika ada kata yang terdiri dari dua kata atau lebih dalam satu fungsi kalimat dikategorikan sebagai frasa. Klausa merupakan satuan sintaksis di atas satuan frasa dan di bawah satuan kalimat, beberapa runtutan kata-kata berkonstruksi predikatif dan tidak adanya intonasi final. Misalnya:

S

P
Intan

cantik sekali

Penggalan kalimat itu terdiri dari dua fungsi, yaitu Intan sebagai sub                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  jek dan sakit sebagai predikat. Intan cantik sekali disebut klausa karena terdiri dari frasa cantik sekali yang berfungsi sebagai predikat dan Intan sebagai subjek. Klausa di atas berdasarkan kategori termasuk kedalam frasa ajektifal. Dikatakan klausa ajektifal didasarkan predikatnya dikategorikan ajektifal. Oleh karena itu, jika ada runtutan kata yang berkonstruksi predikat dan yang lainnya berfungsi sebagai subjek, objek, dan lainnya dikategorikan sebagai klausa.

Selanjutnya, suatu data tersebut adalah kalimat jika adanya intonasi final. Setiap satuan kalimat dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik. Misalnya: Tulisan Faisal jelek seperti ibuk ’Tulisan Faisal jelek seperti Ibu’. Kalimat tersebut tergolong sebagai kalimat deklaratif. Hal ini berdasarkan ciri formalnya yang berupa pola intonasi berita, serta tidak adanya kata-kata tanya, seruan, atau larangan. Kalimat tersebut berdasarkan kategori klausanya tergolong kalimat ajektifal karena dibentuk dari sebuah klausa ajektifal yang predikatnya dikategorikan ajektifal.

  1. Mengklasifikasikan data-data yang sudah diidentifikasi tadi sehingga jelas data-data mana saja yang tergolong frasa, klausa, dan kalimat.
  2. Mengelompokkan frasa, klausa, dan kalimat tersebut ke dalam pembagian atau jenis frasa, klausa, dan kalimat.
  3. Menyimpulkan.

7. Langkah Kerja dan Jadwal Penelitian

No Kegiatan Agustus September Oktober November Desember Januari
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Mengajukan Judul
2 Membuat Proposal Penelitian
3 Seminar Perbaikan
4 Pelaksanaan Penelitian
5 Pengolahan Data
6 Penyusunan Laporan
7 Pertanggung Jawaban

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai             Pustaka

Ba’dulu, Abdul Muis dan Herman. 2004. Morfosintaksis. Jakarta: Rineka                    Cipta.

Chaer, Abdul. 2002. Psikolinguistik Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta

Chaer, Abdul. 2008. Sintaksis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2000. Echa Kisah Pemerolehan Bahasa Anak                     Indonesia. Jakarta: Gravindo.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2009. Psikolinguistik: Memahami Asas Pemerolehan Bahasa. http://books.google.co.id/books/desainlongitudinalpemerolehanbahasa.html. Diakses 1 Oktober 2009.

Indrawati, Sri dan Santi Oktarina. 2003. “Pemerolehan Bahasa Anak TK         Pembina Bukit Besar Palembang: Sebuah Kajian Fungsi Bahasa Halliday”. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unsri. Laporan Penelitian.

Helmi. 2006. “Pemerolehan Sintaksis Anak Play Group Kiddy Club Plaju Palembang”. Inderalaya: Skripsi Sarjana FKIP Unsri.

Maruti, Centi Agustia. 2009. ”Pemerolehan Bahasa Anak Autis Yayasan Pelita Hati Palembang: Suatu Kajian Berdasarkan Fungsi Bahasa Halliday”. Inderalaya: Skripsi Sarjana FKIP Unsri.

Maulana, Mirza. 2007. Anak Autis, mendidik Anak Autis dan Gangguan Mental Lain Menuju Anak Cerdas dan Sehat. Yogyakarta: Kata Hati

Pateda, Mansoer. 1990. Aspek-Aspek Psikolinguistik. Flores: Nusa Indah

Purnomo, Mulyadi Eko. 2002. ”Teori Pemerolehan Bahasa Kedua”. Inderalaya: Diktat FKIP Unsri.

Subyakto, Sri Utari dan Nababan. 1992. Psikolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Pendidikan Wahana Kebudayaan Secara Linguistik. Yogyakarta: Duta Wahana University Press.

Sudrajat, Ahmad. 2008. Kesulitan Belajar Siswa dan Bimbingan Belajar. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/25/kesulitan-dan-bimbingan-belajar/. Diakses  tanggal 6 November 2009.

Sukardi. 2003. Metodelogi Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: Bumi Aksara.

Tarigan, Henry Guntur. 1988. Psikolinguistik. Bandung: Angkasa.

­­­­­­­­­

Veskarisyanti, Galih A. 2008. Terapi Autis. Yogyakarta: Pustaka Anggrek.

____. 2007. Anak Slow Learner bukan Anak Idiot. http://www.ubaya.ac.id/ubaya/news_wu_detail/400/Anak_Slow_Learner_bukan_Anak_Idiot.html. Diakses  tanggal 6 November 2009.

____. 2009. Slow Learner. http://bppk.dindikbanten.org/index.php.article:slow-learner. Diakses  tanggal 6 November 2009.

 

 

Cabang dan Aliran Filsafat

Posted: 2 March 2011 in bahasa

1. Pendahuluan

Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.

Filsafat telah muncul dari abad-abad yang lalu, telah banyak filsuf yang menghasilkan pemikirsn-pemikiran jernih mereka tentang kebenaran. Dimulai dari zaman Yunani, pertengahan, zaman klasik, hingga zaman sekarang. Para filsuf tentang menghasilkan pemikir mengenai kebenaran asal mula kehidupan dan tentang baik dan buruk sesuatu.

Abidin (http://meetabied.wordpress.com/2009/12/23/pengertian-filsafat-cabang-cabang-filsafat-filsafat-dan-agama/) mengemukakan bahwa luasnya lapangan ilmu filsafat mengakibatkan menjadi sukar pula orang mempelajarinya, dari mana hendak dimulai dan bagaimana cara membahasnya agar orang yang mempelajarinya segera dapat mengetahuinya.

Pada zaman modern ini pada umunya orang telah sepakat untuk mempelajari ilmu filsafat itu dengan dua cara, yaitu dengan mempelajari sejarah perkembangan sejak dahulu kala hingga sekarang (metode historis), dan dengan cara mempelajari isi atau lapangan pembahasannya yang diatur dalam bidang-bidang tertentu (metode sistematis).

Dalam metode historis orang mempelajari perkembangan aliran-aliran filsafat sejak dahulu kala sehingga sekarang. Di sini dikemukakan riwayat hidup tokoh-tokoh filsafat di segala masa, bagaimana timbulnya aliran filsafatnya tentang logika, tentang metafisika, tentang etika, dan tentang keagamaan. Seperti juga pembicaraan tentang zaman purba dilakukan secara berurutan (kronologis) menurut waktu masing masing.

Dalam metode sistematis orang membahas langsung isi persoalan ilmu filsafat itu dengan tidak mementingkan urutan zaman perjuangannya masing-masing. Orang membagi persoalan ilmu filsafat itu dalam bidang-bidang yang tertentu. Misalnya, dalam bidang logika dipersoalkan mana yang benar dan mana yang salah menurut pertimbangan akal, bagaimana cara berpikir yang benar dan mana yang salah.

Kemudian dalam bidang etika dipersoalkan tentang manakah yang baik dan manakah yang baik dan manakah yang buruk dalam pembuatan manusia. Di sini tidak dibicarakan persoalan-persoalan logika atau metafisika. Dalam metode sistematis ini para filsuf kita konfrontasikan satu sama lain dalam bidang-bidang tertentu. Misalnya dalam soal etika kita konfrontasikan saja pendapat pendapat filsuf zaman klasik (Plato dan Aristoteles) dengan pendapat filsuf zaman pertengahan (Al-Farabi atau Thimas Aquinas) dengan pendapat-pendapat filsuf dewasa ini (Jaspers dan Marcel) dengan tidak usah mempersoalkan tertib periodasi masing-masing. Begitu juga dalam soal-soal logika, metafisika, dan lain-lain. Makalah ini akan membahas cabang dan aliran filsafat berdasarkan pendapat para ahli yang disusun melalui metode sistematis.

 

  1. 2. Cabang dan Aliran Filsafat

Filsafat adalah sebagai induk yang mencakup semua ilmu khusus. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya ilmu-ilmu khusus itu satu demi satu memisahkan diri dari induknya, filsafat. Namun, dengan begitu muncullah filsafat baru yang memecahkan masalah yang tidak terpecahkan oleh ilmu-ilmu khusus.

Menurut Suriasumantri (2000:32), pokok permasalahan yang dikaji filsafat mencakup tiga segi yakni apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah (logika), mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika), serta apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika). Ketiga cabang utama filsafat ini bertambah lagi yakni, tentang teori ada, tentang hakikat keberadaan zat, tentang hakikat keberadaan zat dan pikiran yang semuanya terangkum dalam metafisika dan cabang-cabang tersebut terus berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Menurut, Suriasumantri (2001:35) terdapat tiga landasan filsafat. Ketiga landasan itu yaitu ontologis,  epistemologi, dan aksiologis. Apa yang dikaji oleh pengetahuan (ontology)? Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan itu (epistemology) serta untuk apa pengetahuan dipergunakan (aksiologi)?

2.1 Ontologi

Objek telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu.

Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.

1. Objek Formal

Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, tealaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme. Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira cukup banyak. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Yang natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme, tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental.

 

2. Metode dalam Ontologi

Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu : abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek; sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik.

Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua, yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori.

Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat; dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan.

Contoh :            Sesuatu yang bersifat lahirah itu fana           (Tt-P)

Badan itu sesuatu yang lahiri                 (S-Tt)

Jadi, badan itu fana’                              (S-P)

Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi, term tengah ada sesudah realitas kesimpulan; dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata silogistik sebagai berikut:

Contoh :          Gigi geligi itu gigi geligi rahang dinasaurus                 (Tt-S)

Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan              (Tt-P)

Jadi, Dinausaurus itu pemakan tumbuhan                     (S-P)

Bandingkan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. Yang apriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengahj menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan; sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek, term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan (http://kecoaxus.tripod.com/filsafat/pengfil.htm).

Sudarsono (1993:118) mengemukakan bahwa tokoh yang membuat istilah ontologi popular adalah Christian Wolf (1697-1714). Istilah ontology berasal dari bahasa Yunani yaitu ta onta berarti “yang berada” dan logi berarti “ilmu pengetahuan”. Dengan demikian ontologi merupakan ilmu pengetahuan atau ajaran tentang yang berada.

Di dalam ontology terdapat beberapa aliran yang penting yaitu meliputi monoisme, dualisme, idealisme, dan agousticisme. Monoisme  memandang bahwa sumber yang asal itu hanya tunggal. Menurut Thales: air,  menurut Anaximandros: to apeiron yang berarti “tak terbatas”, dan  menurut Anaximenes: udara. Dualisme memandang alam menjadi dua macam hakikat sebagai sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani. Idealisme dinamakan juga spiritualisme, memandang segala sesuatu serba-cita atau serba roh. Agousticisme merupakan aliran yang mengikari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat seperti yang dikehendaki oleh ilmu metafisika.

a. Metafisika

Metafisika adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Ajaran Aristoteleslah yang mengajarkan metafisika. Metafisika membicarakan sesuatu di sebalik yang tampak. Dengan belajar metafisika orang justru akan mengenal akan Tuhannya, dan mengetahui berbagai macam aliran yang ada dalam metafisika.

b. Teologi

Thomas Aquinas (185-254) mengajarkan theologi naturalis. Bakry yang dikutip Surajiyo (2005:125-126), berpendapat bahwa golongan yang kedua dari metafisika adalah teologi. Yang dimaksud ajaran teologi dalam ajaran filsafat metafisika ialah teori naturalis. Yakni filsafat ketuhanan yang berpangkal semata-mata pada kejadian alam.

Teologi naturalis dibagi menjadi dua aliran besar, yaitu Theisme dan Pantheisme. Theisme ialah aliran yang berpendapat bahwa ada sesuatu kekuatan yang berdiri di luar alam dan menggerakkan alam ini.  Kekuatan itu adalah Tuhan. Tuhan itu yang menggerakkan dan memelihara jalannya aturan-aturan dunia sehingga dunia ini teratur dengan baik. Jadi, Tuhan berada di luar alam. Tuhan adalah sebab bagi apa yang ada di sunia ini. Alam ini tidak beredar menurut hukum dan peraturan-peraturan yang tidak berubah, tetapi beredar  menurut kehendak mutlak Tuhan. Sedangkan Pantheisme mengandung arti seluruhnya Tuhan. Pantheisme berpendapat bahwa seluruh kosmos ini adalah Tuhan. Semua yang ada dalam keseluruhannya ialah Tuhan, dan tuhan ialah semua yang ada dalam keseluruhannya.

2.2 Epistemologi

Masalah epistemology bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan, perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan, kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui. Memang sebenarnya, kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan, atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian, atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya.

Manusia tidaklah memiliki pengetahuan yang sejati, maka dari itu kita dapat mengajukan pertanyaan “bagaimanakah caranya kita memperoleh pengetahuan”?Istilah Epistemologi dipakai pertama kali oleh J.F. Feriere.  adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode, dan kesahihan pengetahuan. Aliran ini mencoba menjawab pertanyaan, bagaimana manusia mendapat pengetahuannya sehingga pengetahuan itu benar dan berlaku. Pada garis besarnya ada beberapa paham pengetahuan, antara lain: emperisme, idealisme, kritisisme, dan rasionalisme (Sudarsono, 1993:157).

a. Empirisme

Praja (2003:105—112) mengemukakan bahwa Empirisme berasal dari kata Yunani yaitu emperia yang berarti pengalaman inderawi. Oleh karena itu, empirisme dinisbatkan kepada paham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalanan dan yang dimaksudkan dengannya adalah baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia. Pada dasarnya empirisme sangat bertentangan dengan Rasionalisme.

Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari rasio, sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur. Sebaliknya empirisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna.

Tokoh-tokoh aliran empirisme, antara lain: Francis Bacon (1210 -1292), Thomas Hobbes ( 1588 -1679), John Locke ( 1632 -1704), George Berkeley ( 1665 -1753), David Hume ( 1711 -1776), dan Roger Bacon ( 1214 -1294).

b. Idealisme

Idealisme adalah aliran filsafat yang menganggap bahwa realitas ini terdiri dari ide-ide, pikiran-pikiran, akal (mind) atau jiwa (self) dan bukan benda material dan kekuatan. Istilah idealisme yang menunjukkan suatu pandangan dalam filsafat belum lama dipergunakan orang (Praja, 2003:126).

Namun demikian, pemikiran tentang ide telah dikemukakan oleh Plato sekitar 2.400 tahun yang lalu. Menurut Plato, realitas yang fundamental adalah ide, sedangkan realitas yang tampak oleh indera manusia adalah bayangan dari ide tersebut. Bagi kelompok idealis alam ini ada tujuannya yang bersifat spiritual. Hukum-hukum alam dianggap sesuai dengan kebutuhan watak intelektual dan moral manusia. Mereka juga berpendapat bahwa terdapat suatu harmoni yang mendasar antara manusia dengan alam. Manusia memang bagian dari proses alam, tetapi ia juga bersifat spiritual, karena manusia memiliki akal, jiwa, budi, dan nurani (http://ismalianibaru.wordpress.com/2008/04/24/aliran-aliran-dalam-filsafat/).

Tokoh-tokoh aliran idealisme, antara lain: Plato (477 -347 Sb.M), B. Spinoza (1632 -1677), Liebniz (1685 -1753), Berkeley (1685 -1753), J. Fichte (1762 -1814), F. Schelling (1755 -1854) dan G. Hegel (1770 -1831).

c. Kritisisme

Kritisisme merupakan aliran filsafat yang menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. Oleh karena itu, kritisisme sangat berbeda corak dengan rasionalisme yang mempercayai kemampuan rasio secara mutlak.

Kritisisme menjebatani pandangan rasionalisme dan empirisme, yang intinya ilmu pengetahuannya berasal dari rasio dan pengalaman manusia. Tokoh aliran kritisisme, yaitu Immanuel Kant (1724-1804) (http://ismalianibaru.wordpress.com/2008/04/24/aliran-aliran-dalam-filsafat/).

d. Rasionalisme

Para penganut rasionalisme berpandangan bahwa satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal) seseorang. Perkembangan pengetahuan mulai pesat pada abad ke-18. Orang yang dianggap sebagai bapak rasionalisme adalah Rene Descartez (1596-1650) yang juga dinyatakan sebagai bapak filsafat modern. Semboyannya yang terkenal adalah cogito ergo sum (saya berpikir, jadi saya ada).

Tokoh-tokoh lainnya adalah John Locke (1632-1704), J.J. Rousseau (1712-1778) dan Basedow (1723-1790). John Locke terkenal sebagai tokoh filsafat dan pendidik dengan pandangannya tentang tabula rasa dalam arti bahwa setiap insan diciptakan sama, sebagai kertas kosong. Dengan demikian melatih atau memberikan pendidikan atau pandai menalar merupakan tugas utama pendidikan formal (http://ismalianibaru.wordpress.com/2008/04/24/aliran-aliran-dalam-filsafat/).

e. Logika

Logika adalah cabang filsafat yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita. Menurut Sudarsono (1993:162), logika berasal dari bahasa Yunani, dari kata logike yang berhubungan dengan kata logos yang berarti perkataan atau kata sebagai manifestasi dari pikiran manusia. Dengan demikian terdapatlah suatu jalinan yang kuat antara pikiran dan kata yang dimanifestasikan dalam bahasa. Secara etimologis dapatlah diartikan bahwa logika itu adalah ilmu yang mempelajari pikiran yang dinyatakan dalam bahasa.

Nama logika pertama kali muncul pada filsuf Cicero (abad ke-1 SM) tetapi dalam arti ‘‘seni berdebat’’. Alexander Aphordisias (sekitar permulaan abad ke-3) adalah orang pertama yang mempergunakan kata logika dalam arti ilmu yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita.

Di samping itu, Aristoteles pun telah berjasa besar dalam menemukan logika. Namun, ia belum menggunakan nama logika. Ia menggunakan istilah analitika dan dialektika. Analitika untuk penyelidikan mengenai argumentasi yang bertitik tolak dari putusan-putusan yang benar sedangkan dialektika untuk penyelidikan mengenai argumentasi yang bertitik tolak dari hipotesis atau putusan yang tidak pasti kebenarannya (Bertens dikutip Surajiyo, 2003:23).

 

2.3 Aksiologi

Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasi namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kamanusiaan itu sendiri, atau dengan perkataan lain, ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri, atau dengan perkataan lain, ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri. “bukan lagi Goethe yang menciptakan Faust.” Meminjamkan perkataan ahli ilmu jiwa terkenal carl gustav jung,” melainkan faust yang menciptakan Goethe.”

Menghadapi kenyataan seperti ini, ilmu yang pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya: untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana perkembangan keilmuan harus diarahkan? Pertanyaa semacam ini jelas tidak merupakan urgensi bagi ilmuan seperti Copernicus, Galileo dan ilmuwan seangkatannya; namun bagi ilmuan yang hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup dalam bayangan kekhawatiran perang dunia ketiga, pertanyaan-pertanyaan ini tak dapat di elakkan. Dan untuk menjawan pertanyaan ini maka ilmuan berpaling kepada hakikat moral.

Sebenarnya sejak saat pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam perspektif yang berbeda. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari” dan bukan sebaliknya seperti apa yang dinyatakan oleh ajaran agama, maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya, sedangkan di pihak lain, terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran diluar bidang keilmuan di antaranya agama. Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. Galileo (1564-1642), oleh pengadilan agama tersebut, dipaksa untuk mencabut pernyataanya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.

Sejarah kemanusiaan di hiasi dengan semangat para martir yang rela mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Peradaban telah menyaksikan sokrates di paksa meminum racun dan John Huss dibakar. Dan sejarah tidak berhenti di sini: kemanusiaan tak pernah urung di halangi untuk menemukan kebenaran. Tanpa landasan moral maka ilmuwan mudah sekali tergelincir dapat melakukan prostitusi intelektual. Penalaran secara rasional yang telah membawa manusia mencapai harkatnya seperti sekarang ini berganti dengan proses rasionalisasi yang bersifat mendustakan kebenaran. “segalanya punya moral,” kata Alice dalam petualangannya di negeri ajaib, “asalkan kau mampu menemukannya.” (adakah yang lebih kemerlap dalam gelap; keberanian yang esensial dalam avontur intelektual?).

Jadi pada dasarnya apa yang menjadi kajian dalam bidang ontologi ini adalah  berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan; untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional? (http://kecoaxus.tripod.com/filsafat/pengfil.htm)

Aksiologi  adalah cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik-buruk (moral dan etika). Objek material aksiologi adalah perbuatan atau tingkah laku manusia secara sadar dan bebas. Pada hakikatnya aksiologi erat kaitannya dengan perbuatan manusia. Apabila dikaji secara mendalam tujuan perbuatan manusia adalah kebahagiaan. Karena kekomplekan kajian tentang etika, maka muncullah beberapa paham yang kajiannya menitik beratkan kepada perbuatan manusia untuk mencapai kebahagiaan. Paham-paham tersebut antara lain : naturalisme, hedonisme, idealisme, perfectionism, theologies, dll (Sudarsono, 1993:197—206).

 

  1. a. naturalisme,

Aliran yang beranggapan bahwa     kebahagiaan manusia itu diperoleh dengan menurutkan panggilan natural   (fitrah) kejadian manusia sekali.  Perbuatan yang baik menurut aliran ini ialah perbuatan yang sesuai dengan fitrah manusia.

Paham ini menilai baik dan tidaknya perbuatan seseorang ditilik dari adanya kesesuaian dengan naluri manusia, baik naluri lahir maupun naluri batin sebagai titik tolak kebahagiaan. Paham ini didukung oleh Prodicus, Galileo, Grotius, Voltaire, dll.

 

  1. b. hedonisme,

Aliran yang berpendapat bahwa perbuatan susila itu ialah perbuatan yang menimbulkan ‘hedone’ (kenikmatan dan    kelezatan). Kebaikan yang paling utama dan kewajiban seseorang ialah mencari kesenangan sebagai tujuan hidupnya. Aliran hedonisme dibagi menjadi dua cabang yaitu hedonism egostik dan hedonism universalistic. Aliran hedonism didukung oleh Demokritos, Aristeppos, dan Epikuros.

c. utilitarianisme

Aliran yang menilai baik dan   buruknya perbuatan manusia ditinjau dari kecil dan besarnya manfaat bagi    manusia (utility = manfaat). Paham utility didukung oleh JS. Mill, Bentham, dll.

d. idealisme

Aliran yang menilai baik buruknya    perbuatan manusia janganlah terikat pada sebab-musabab lahir, tetapi    haruslah didasarkan atas prinsip kerohanian (idea) yang lebih tinggi.

e. vitalisme

Aliran yang menilai baik-buruknya    perbuatan manusia itu sebagai ukuran ada atau tidak adanya daya hidup (vital) yang maksimum mengendalikan perbuatan itu.

f. theologies

Aliran yang berkeyakinan bahwa ukuran    baik dan buruknya perbuatan manusia itu dinilai dengan sesuai atau tidak    sesuainya dengan perintah Tuhan (Theos = Tuhan).

2.4 Aliran-Aliran Lainnya dalam Filsafat

Menurut Praja (2003:91—189) aliran-aliran lainnya dalam filsafat, yaitu

a. Positivisme

Positivisme berasal dari kata “positif”, yang artinya dengan factual, yaitu apa yang berdasarkan fakta-fakta. Menurut positivisme, pengetahuan tidak boleh melebihi fakta. Positivisme hanya menyelidiki fakta-fakta dan hubungan yang terdapat antara fakta-fakta.

Positivisme berkaitan erat dengan apa yang dicita-citakan oleh empirisme. Hanya saja, positivisme mengandalkan fakta-fakta belaka bukan berdasarkan pengalaman, seperti empirisme. Tokoh aliran positivisme, antara lain: Auguste Comte (1798-1857).

b. Intusionalisme

Intusionalisme adalah suatu aliran atau faham yang menganggap bahwa intuisi (naluri/perasaan) adalah sumber pengetahuan dan kebenaran. Intuisi termasuk salah satu kegiatan berfikir yang tidak didasarkan pada penalaran. Jadi Intuisi adalah non-analitik dan tidak didasarkan atau suatu pola berfikir tertentu dan sering bercampur aduk dengan perasaan. Tokoh aliran intusionalisme, antara lain: Plotinos (205 -270) dan Henri Bergson (1859 -1994).

c. Fenomenalisme

Secara harfiah, fenomenalisme adalah aliran atau faham yang menganggap bahwa Fenomenalisme (gejala) adalah sumber pengetahuan dan kebenaran. Seorang Fenomenalisme suka melihat gejala. Dia berbeda dengan seorang ahli ilmu positif yang mengumpulkan data, mencari korelasi dan fungsi.

Serta membuat hukum-hukum dan teori. Fenomenalisme bergerak di bidang yang pasti. Hal yang menampakkan dirinya dilukiskan tanpa meninggalkan bidang evidensi yang langsung.

Tokoh-tokoh aliran fenomenalisme, antara lain: Edmund Husserl (1859 -1938), Max Scheler (1874 -1928), Hartman (1882 -1950), Martin Heidegger (1889 -1976), Maurice Merleau-Ponty (1908 -1961), Jean Paul Sartre (1905 -1980),  dan Soren Kierkegaard (1813 -1855).

d. Sekularisme

Sekularisme merupakan suatu proses pembebasan manusia dalam berpikirnya dan dalam berbagai aspek kebudayaan dari segala yang bersifat keagamaan dan metafisika, sehingga bersifat duniawi belaka. Sekularisme bertujuan memberi interpretasi atau pengertian terhadap kehidupan manusia tanpa percaya kepada Tuhan, kitab suci dan hari kemudian. Tokoh aliran sekularisme adalah George Jacob Holyoake (1817-1906).

3. Penutup

Ontologis; cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir, merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?.

Epistemologi berusaha menjawab bagaimna proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?

Aksiologi menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abidin, Muhammad Zainal. 2009. Pengertian Filsafat, Cabang-Cabang Filsafat, Filsafat dan Agama. http://meetabied.wordpress.com/2009/12/23/pengertian-filsafat-cabang-cabang-filsafat-filsafat-dan-agama/. Diakses 12 September 2010.

­­­­­Ismalianibaru. 2008. Aliran-Aliran dalam Filsafat. http://ismalianibaru.wordpress.com/2008/04/24/aliran-aliran-dalam-filsafat/. Diakses 12 September 2010.

Praja, Juhaya S. 2003. Aliran-Aliran Filsafat dan Etika. Jakarta: Prenada Media

Sudarsono. 1993. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta

Surajiyo. 2005. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara.

Suriasumantri, Jujun S. 2001. Filsafah Ilmu: Sebuah Pengantar Populer.  Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

 

Tujuan

«  Menjelaskan tujuan dan berbagai tingkatan bentuk penilaian dari pengembangan materi pengajaran, pemilihan materi, dan  pengenalan materi pengajaran.

«  Menjelaskan instrument yang digunakan untuk sebuah bentuk penilaian

«  Pengembangan dari rencana bentuk penilaian yang tepat dan instrument pelaksanaan untuk sebuah materi pengajaran atau sebuah presentasi pengajaran.

«  Kumpulan data berupa rencana bentuk penilaian untuk sebuah data yang diberikan dari materi pengajaran atau presentasi pengajaran.

Latar Belakang

Jika Anda telah mengembangkan dan menggunakan materi pengajaran lima belas atau dua puluh tahun lalu, ini mungkin tindakan permulaan dari materi–materi yang telah dimasukkan ke dalam akhir produksi dan dibagikan kepada target populasi.  Instruktur bertanggung jawab terhadap pengajaran yang kurang bagus dan murid-murid yang lemah dalam pengajaran. Faktanya, materi pengajaran tidak cukup untuk proses pengajaran.

Masalah dari materi yang belum diuji ditambah ketika di tahun 1960-an datangnya proyek pengembangan kurikulum. Pada waktu itu, konsep dari penilaian cenderung menegaskan sebagai penentu keefektifan dari sebuah produk baru sebagai perbandingan dengan produk lain yang sudah ada. Ketika bahan pengajaran telah selesai, penelitian sering menemukan tingkat kemampuan murid yang rendah dengan materi kurikulum yang baru. Dalam tinjauan situasi ini Croanbach dan Sriven menyimpulkan bahwa harus mengembangkan konsep penilaian kita. Mereka mengusulkan pengembangan pelaksanaan yang akan disebut dengan Formatif  Evaluasi.

Sekarang ini, pengajaran telah menunjukkan  ribuan hasil pengajaran. Misalnya, di US. Di tiap tahun belum terevaluasi oleh murid dan diperbaiki sebelum disebarkan. Pengajaran lain telah menunjukkan bahwa percobaan dengan seorang dan perbaikan materi pengajaran ada bahan-bahan pokok dapat membuat seuah perbedaan yang mencolok dalam keaktifan materi pengajaran. Oleh karena itu, komponen dari model rancangan bahan pengajaran ini menekankan pentingnya kumpulan data dari anggota target populasi dan keefektifan materi serta penggunaan informasi untuk membuat materi-materi lebih efektif.

Anda harus mencatat bahwa semua langkah-langkah rancangan dan pengembangan dalam proses menyusun bahan pengajaran adalah berdasarkan teori, penelitian, dan beberapa pemikiran yang umum. Pada bagian ini, Anda akan menjadi penilai dalam arti dalam mengumpulkan data tentang keefektifan dari materi pengajaran sendiri. Menurut model rancangan pengajaran yang sudah ada bahwa hasil dari materi pengajaran akan menghasilkan kemampuan pengajaran untuk murid yang sebelumnya tidak dapat ditunjukkan dalam akhir tujuan pengajaran yang lalu.

Secara khusus, kita berfikir bahwa penilaian formatif dan perbaikan sebagai sebuah langkah utama. Akan tetapi, untuk kemurnian dan titik berat pentingnya pemeriksaaan ulang keseluruhan proses merancang bahan pengejaran katika bahan pengajaran diperbaiki, kita telah memisahkan rancangan dan pelaksanaan penilaian formatif pengajaran dari proses perbaikan bahan pengajaran.

Dalam bab ini kita akan mendiskusikan bagaimana penerapan teknik penilaian formatif dengan kerangka proses pengajaran serta untuk dikombinasikan dengan tiga hal tersebut.

Pengertian

Evaluasi formatif adalah proses perancangan untuk memperoleh data yang dapat digunakan untuk meninjau kembali instruksi agar lebih efisien dan efektif. Penekanan dalam evaluasi formatif adalah pada pengumpulan dan analisis serta revisi dari instruksi.

Ada tiga fase dasar evaluasi formatif. Pertama adalah evaluasi perorangan, evaluasi kelompok kecil, dan uji lapangan.

  1. One to One Evaluation (Evaluasi Perorangan), dalam tahap ini penyusunan bekerja dengan murid secara individu untuk memperoleh data untuk merevisi materi pengajaran.
  2. A Small Group Evaluation (Evaluasi Kelompok Kecil), kelompok yang terdiri dari delapan sampai dua puluh siswa yang mewakili dari populasi target yang mempelajari bahan pengajaran.
  3. A Field Trial (Uji Lapangan), tahap ini menekankan pada pengujian dari prosedur yang dibutuhkan untuk penerapan dari bahan pengajaran dalam situasi nyata.

Tiga tahap tersebut di dahului dengan mengkaji kembali bahan pengajaran yang secara khusus menarik yang secara tidak langsung termasuk dalam proses pengembangan bahan pengajaran.

Evaluasi Perorangan

Tujuan dari tahap ini adalah untuk mengidentifikasi dan menghilangkan kesalahan yang nyata dalam bahan pengajaran, serta untuk menghasilkan reaksi awal pada pengajaran. Hal ini dicapai melalui interaksi langsung antara penyusun dan pembelajar. Selama tahap ini, evaluasi ini melibatkan 3 atau lebih peserta didik yang berinteraksi langsung dengan desainer.

Penentuan pelajar yang dilibatkan dalam evaluasi perorangan harus mewakili populasi target, baik segi kemampuan maupun karakteristik lainnya. Misal dari segi kemampuan, dipilih yang diatas rata-rata, rata-rata, dan di bawah rata-rata. Dilihat dari motivasi, dipilih yang motivasi positif, netral, dan negatif, atau kalau itu bukan pelajar bisa dipilih berdasarkan pengalaman, diatas sepuluh tahun, dua sampai lima tahun, dan yang baru setahun.

Penyusunan bahan pengajaran telah menemukan atau membuat proses berharga dalam persiapan materi. Ketika pengajar menemukan bahan pengajaran berupa kesalahan yang berhubungan dengan pembuatan, tidak tercantumnya isi, kesalahan halaman, grafik yang tidak sesuai dengan label dan jenis lain, kesulitan-kesulitan tersebut dijadikan sebuah pemikiran untuk perancang. Anda dapat menggunakan semua informasi untuk memperbaharui bahan pengajaran dan memperbaiki kesalahan yang mencolok menjadi kesalahan yang kecil.

Evaluasi perorangan secara umum bergantung pada kemampuan penyusun untuk membuat hubungan dengan pelajar yang kemudian akan berinteraksi secara efektif terhadap reaksi yang muncul. Halmallmark menyampaikan kritikannya tentang evaluasi perorangan ini. Menurutnya, kekuatan dari proses ini adalah seorang penyusun bahan pengajaran harus berkata “Beri tahu aku jika Anda mempunyai masalah” daripada penyusun harus menentukan melalui membaca atau mendiskusikan dengan pembelajar. Dialog mungkin hanya terfokus pada pertanyaan yang ada dalam tes atau hanya mempertimbangkan poin-poin khusus yang dibuat dalam proses belajar mengajar. Sebelum evaluasi perorangan ini terjadi, penyusun harus mempunyai sebuah strategi interaksi yang dipakai dan bagaimana pengajar mengetahui apakah ini pembicaraan yang tepat dengan penilaian.

Prosedur yang khas dalam evaluasi perorangan adalah untuk menjelaskan kepada para pelajar tentang bahan pembelajaran. Reaksi pembelajar terhadap materi, mengetahui kekurangan materi, mengerjakan soal-soal, mencatat waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan materi. Pebelaajar akan menemukan kesalahan ketik, kelalaian konten, halaman yang hilang, grafik yang berlabel tidak tepat, tidak sesuai link di halaman web mereka, dan jenis lainnya. Kesulitan memahami urutan belajar, konsep belajar, dan soal-soal yang diberikan (http://kuliahemka.wordpress.com/2010/03/03/lankah-kedelapan-model-dick-carey/).

Setelah siswa menyelesaikan bahan pengajaran, mereka harus meninjau, mengkaji kembali inti pengajaran dan daftar pertanyaan dengan cara yang sama. Setelah masing-masing siswa menyelesaikannya, tanyakan mengapa mereka membuat pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Desainer akan menemukan tidak hanya kesalahan tetapi juga kenapa terjadi kesalahan. Informasi ini dapat sangat membantu selama proses revisi. Proses untuk mengevaluasi kinerja, produk, dan sikap dan pada akhirnya untuk merevisi pembelajaran termasuk butir-butir soal yang ada.

Salah satu kepentingan desainer selama evaluasi perorangan adalah untuk menentukan jumlah waktu yang diperlukan bagi pelajar untuk menyelesaikan instruksi. Hanya perkiraan secara kasar akan dapat menghasilkan hasil dari penilaian perorangan karena mencakup interaksi antara pengajaran dan penyusun. Namun, berdasarkan pengalaman, perkiraan waktu dapat menjadi tidak terwujud. Harus diingat bahwa tanpa pengajaran maka tidak akan ada penilaian formatif.

Dalam menginterpretasi data, Informasi tentang kejelasan instruksi, dampak pada pembelajar, kelayakan instruksi perlu diringkas dan terfokus. Aspek-aspek tertentu dari instruksi yang ditemukan untuk menjadi lemah kemudian dapat dipertimbangkan dalam rangka rencana revisi yang mungkin untuk meningkatkan instruksi untuk pelajar serupa.

Hasil dari evaluasi perorangan adalah instruksi bahwa :

1)      Berisi kosa kata yang sesuai, kompleksitas bahasa, contoh, dan ilustrasi untuk peserta didik;

2)      Baik menghasilkan sikap dan prestasi pelajar, atau direvisi dengan tujuan meningkatkan pelajar sikap atau kinerja selama percobaan berikutnya, dan

3)      Layak digunakan dengan pembelajar, sumber daya, dan pengaturan yang ada. Instruksi lebih lanjut dapat disempurnakan dengan menggunakan kelompok kecil cobaan (http://kuliahemka.wordpress.com/2010/03/03/lankah-kedelapan-model-dick-carey/).

Evaluasi Kelompok Kecil

Ada dua tujuan dalam evaluasi kelompok kecil. Pertama efektivitas perubahan dan identifikasi masalah yang masih tersisa setelah evaluasi perorangan. Kedua untuk menentukan apakah pelajar dapat menggunakan instruksi tanpa berinteraksi dengan instruktur.

Evaluasi kelompok kecil terdiri dari 8 – 20 orang pembelajar. Jika jumlahnya kurang dari delapan, data yang dihasilkan mungkin tidak mewakili target populasi. Sedangkan jika lebih banyak dari dua puluh maka akan menemukan data dari penambahan pengajaran, tidak menghasilkan sesuatu penambahan informasi yang penting. Dimungkin untuk memilih secara acak dalam populasi target. Mungkin desainer perlu mengikutkan pembelajar yang telah ditetapkan untuk mewakili kelompok, misalnya pembelajar yang prestasinya rendah, rata-rata, tinggi, atau yang terbiasa dengan prosedur tertentu misalnya berbasis komputer, web dan yang tidak, atau yang muda, berpengalaman. Contohnya seperti sub-kelompok yaitu,

š Rendah, merata, dan nilai prestasi tinggi para siswa.

š Pelajar dengan bahasa yang bermacam-macam

š Pelajar yang mengenal prosedur tertentu.

š Laki-laki dan perempuan

š Pelajar yang lebih muda, yang berpengalaman, dan pelajar yang dewasa.

Prosedurnya, guru memulai dengan menjelaskan kemudian pembelajar diberikan pretest. Pada pelaksanaan peran, guru sesedikit mungkin. Hanya dalam kasus ketika perangkatnya gagal atau ketika pembelajar terhenti dalam proses pengajaran, pengajar harus turun tangan menanganinya.  Setiap pelajar yang kesulitan dalam proses dan bagian dan solusi harus jelas dicatat sebagai bagian dari revisi data.

Langkah tambahan dari evaluasi adalah kuesioner sikap untuk mendapatkan tanggapan pembelajar, kelemahan, dan kelebihan dalam strategi pembelajaran. Oleh karena itu pertanyaan dalam kuesioner minimal mencakup :

š Apakah instruksi menarik?

š Apakah Anda mengerti apa yang Anda harus dipelajari?

š Apakah bahan-bahan yang berkaitan langsung dengan tujuan?

š Apakah latihan-latihan praktek memadai?

š Apakah latihan-latihan praktek relevan?

š Apakah benar-benar tes mengukur pengetahuan tentang tujuan?

š Apakah anda menerima umpan balik yang memadai pada latihan-latihan praktis?

š Apakah Anda merasa percaya diri ketika menjawab pertanyaan di tes?

š Apakah pengayaan dan materi remedial memuaskan?

Data kuantitatif dan informasi yang dikumpulkan selama evaluasi dirangkum dan dianalisis. Data kuantitatif terdiri dari skor tes serta persyaratan waktu dan biaya proyeksi. Informasi deskriptif terdiri dari komentar yang dikumpulkan dari sikap kuesioner, wawancara, atau evaluator catatan tertulis selama proses evaluasi.

Hasil dari evaluasi kelompok kecil mungkin perbaikan instruksi yang sederhana, seperti mengubah contoh dan kosa kata dalam tes item atau meningkatkan jumlah waktu yang dialokasikan untuk studi. Atau mungkin memerlukan perubahan besar dalam strategi pengajaran (misalnya, strategi motivasi, urutan tujuan, pengiriman instruksional format), atau dalam sifat informasi yang disajikan kepada peserta didik (http://kuliahemka.wordpress.com/2010/03/03/lankah-kedelapan-model-dick-carey/).

Evaluasi Uji Lapangan

Dalam tingkatan akhir penilaian formatif, mencoba untuk menggunakan sebuah situasi pengajaran yang menyerupai pokok penggunaan materi pengajaran. Tujuan dari penilaian formatif terakhir yaitu uji lapangan adalah untuk efektivitas perubahan pada evaluasi kelompok kecil dan instruksi dapa digunakan pada kontek belajar yang sebenarnya.

Dalam penentuan lokasi evaluasi dan pemilihan pelajar, uji lapangan dapat dicobakan pada kelompok besar yang terdiri dari 30 orang yang dipilih secara acak yang berbeda. Anda harus mengidentifikasi sebuah kelompok yang bersedia berpartisipasi dalam uji lapangan. Kelompok tersebut haruslah disiplin untuk memastikan bahwa mewakili dari target populasi untuk materi yang sesungguhnya. Atau pada kelas perorangan tetapi akan menemui kesulitan karena pembelajar akan tersebar. Kesulitannya adalah untuk menemukan sebuah kelompok yang cukup besar dari pelajar yang siap untuk menerima bahan pengajaran karena pengajaran akan menyebar dalam materi yang mereka pelajari.

Prosedur uji lapangan hampir sama dengan kelompok kecil. Perbedaan pada peran desain yang harus dikurangi atau dihilangkan diganti dengan peran guru, oleh karenanya guru harus dilatih dulu. Mungkin setelah evaluasi kelompok kecil pretest dan posttest diubah atau dikurangi hanya menilai entry paling penting. Kuesioner difokuskan pada faktor-faktor lingkungan yang mungkin mengganggu pembelajaran. (http://kuliahemka.wordpress.com/2010/03/03/lankah-kedelapan-model-dick-carey/).

Pemilihan Materi dalam Evaluasi Formatif

Tujuan awal evaluasi formatif dengan menggunakan materi yang ada adalah untuk menentukan keefektifan bila diterapkan dalam suatu populasi atau dalam ruang kingcup tertentu, serta untuk mengidentifikasikan cara lain sebagai proses penambahan atau pengurangan materi atau prosedur pengajaran yang mungkin  bisa menciptakan keefektifan dari penerapan materi tersebut. Oleh karena itu, dalam prosedur evaluasi formatif memfokuskan pada pemilihan materi yang dirancang serta penerapannya dalam proses pengajaran.

Persiapan dalam penerapan materi yang akan digunakan dalam pengajaran, sebaiknya disesuaikan dengan materi yang telah ada. Suatu analisis seharusnya didokumentasikan dalam pengembangan materi, keefektifannya bila disampaikan pada suatu kelompok, serta keumuman penjelasan materi yang akan digunakan selama proses evaluasi terhadap suatu kelompok. Uraian tentang bagaimana materi seharusnya diterapkan dalam suatu proses pengajaran serta penjelasan penggunaan alat instrument yang dipakai dalam pengambilan nilai.

Dalam penyediaan aktivitas praktek atau presentasi pengejaran, seharusnya mengacu pada tes bakat peserta, tes awal terhadap pengetahuan yang sebelumnya dimiliki, tes akhir terhadap pengetahuan yang sebelumnya dimiliki, mencakup kemampuan si pembelajar. Jadi, pengajar mempunyai posisi yang unik karena menciptakan kegiatan praktek dan umpan balik. Meliputi rencana pengajaran, memberikan kesempatan kepada si pembelajar pengajaran menunjukkan kemampuan yang sudah mereka miliki. Dalam proses ini juga, mengindentifikasi keterampilan yang belum mereka punyai. Kemajuan praktek dan tugas diatur dalam dua bentuk.

Pengajar bisa menyampaikan materi secara lisan, sambil melihat kemampuan pelajar  atau mungkin pengajar mengumpulkan hasil praktek dan umpan balik selama latihan. Pendekatan selanjutnya memuat tentang kesalahan-kesalahan yang diperkirakan dapat menghambat kemajuan pelajar.

Sebagian pengajar banyak menerapkan jenis-jenis evaluasi formatif dalam proses pengajarannya. Pengajar menekankan keseluruhan komponen dan  penggunaan system teknik dalam mengumpulkan dan menganalisa data dengan tujuan merevisi rencana pengajaran. Untuk mengidentifikasi kelemahan-kelemahan dalam rencana pengajaran dapat menggunakan data kemajuan yang dibandingkan dengan hasil tes akhir, pertanyaan mengenai bakat, dan komentar si pembelajar selama proses pengajaran.

Penerapan materi pilihan memerlukan peran interaktif pengajar. Berimplikasi strategi memerlukan perngajar mencakup penyediaan materi-materi pengajaran. Oleh sebab itu, dalam setiap kurikulum, beberapa prosedur evaluasi dan jenis revisi yang sama diterapkan.

Pengumpulan

Berikut ini ada beberapa panduan yang sebaiknya dipertimbangkan dan direncanakan dalam tiap tahap evaluasi formatif. Hal yang terutama sekali yaitu mengumpulkan data yang diyakini bisa membantu dalam mengambil keputusan yang dapat meningkatkan proses pengajaran. Data tidak hanya diperoleh dari pelaksanaan evaluasi atau data yang sudah direvisi karena dapat membatasi cara pengajaran. Berikut ini data yang sebaiknya dikumpulkan :

1)   Data yang diperoleh dari tes bakat, tes awal, tes akhir dan tes yang dilampirkan.

2)   Komentar atau catatan dari pengajaran atas kesulitan dari materi yang disampaikan.

3)   Data yang dikumpulkan dengan bentuk pertanyaan atau komentar

4)   Waktu yang dibutuhkan si pelajar untuk melengkapi komponen pengajaran.

5)   Reaksi dari permasalahan pengajaran yang sering muncul.

Disetiap pengevaluasian, materi seharusnya mempertimbangkan teknik penggunaan media agar terciptanya keefektifan dalam pelakasanaannya. Hal tersbut harus diperhatikan karena pengajaran harus memastikan apakah media tersebut dapat digunakan secara efektif atau tidak, terlebih lagi bila data yang diperoleh tidak valid.

Hal ini juga merupakan tahap awal dalam evaluasi formatif, terutama dalam tahap evaluasi perorangan sehingga proses belajar mengajar menjadi hikmat dan pelajar terfokus kepada pengajar. Mereka lebih terkonsentrasi akan materi dan menciptakan suasana sebaik mungkin dan apabila siswa berjumlah banyak, evaluasi formatif agaknya kurang efektif.

Masalah yang perlu diperhatikan ialah mengenai pemilihan peserta yag mengikuti kegiatan sebaiknya dinilai pengetahuan mereka oleh pengajar. Ketika pengajar telah memperoleh informasi dari tes bakat dan tes awal pengetahuan para peserta ujian, mungkin beberapa kali akan mengalami kesulitan untuk menetukan apakah para peserta tersebut mahir atau tidak menguasai pelajaran yang telah dipelajari.

Evaluasi formatif perorangan disusun sebaiknya menggunakan tiga orang peserta. Satu hal akhir yang harus diperhatikan adalah siapkan diri untuk memperoleh informasi yang menunjukkan bahwa bahan belum efektif seperti yang dipikirkan bila telah mengembangkan proses pengajaran.

Sebaiknya mencatat jalannya proses evaluasi perkembangan positif umpan balik, dari para siswa yang mungkin memberikan sedikit informasi tentangbagaimana harus mengembangkan materi. Umpan balik positif hanya menunjukkan bahwa apakah “Materi yang diterapkan kepada siswa sudah efektif?” dan pada akhirnya “Materi apa yang lebih efektif dan sesuai dengan motivasi dan kemampuan para siswa?” Selama menjalani proses evaluasi formatif, lebih baik jika meninjau terlebih dahulu materi-materi yang telah dikembangkan oleh pengajar lainnya. Sehingga dapat membantu untuk mengembangkannya.

Contoh-contoh

Berikut ini beberapa informasi yang dapat digunakan untuk berpikir atau untuk acuan tentang proyek Anda. Anda dapat mengidentifikasi kegiatan-kegiatan lainnya ketika Anda menerapkan proyek kerja Anda. Contohnya pada kegiatan evaluasi formatif tes perorangan, melibatkan para peserta dan populasi target,

1)   Mengidentifikasi siapa siswa Anda, target populasi apa yang sebaiknya diterapkan?

2)      Susunan pengajaran untuk siswa

3)      Melaksanakan proses diskusi mengenai materi yang ada

4)      Pengevaluasian tes yang telah disusun untuk mengukur kemampuan siswa

  1. Dapatkah siswa mengartikan perintah tersebut?
  2. Apakah siswa mengerti permasalahan tersebut?
  3. Dapatkah siswa mengaplikasikan keterampilan yang ada?

5)   Diskusilah dengan siswa yang dalam pengajaran

  1. Perintahkan siswa untuk menulis kesulitan yang ada dalam permasalahan tersebut.
  2. Jika siswa gagal memahami materi penjelasan yang ada, cobalah memberikan penjelasan yang lainnya.
  3. Berilah catatan berupa contoh, iliustrasi, dan informasi yang mungkin diperlukan tambahan dalam pelaksanaan evaluasi formatif.

Kesimpulan

Penyusunan evaluasi-evaluasi formatif bertujuan:

  1. Untuk menentukan keefektifan suatu materi bila diterapkan dalam suatu populasi dalam ruang lingkup tertentu.
  2. Menjelaskan tujuan dan berbagi tingkatan bentuk penilaian dari materi pengajaran dan instrument yang digunakan.
  3. Pengembangan dari rencana bentuk penilaian
  4. Merupakan kumpulan data menurut rencana sebuah bentuk penilaian

Definisi evaluasi formatif

Evaluasi formatif adalah suatu proses pengajaran dimana pengajaran menggunakan data yang diperoleh untuk meninjau kembali bahan pengajaran agar lebih efektif dan efesien.

Tiga tahap utama:

1)      Evaluasi perorangan

2)      Evaluasi kelompok kecil

3)      Uji lapangan

  1. 1. Evaluasi Perorangan

Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi dan menghilangkan kesalahan yang nyata   dalam bahan pengajaran dan menghilangkan reaksi awal pada daya pengajaran. Perbedaannya dengan yang lain, evaluasi perorangan secara total bergantung pada kemampuan penyusun untuk mengadakan hubungan dengan pengajaran dan berinteraksi secara efektif.

Kelemahannya (kritikan Hallmark) :

1)      Kekuatan dari prosese ini berkurang, karena penyusun kurang membaca bahan-bahan yang dapat mendukung diskusi dari bahan yang dipresentasikan.

2)      Dialog hanya terfokus pada bahan yang ada dalam kelas.

3)      Diharuskan penyusun mempunyai strategi bagaimana berinteraksi dengan siswa.

4)      Setelah siswa menyelesaikan bahan pengajaran, pengajar harus mengevaluasi kembali inti pegajaran dan daftar pertanyaan dengan cara yang sama.

Kelebihannya adalah hanya dengan menggunakan penilaian kasar akan dapat menjadi hasil dari penilaian evaluasi perorangan.

  1. 2. Evaluasi Kelompok Kecil

Tujuan utama :

1)      Menentukan keefektifan dari perubahan yang dibuat

2)      Pengejaran dapat menggunakan bahan pengajaran tanpa harus berinteraksi dengan pengajaran.

Kelemahannya :

1)      Masalah yang timbul jika populasi yang diambil merupakan sekumpulan orang dengan latar belakang dan kemampuan yang berbeda.

2)      Jika perangkat gagal dan tidak dapat diteruskan maka pengajar harus turun tangan menanganinya.

Kelebihannya adalah kegiatan ini merupakan mengidentifikasi tanggapan mereka, kelemahan, dan kekuatan dalam pelaksanaan strategi pengajaran.

3) Uji Lapangan

Tujuan dari uji lapangan adalah untuk menentukan jika perubahan yang dibuat setelah teingkatan kelompok kecil telah efektif dan jika bahan pengajaran yang digunakan adalah sesuai dengan yang diharapkan. Dalam mengambil tempat untuk uji lapangan kemungkinan besar akan berhadapan dengan satu dari dua situasi :

1)      Materi yang diujicobakan di dalam kelas mewakili kelompok besar, jika menggunakan materi pengajaran sendiri mungkin dapat menjadi pengalaman yang baru.

2)      Jika materi pengajarn yang diberikan berbeda , maka akan cukup sulit untuk menentukan sebuah kelompok yang cukup besar yang siap untuk bahan pengajaran karena materi akan menyebar di materi yang mereka pelajari.

Pemilihan Materi dalam Evaluasi Formatif

v  Persiapan dalam penerapan materi yang akan digunakan dalam pengajaran sebaiknya disesuaikan dengan materi yang ada.

v  Pengajar sebaiknya berperan sebag ai administer dalam pelaksanaan tes.

v  Pengagajar yang mengadakan praktek sebaiknya mampu menyelidiki kemajuan bakan sipembelajar dalam memahami materi.

v  Pengajar sebaiknya menghitung waktu yang digunakan dalam pengadaan evaluasi.

Berikut ini ada beberapa data panduan yang harus dikumpulkan yang dapat membantu dalam mengambil keputusan  dalam meningkatkan proses pengajaran :

  1. Data yang diperoleh dari tes bakat, tes awal, tes akhir, dan tes yang dilampirkan.
  2. Komentar atau catatan dari pengajaran.
  3. Data yang dikumpulkan dengan bentuk pengajaran.
  4. Waktu yang dibutuhkan si pembelajar pengajaran untuk melengkapi komponen pengajaran
  5. Reaksi dari masalah pengajaran yang sering muncul.

Daftar Pustaka

Dick dan Walter Carey. 1985. The Systematic Design of Instruction. USA : Scott Foresman and Company (Chapter 10 halaman 196-218).

Muhamad Khotib, 2009. Lankah Kedelapan Model Dick Carey. http://kuliahemka.wordpress.com/2010/03/03/lankah-kedelapan-model-dick-carey/. Dikutip pada tanggal 22 Oktober 2010.

 

1. Pendahuluan
Dewasa ini di berbagai belahan dunia, perempuan mulai bangkit mempertanyakan dan menggugat dominasi dan ketidakadilan yang terjadi dalam sistem patriarkhi. Perempuan selama ini memang telah mengalami subordinasi, represi, dan marjinalisasi di dalam sistem tersebut, di berbagai bidang, termasuk di bidang sastra. Dalam sejarah kesusastraan di berbagai wilayah, kita akan melihat berbagai keadaan yang memiliki persamaan sehubungan dengan keberadaan perempuan di bidang ini, yakni tersubordinasi dan termarjinalisasinya keberadaan mereka, baik pada tataran proses kreatif, kesejarahan, maupun sosial.
Di Amerika, sejarah tidak pernah menulis tentang perempuan, karena penulisan sejarah biasanya hanya menyebutkan keberhasilan orang-orang yang memiliki kekuasaan, yang pada saat itu didominasi oleh laki-laki kulit putih. Menurut Saparie (http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=113881), Di Indonesia, seperti pernah dikatakan Nenden Lilis A, keterpojokan perempuan di dunia sastra juga terjadi, meski tak seeksis di Amerika. Sejarah kesusastraan kita sempat mencatat nama-nama dan karya-karya perempuan. Namun, dalam penilaian terhadap karya-karya mereka banyak terjadi pengabaian. Kritik kesusastraan lebih banyak difokuskan pada karya laki-laki sehingga pendeskripsian tentang wawasan estetik hanya didasarkan pada apa yang dicapai oleh laki-laki. Akibatnya, apa yang pernah dicapai perempuan, yang sebenarnya penting, tidak terjelaskan.

Sampai saat ini belum banyak kritikus sastra yang menggunakan perspektif feminisme dalam melakukan kritik terhadap karya sastra. Pada awalnya karya sastra perempuan di Amerika pun pernah dianggap tidak ada artinya. Anggapan itu muncul dari stereotip bahwa perempuan pasti akan membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan persoalan domestik. Bahkan, kalau ada karya yang baik dan bisa menggugah pembaca perempuan, dikhawatirkan akan membahayakan kedudukan dan kredibilitas pengarang laki-laki. Karena itu tidak mengherankan kalau pada awalnya pengarang perempuan di Amerika pun pernah menggunakan nama samaran laki-laki agar karya mereka bisa diterima masyarakat.
Kondisi-kondisi timpang di atas, seiring gerakan feminisme di berbagai belahan dunia dan berkembangnya kajian-kajian perempuan, dipertanyakan para feminis. Para feminis melihat perlu ada pengkajian dan penyusunan ulang terhadap kondisi kesusastraan itu dengan apa yang kemudian dinamakan kritik sastra feminis.
Kritik sastra feminis secara teknis menerapkan berbagai pendekatan yang ada dalam kritik sastra, Kritik yang mula-mula berkembang di Prancis (Eropa), Amerika, dan Australia ini merupakan sebuah pendirian yang revolusioner yang memasukkan pandangan dan kesadaran feminisme (pandangan yang mempertanyakan dan menggugat ketidakadilan yang (terutama) dialami perempuan yang diakibatkan sistem patriarkhi) di dalam kajian-kajian kesusastraan.
Makalah ini menyajikan teori, sejarah, serta tujuan dari kritik sastra feminisme. Tidak hanya itu, makalah ini juga akan menyajikan aplikasi terhadap karya sastra. Pengaplikasian teori ini dilakukan pada sebuah naskah drama N. Riantiarno yang berjudul Sampek Engtay.

2. Tinjuan Pustaka
2.1 Sejarah Gerakan Feminisme
Kritik ini berawal dari hasrat para feminis untuk mengkaji karya penulis-penulis wanita di masa silam dan untuk menunjukkan citra wanita dalam karya penulis-penulis pria yang menampilkan wanita sebagai makhluk yang ditekan, disalahtafsirkan, serta disepelekan oleh tradisi patriarkal yang dominan.
Hasrat pertama didasari oleh perasaan cinta dan setia kawan terhadap penulis-penulis wanita. Hasrat kedua didasari oleh perasaan prihatin dan amarah. Konvensi Seneca Falls Tahun 1848 yang dipelopori oleh Elizabeth Cady Stanton, Lucretia Mott, dan Susan B. Anthony, berhasil menggalang dukungan bagi tuntutan mereka agar wanita diberi hak yang sama (dalam bidang hukum, ekonomi, dan sosial). Usaha mereka ini banyak mendapat tantangan dari “nilai-nilai Victoria” yaitu wanita harus menjaga kesalehan dan kemurnian mereka, bersikap pasif dan menyerah, rajin mengurus keluarga dan rumah tangga.
Tahun 1860-an melakukan upaya untuk memperoleh hak politik dan pendidikan yang memunculkan perguruan tinggi khusus untuk perempuan seperti Vassar College, Smith College, Wellesley College, dan Bryn Mawr College. Kemudian, sebanyak 11.000 wanita muda terdaftar di 582 PT dan pada tahun 1900 tercatat 40% lulusan PT adalah wanita pada tahun 1870-an.
Tahun 1920 memperoleh hak memilih dan dipilih, setelah memperoleh pendidikan yang baik, dan mengambil alih berbagai pekerjaan yang ditinggalkan laki-laki yang pergi berperang pada PD I. Namun, di tahun 1920-1930 wanita Amerika cenderung kembali ke lingkungan domestik, tidak ikut bersaing dengan kaum pria dalam bidang politik maupun bisnis, dan mengalihkan perhatian ke bidang kesejahteraan wanita dan anak yang meliputi bidang pendidikan dan kesehatan. Di tahun 1963 terbit buku The Feminine Mystique, karya Betty Friedan (Ahli sosiologi dan aktivis Feminisme) yang menandai munculnya gerakan feminisme gelombng kedua di Amerika.
Di Indonesia sendiri, gerakan feminisme muncul di ketika terbitnya tulisan “Habis gelap terbitlah terang” karya R. A. Kartini (Ibu Emansipasi). Dilanjutkan Dewi Sartika Tahun 1904 mendirikan “Sekolah Isteri” kemudian namanya diganti dengan “Sekolah Keutamaan Isteri”. Hingga tahun 1912, ia telah mendirikan 9 sekolah. Selain itu, tahun 1912 lahirnya sebuah organisasi Perempuan bernama Poetri Mardika kemudian mengajukan mosi kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1915 agar perempuan dan laki-laki diperlakukan sama di muka hukum.
Berbagai organisasi Perempuan muncul pada kurun waktu 1915-1925. Diantaranya adalah: Pawiyatan Wanito (Magelang, 1915), Percintaan Ibu Kepada Anak Temurun—PIKAT (Manado, 1917), Purborini (Tegal, 1917), Aisyiyah atas bantuan Muhammadiyah (Yogyakarta, 1917), Wanito Soesilo (Pemalang, 1918), Wanito Hadi (Jepara, 1919), Poteri Boedi Sedjati (Surabaya, 1919), Wanito Oetomo dan Wanito Moeljo (Yogyakarta, 1920), Serikat Kaoem Iboe Soematra (Bukit Tinggi, 1920), Wanito Katolik (Yogyakarta, 1924). Dalam catatan sejarah, hampir setiap organisasi perempuan ini, menerbitkan majalah mereka sendiri sebagai media untuk membentuk opini publik sehingga gagasan-gagasan mereka terkomunikasikan ke dalam masyarakat luas. Kemudian dibentuklah Kongres Perempuan Indonesia I, II, dan III guna menempatkan perempuan Indonesia menjadi lebih baik dari sebelumnya (http://www.google.co.id/#hl=id&source=hp&biw=1280&bih=619&q=sejarah+kritik+sastra+feminisme&aq=f&aqi=&aql=&oq=&gs_rfai=&fp=9798f548f006646a).

2.2 Landasan Gerakan Feminisme
Landasan terbentuknya gerakan feminisme, didasari oleh beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut antara lain, aspek politis, aspek evangelis, dan aspek sosialisme. Aspek politis terlihat ketika terjadinya konferensi di Seneca Falls (USA) Tahun 1848, sebagai awal timbulnya gerakan perempuan secara terorganisasi dan dianggap pula sebagai Women’s Great Rebellion. Para tokoh feminis memproklamasikan versi lain dari Deklarasi kemerdekaan USA, yang awalnya berbunyi “all men are created equal”(1776) menjadi “all men and women are created equal”.
Aspek keduan, aspek evangelis, dilihat dari sudut pandang agama (Katholik & Protestan) menempatkan wanita pada posisi yang lebih rendah daripada laki-laki. Aspek yang terakhir yaitu aspek sosialisme. Ideologi feminisme dipengaruhi oleh konsep Sosialisme dan Marxis. Wanita Amerika sebagai kelas tertindas (proletar) dalam masyarakat kapitalis tidak memiliki nilai ekonomis karena hanya mengurus rumah tangga, berbeda dengan pekerjaan laki-laki yang menghasilkan uang (borjuis) (http://www.google.co.id/#hl=id&source=hp&biw=1280&bih=619&q=sejarah+kritik+sastra+feminisme&aq=f&aqi=&aql=&oq=&gs_rfai=&fp=9798f548f006646a).

2.3 Feminisme
Wolf dikutip Sofia (2009:13), mengartikan feminisme sebagai teori yang mengungkapkan harga diri pribadi dan harga diri semua perempuan. istilah “menjadi feminism”, bagi Wolf harus diartikan dengan “menjadi manusia”. Pada pemahamannya yang demikian, seorang permpuan akan percaya pada diri mereka sendiri. Sementara itu, Budianto masih dikutip Sofia mengartikan permasalahan ketimpangan dan ketidakadilan dalam pemberian peran dan identitas social berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Istilah feminism berarti kesadaran akan adanya ketidakadilan jender yang menimpa kaum perempuan, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Kesadaran itu harus diwujudkan dalam tindakan yang dilakukan baik oleh perempuan maupun laki-laki untuk mengubah keadaan tersebut.
Feminisme, dalam kamus bahasa Indonesia berarti mengenai (menyerupai seperti) wanita, bersifat kewanitaan. Feminisme berarti gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan kaum pria. Dari wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, mengenemukakan bahwa feminisme adalah sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria (http://id.wikipedia.org//w/index.php?title=Feminisme&action=edit/).
Dengan demikian, dapat diartikan feminisme merupakan sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria. Emansipasi cenderung digunakan sebagai istilah yang berarti pembebasan dari perbudakan yang sesungguhnya dan persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Perempuan dalam pendangan feminisme mempunyai aktivitas dan inisiatif sendiri untuk memperjuangkan hak dan kepentingan tersebut dalam gerakan untuk menuntut haknya sebagai manusia sepenuhnya.

2.4 Ragam Kritik Sastra Feminisme
Seperti yang kita ketahui, kritik sastra feminisme berawal dari hasrat para feminism untuk mengkaji karya penulis-penulis wanita di masasilam dan untuk menunjukkan citra wanita dalam karya penulis-penulis pria yang menampilkan wanita sebagai makhluk yang dengan berbagai cara ditekan, disalahtafsirkan, serta disepelekan oleh tradisi patriarchal yang dominan. Boleh dikatakan , hasrat yang pertama didasarkan oleh perasaan cinta dan setia kawan terhadap penulis-penulis wanita pada zaman dahulu, dan hasrat yang kedua didasari oleh perasaan prihatin dan amarah.
Kedua hasrat ini menimbulkan berbagai ragam cara mengkritik yang kadang-kadang berpadu. Djajanegara (2003:22—39) mengemukakan beberapa ragam kritik sastra feminism yang muncul dari kedua hasrat di atas. Ragam tersebut antara lain, kritik ragam idelogis, kritik ragam ginokritik, kritik ragam feminis-sosial, kritik ragam lesbian, dan kritik ragam feminis-ras.

2.4.1 Kritik Ragam Ideologis
Kritik ragam ideologis merupakan kritik sastra feminis yang paling banyak dipakai. Kritik sastra feminis ini melibatkan wanita, khususnya kaun feminis sabagai pembaca wanita adalah citra steriotipe wanita dalam karya sastra . kritik ini juga meneliti nkesalahpahaman tentang wanita dan sebab-sebab wanita sering tidak diperhitungkan , bahkan nyaris diabaikan sama sekali dalam kritik sastra. Pada dasarnya ragam kritik sastra ini merupakan cara menafsirkan suatu teks, yaitu satu di antara banyak cara yang dapat diterapkan untuk teks yang paling rumit sekali pun. Cara ini bukan saja memperkaya wawasan para pembaca wanita, tetapi juga membebaskan cara berpikir mereka.

2.4.2 Kritik Ragam Ginokritik
Kritik sastra feminis ragam lain adalah kritik yang mengkaji penulis-penulis wanita. dalam ragam ini termasuk penelitian tentang sejarah karya sastra wanita, gaya penulisan, tema, genre, dan struktur tulisan wanita, profesi penulis wanita sebagai suatu perkumpulan, serta perkembangan dan peraturan tradisi penulis, serta perkembangan dan peraturan tradisi penulis wanita. Jenis kritik sastra feminis ini dinamakan gynocritics atau ginokritik dan berbeda dari kritik ideologis, karena yang dikaji disini adalah maslah perbedaan. Ginokritik mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar, seperti apakah penulis-penulis wanita merupakan kelompok khusus, dan apa perbedaan antara tulisan wanita dan tulisan laki-laki.

2.4.3 Kritik Sastra Feminis-Sosialis
Kritik sastra feminis-sosialis atau kritik sastra marxis meneliti tokoh-tokoh wanita dari sudut pandang sosialis, yaitu kelas-kelas masyarakat. Pengrkritik feminis mencoba mengungkapkan bahwa kaum wanita merupakan kelas masyarakat yang tertindas. Gagasan ini memang mempunyai dasar kuat. Mary Wollstonecraft, perintis gerakan feminis di Inggris mengemukakan dalam tulisannya bahwa kaun wanita, khususnya dari kalangan menengah, merupakan kelas tertindas yang harus bangkit dari belenggu rumah tangga. Pandangan feminis lain menyatakan bahwa kaum wanita disamakan dengan kelas buruh yang hanya memiliki modal tenagadan tidak memiliki modal uang atau alat-alat produksi. Para penganut paham ini mengaku adanya dua kubu yaitu kubu “umum” dan kubu “rumah”. Dalam masyarat patriakal, perempuan dimasukkan ke dalam kubu rumah yang terbatas pada lingkungan serta kehiduppan an di rumah, sedangkan laki-laki mengusai kubu umum, yaitu lingkungan dan kehidupan di luar rumah. Maka, kritik sastra feminis-sosial mencoba menunjukkan bahwa tokoh-tokoh wanita dalam karya-karya sastra lama adalah manusia-manusia yang tertindas, yang tenaganya dimanfaatkan untuk kepentingan kaum laki-laki tanpa menerima bayaran.

2.4.4 Kritik Ragam Lesbian
Kritik sastra feminis lesbian, ragam kritik ini hanya meneliti penulis dan tokoh wanita saja. Ragam kritik ini masih terbatas kajiannya karena beberapa factor. Factor pertama, rupa-rupanya para feminis pada umumnya kurang menyukai kelompok wanita homoseksual dan memandang mereka sebagai kaum feminis radikal. Sebaliknya, kelompok lesbian menyesalkan sikap kaum feminis moderat yang hanya mengakui heteroseksual sebagai satu-satunya cara alami dalam pengungkapan emosi dan hasrat seksual yang normal. Kedua, waktu tulisan-tulisan tentang wanita bermunculan pada awal-awal tahun 1970-an, jurnal-jurnal kajian wanita untuk kurun waktu yang cukup panjang tidak memuat tulisan tentang lesbianism. Ketiga, kaum lesbian sendiri belum mencapai kesepakatan tentang definisi lesbianism. Berdasarkan uraian tersebut, tujuan kritik sastra feminis-lesbian adalah mengembangkan suatu definisi yang cermat tentang makna lesbian. Kemudian pengkritik satra lesbian akan menentukan apakah definisi ini dapat diterapkan pada diri penulis atau pada teks karyanya.

2.4.5 Kritik Ragam Feminis-Ras
Ragam kritik feminis yang terakhir adalah kritik sastra feminis-ras atau kritik sastra feminis-etnik. Kaum feminis etnik di Amerika menganggap dirinya berbeda dengan kaum feminis kulit putih. Mereka bukan saja mengalami diskriminasi dari kaum laki-laki kulit putih dan kulit hitam, tetapi juga diskriminasi rasial dari golongan mayoritas kulit putih baik laki-laki maupun perempuan.pengkritik sastra ini ingin membuktikan keberadaan sekelompok penulis feminis-etnik beserta karya-karyanya, baik dalam kajian wanita maupun dalam kanon sastra tradisonal dan sastra feminis.

3. Pendekatan Feminisme Kekuasaan
Selain kelima ragam feminimis tersebut, terdapat dua jenis pendekatan yang sangat menentukan sikap peneliti dalam menganalisis permasalahan perempuan dalam karya satra. Wolf dikutip Sofia (2009:17—19), membagi pendekatan feminism dalam dua hal yaitu feminisme korban dan feminisme kekuasaan.

3.1 Feminisme Korban (victim feminism)
Feminisme korban melihat permpuanj dalam peran seksual yang murni dan mistis, dipandu oleh burani untuk mengasuh dan memelihara, sertamenekankan kejahatan-kejahatan yang terjadi atas perempuan sebagai jalan untuk menuntut hak perempuan sebagai manusia biasa yang seksual, individual, tidak lebih baik dan tidak lebih buruk dibandingkan dengan laki-laki yang menjadi mitranya dan mengklaim hak-hakna atas dasar logika yang sederhana, yaitu perempuan memang memiliki hak.
Para pendekatan feminism korban, laki-laki menjadikan perempuan sebagai obejek dan mengklaim bahwa perempuan tidak pernah melakukan sebaliknya kepada laki-laki. Selain itu, laki-laki dianggap suka berpoligami dan hanya menegjar sesuatu yang tampak. Sementara itu, perempuan dipandang monogamy dan mementingkan emosi. Dengan adanya gegar gender (genderquake), yaitu tumbuhlah kesadaran bahwa perempuan bukanlah minoritas, perempuan tidak perlu mengemis kepada siapa oun untuk melakukan sesuatu.

3.2 Feminisme Kekuasaan
Dekade 1990-an mulai muncul citra perempuan sebagai pemegang kekuasaan yang telah membebaskan perempuan untuk membayangkan diri mereka sebagai makhluk yang tidak hanya menarik dan memberikan perasaan ingin menyayangi, melainkan juga dapat mendorong kea rah aksi adalah citra tentang agresivitas, keahlian, dan tantangan, ketimbang pencitraann tentang korban. Oleh karena itu, yang diperlukan untuk menganalisis perempuan-perempuan yang memahami kekuatan dirinya adalah pendekatan feminism kekuasaan. Pendekatan feminisme kekuasaan merupakan pendekatan yang luwes yang menggunakan dasar perdamaian, bukan dasar perang dalam perjuangan meraih hak setara. Pendekatan ini bersifat terbuka dan menghormati laki-laki serta dapat membedakan ketidaksukaan pada laki-laki.
Prinsip pendekatan ini yang pertama adalah perempuan dan laki-laki mempunyai arti yang sama dalam kehidupan wanita. Kedua, perempuan berhak menentukan nasibnya sendiri. Ketiga, pengalaman-pengalaman mempunyai makna bukan sekedar omong kosong. Keempat, perempuan berhak mengungkapkan kebenaran tentang pengalaman-pengalaman mereka. Kelima, perempuan layak mendapatkan lebih banyak segala sesuatu yang tidak mereka punya karena keperempuanan mereka.

4. Aplikasi
Sebagai pelengkap dari kajian feminisme ini, penulis mencoba mengaplikasikan teori feminisme dengan menggunakan pendekatan feminisme kekuasaan pada naskah drama Sampek Engtay karya Nobertus Riantiarno. Penulis memilih karya sastra berupa naskah drama karena tertarikan terhadap kemenarika dan komedi cerita serta hubungan yang erat terhadap kajian feminisme.

4.1 Nano Riantiarno
Lahir di Cirebon, Jawa Barat, 6 Juni 1949 atau biasa dipanggil Nano, adalah seorang aktor, penulis, sutradara dan tokoh teater Indonesia, pendiri Teater Koma (1977). Dia adalah suami dari aktris Ratna Riantiarno. Nano telah berteater sejak 1965, di kota kelahirannya, Cirebon. Setamatnya dari SMA pada 1967, ia melanjutkan kuliah di Akademi Teater Nasional Indonesia, ATNI, Jakarta, kemudian pada 1971 masuk ke Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta. Nano banyak menulis skenario film dan televisi. Karya skenarionya, Jakarta Jakarta, meraih Piala Citra pada Festival Film Indonesia di Ujung Pandang, 1978. Karya sinetronnya, Karina meraih Piala Vidia pada Festival Film Indonesia di Jakarta, 1987.
Menulis novel Cermin Merah, Cermin Bening dan Cermin Cinta, diterbitkan oleh Grasindo, 2004, 2005 dan 2006. Ranjang Bayi dan 18 Fiksi, kumpulan cerita pendek, diterbitkan Kompas, 2005. Roman Primadona, diterbitkan Gramedia 2006.
Sampek Engtay merupakan lakon klasik Cina ini disadur dan dilahirkan tahun 1988 oleh N. Riantiarno dan dipindahkan peristiwanya ke daerah Banten. Struktur ceriteranya tidak mengalami perubahan dari lakon aslinya, hanya ada beberapa penambahan sebagai ‘kembang lakon’ dengan mengingat bahwa kisah Sampek Engtay banyak sekali versinya. Lakon itu dalam ludruk, misalnya, berbeda dengan lakon yang dimainkan dalam drama gong di Bali. Juga berbeda dengan ketika lakon ini dipanggungkan oleh Dardanella atau Opera Bangsawan pada awal abad ke-20.
Dalam lakon versi Teater Koma, Engtay adalah gadis kelahiran Banten yang tinggal di Serang. Sampek asal Pandeglang dan Ma Tjoen, tunangan Engtay, anak Kapten Cina dari Rangkasbitung. Musik pun digarap secara gado-gado. Unsur Cina, Sunda, Betawi dan bunyi-bunyi ‘masa kini’ berbaur dan menciptakan harmoni yang unik. Ini sah saja. Sebagai contoh : ketika lakon ini di-Jawa-kan oleh sebuah grup (direkam oleh Tio Tek Hong, Batavia, pada awal abad ke-20), musik yang dipakai adalah musik gamelan Jawa. Sedang pada masa lakon ini dimainkan oleh Opera Bangsawan, irama wals dan tango masuk pula. Itu bukti bahwa lakon ini memang universal.
Inilah lakon melodramatis, disampaikan secara kocak dan dibungkus dengan tarian dan musik. Sebuah gurauan pahit remaja bercinta yang juga masih bisa dinikmati oleh para orang tua. Sebuah lakon tentang wanita yang menganggap sanggup merubah citra dirinya, tetapi pada akhirnya tetap tidak bisa lari dari keputusan keluarga. Namun, mampu menentukan nasibnya sendiri (http://www.teaterkoma.org/index.php?option=com_content&view=article&id=47:n-riantiarno&catid=36:angkatan-pendiri&Itemid=63).

4.2 Sinopsis Sampek Engtay
Dengan berbagai cara Engtay berhasil meyakinkan kedua orangtuanya bahwa sekolah itu baik bagi dirinya. Ia pun pergi ke Betawi dan bertemu Sampek. Engtay ditempatkan dalam satu kamar dengan Sampek, karena tidak seorang pun menyangka bahwa Engtay adalah perempuan. Maklum ia menyamar menjadi laki-laki.
Cinta pun tumbuh dan hampir saja Engtay menyerahkan dirinya kepada Sampek yang akhirnya tahu juga ia perempuan. Engtay berterus terang kepada Sampek lantaran ia geregetan terhadap kejujuran-yang disebutnya sebagai kebodohan-lelaki muda itu. Bayangkan sudah hampir satu tahun Sampek tetap tidak mengira bahwa selama ini ia tidur satu ranjang dengan seorang gadis.
Tapi cinta Sampek ditakdirkan tidak kesampaian karena tepat pada saat ia siap bercumbu, Engtay dipanggil pulang untuk dinikahkan dengan tunangannya, Ma Tjoen. Sampek pun merana dan sakit cinta menyebabkan ia mati. Ia dikubur dengan tanda-tanda seperti yang diminta oleh Engtay yaitu kuburan di sebelah timur dan menghadap ke barat, bongpay (batu nisan) warna biru dengan tulisan nama pemuda itu tertatah jelas.
Ketika Ma Tjoen berhasil memboyong Engtay ke Rangkasbitung dengan tandu pengantin, Engtay memohonkan sebuah permintaan : ziarah ke makam Sampek untuk sembahyang. Dasar Jodoh, ketika upacara sembahyang itulah kubur Sampek terbuka. Lalu Engtay melompat ke dalam kubur, menyatu bersama kekasihnya. Ma Tjoen marah bukan main. Ia membongkar kuburan. Tapi baik jasad Sampek maupun Engtay tidak terdapat dalam kuburan itu. Sebagai gantinya, di situ ada sepasang batu biru, sepasang tawon kuning dan sepasang kupu-kupu yang langsung terbang menuju langit.

4.3 Analisis
Analisis feminisme dalam Sampek Engtay ini dilakukan dalam beberapa dua tahap. Tahap pertama mengidentifikasi satu atau beberapa tokoh wanita dalam sebuah karya sastra. Tahap kedua, mengidentifikasi tokoh lain, terutama laki-laki yang memiliki keterkaitan dengan perempuan yang sedang diamati (Djajanegara, 2003:51). Dalam masing-masing tahap akan dianalisis dan dikaitkan dengan pendekatan kekuasaan. Hal ini dikarenakan pendekatan kekuasaan wanita dalam cerita terlihat dominan bila dibandingkan dengan pendekatan atau ragam-ragam feminisme lainnya. Tokoh-tokoh wanita dalam Sampek Engtay adalah Engtay, Nyonya Tjiok, Nyonya Liang, Djien Sim, dll. Tokoh wanita yang akan diidentifikasi dalam kajian ini adalah Engtay dan laki-laki yang berkaitan langsung dengan tokoh wanita yaitu Sampek.

4.3.1 Analisis Tokoh Engtay
Berbagai asumsi laki-laki tenang perempuan menghasilkan ekspresi yang merupakan tuntutan terhadap perempuan agar berada pada posisi sebagai pihak yang dikuasai. Tuntutan tersebut terlihat dalam kata-kata dalam naskah drama Sampek Engtay. Engtay merupakan perempuan kuasa yang menyadari bahwa ia memiliki kuasa untuk menentukan hidupnya. Ia melakukan banyak cara agar sesuat yang dikehendakinya terwujud. Namun, ia masih tetap dalam koridor anak berbakti terhadap orang tua. Jika ia bukan perempuan kuasa tentulah ia akan menerima apapun yang ditentukan atau diarahkan hidupnya tanpa beruasaha untuk merubahnya atau memperbaikinya agar menjadi lebih baik. Deskripsi sikap-sikap inilah yang merupakan kritik sastra feminisme, yaitu mengungkapkan harga diri pribadi dan harga diri perempuan.

1) Upaya memberikan pemahaman
Proses memberikan pemahaman merupakan langkah feminisme kekuasaan yang memandang aksinya dapat mengubah dunia dengan mempengaruhi kehidupan sekitarnya. Pada Sampek Engtay proses ini tampak jelas dari dialog-dialog Engtay yang mendapatkan belum langsung mendapatkan respons positif dari kedua orang tuanya sebagaimana kutipan berikut.
NYONYA CIOK : Engtay, apa kamu lupa kalau kamu ini perempuan? Sekolah hanya untuk kaum lelaki. Mana kamu bisa tahan? Berapa lama? Pasti mereka akan tahu juga kalau kamu itu lelaki jadi-jadian, lalu mereka akan kurang ajar. Apa daya kamu?
ENGTAY : Tunggu, ibu. Ibu akan lihat bagaimana pandainya anakmu menyamar.
NYONYA CIOK : Engtay …
ENGTAY : (LARI KE KAMARNYA) Tunggu saja, ibu harus lihat . (Riantiarno, 1988:13)
Dialog Engtay tersebut merupakan suatu reaksi feminis kekuasaan yang memperlihatkan kuatnya pendirian Engtay untuk belajar di Betawi meskipun di sekolah Putra Bangsa hanya menerima siswa laki-laki bukan perempuan. Ia mencoba membujuk kedua orang tuanya dengan cara menyamar menjadi laki-laki dan kedua orang tuanya tidak mengetahuinya. Karena melihat tekad dan usaha yang besar, akhirnya Engtay mendapat persetujuan kedua orang tuanya untuk bersekolah di Putra bangsa dengan menyamar sebagai anak laki-laki. Perhatikan kutipan berikut (Riantiarno, 1988:16).
ENGTAY : Mohon, ayah, aibu, izinkan aku pergi. Restui anakmu ini. (MENANGISMANJA)
NYONYA CIOK : (TERPENGARUH. IKUT MENANGIS) Engtay, anakku. Apa boleh buat. Ibu akan mengizinkan. Tapi kamu harus ekstra hati-hati. Waspada sama orang asing. Jangan terlalu cepat percaya sama orang yang baru kamu kenal. Betawi itu kota besar, jauh lebih gede dari Serang. Macam-macam orang berkumpul di kota itu, campur aduk kayak cendol. Kamu harus jeli memilih teman. Hemat pangkal pandai, rajin pangkal kaya. Harus patuh sama gurumu!
ENGTAY : (MASIH MENANGIS) Nasehat ibu, akan selalu aku turut. Ayah?
CIOK : Mau apa lagi? Kalau ibumu sudah setuju, masa aku tidak? Lebih baik kamu siap-siap. Besok pagi kamu berangkat. Nanti ayah urus supaya kamu bias langsung diantar kegedung sekolahan. Kebetulan ayah kenal baik guru kepala disana, ayah akan surati dia.
Beradasarkan kutipan dialog di atas, terlihat sekali jika dihubungkan dengan perjuanagan gerakan feminisme yanag menganjurkan kemandirian berpikir agar menempati kedudukan yang sama dengan kedudukan laki-laki. Selain memberikan pemahaman tentang pendidikan kepada orang tuanya, Engtay juga memberikan pemahaman bahwa seorang wanita mampu melakukan sesuatu tanpa pertolongan dari siapapun termasuk laki-laki. Hal ini tercermin dalam kutipan berikut.
CIOK : Jangan kuatir. Kami berkenalan waktu ayah masih bujangan. Ah, seharusnya kuantar kamu sampai Betawi. Tapi ayah sudah tidak kuat jalan jauh. Nanti
kalau encok dan darah tinggiku kumat, bagaimana? Atau Antong saja yang mengawal kamu? Bagaimana? Antong …
ENGTAY : Aku lebih suka pergi sendiri, ayah.
CIOK : Tuh, bu, sudah kuduga. Pergi sendirian. Anakmu rupanya ingin jadi pendekar silat yang merantau, seperti dalam komik picisan itu.
NYONYA CIOK : Sudah, sudah, lebih baik kita kedalam siap-siap.
Walaupun Engtay memberikan pemahaman kepada orang tuanya jika ia akan pergi sendiri saja, ia harus ditemani oleh Antong, suami dari dayang Engtay. Mereka pergi berdua dengan Engtay telah menyamar menjadi laki-laki.
Dari upaya pemahaman di atas dapat disimpulkan bahwa dengan memberikan pemahaman yang sabar akan didapatkan tujuan yang akan kita capai. Selanjutnya, akan dikaji kekuatan perempuan dalam mempertahankan dan melindungi dirinya.

2) Mempertahankan dan Melindungi Diri
Setelah memberikan pemahaman dan mendapatkan tujuan awalnya, perempuan harus tetap mampu mempertahankan dirinya dengan cara melindungi dirinya dari kekuasaan laki-laki. Hal ini dilakukan oleh Engtay ketika ia berada di sekolah Putra Bangsa dengan berani konsisten dan membuat peraturan-peraturan guna melindungi dirinya. Hal ini tercermin dalam kutipan berikut (Riantiarno, 1988:22).
SAMPEK : Adik Engtay, aku tidur dulu. Di sebelah mana adik mau pilih tempat? Di sini atau di situ?
ENGTAY : Tunggu dulu. Aku punya sedikit permintaan Semua barang yang ada dikamar ini boleh kita pakai berdua. Yang tetap menjadi milik pribadi adalah barang-barang yang memang tidak bisa dipakai berdua. Tapi, ehh .. tempat tidur ini .. ehh .. barang kali, lebih baik kita bagi dua saja ..
SAMPEK : Mengapa begitu?
ENGTAY : Tidurku suka berantakan.
SAMPEK : Yaa, namanya juga lelaki. Tidur berantakan kan biasa.
ENGTAY : Tidak. Kalau kakak tidurnya rapih, sedang aku tidak, itu kan tidak adil. Baiknya begini saja .. (MENGAMBIL SEUTAS TALI DAN MEMBELAH RANJANG MENJADI DUA. SAMPEK MELONGO SAJA)
ENGTAY : Tali ini akan menjadi batas. Sebelah sini milikku, dan sebelah siti milik kakak. Siapa melanggar batas tali ini, harus didenda.
Dari kutipan di atas tampak bahwa Engtay melindungi dirinya ketika ia sekamar dengan Sampek. Ia memberikan peraturan-peraturan agar Sampek tak mendekatinya ketika ia tidur dan menegtahui ia adalah seorang wanita. Ia mencoba memberikan alasan mengenai peraturan yang dibautnya agar terkesan tidak aneh atau bahkan dicurigai. Selain itu, terdapat kutipan dalam dialog drama Sampek Engtay yang mengungkapkan alasan-alasan Engtay agar mampu bertahan dan melindungi dirinya di sekolah Putra Bangsa ((Riantiarno, 1988:26).
ENGTAY : (MENAHAN SENYUM) Maaf, guru. Saya kencing sambil jongkok sejak saya kecil.
ENGTAY : Sudah kebiasaan. Kencing sambil berdiri, bukan saja menyalahi peraturan sekolah kita tapi juga melanggar ujar kitab-kitab yang bunyinya : “Jongkoklah Waktu Buang Air Kecil dan Besar, Supaya Kotoran Tidak Akan Berceceran”.
GURU : Itulah yang ingin kuutarakan pagi ini. Otakmu encer sekali Engtay dan sungguh tahu aturan. Kamu betul-betul kutu buku. Apa lagi kalimat-kalimat dalam kitab yang kamu baca perihal kencing? Katakan, biar kawan-kawanmu yang bebal ini mendengar.
ENGTAY : (BERLAGAK MENGHAFAL) “Yang Keluar Saat Buang Air Kecil Harus Air. Kalau Darah, Itu Pertanda Kita Sakit. Segeralah Ke Dokter”
Berdasarkan kutipan di atas tercerminlah bahwa Engtay memiliki kecerdasan yang tinggi. Bahkan melebihi teman yang lainnya. Dialog ke-9 tersebut terjadi di sekolah Putra Bangsa, ketika sang guru marah kepada muridnya karena wc sekolah hitamnya terlihat kotor. Hal ini disebabkan murid-murid laki-laki yang buang air kecil sambil berdiri bukan jongkok. Engtay yang memang kodratnya buang air kecil sambil jongkok mencoba memberikan pengertian bahwa ia melakukannya dengan jongkok sebagai upaya agar kesehatannya tetap terjaga. Pendapatnya itu, membuat sang guru terkesan. Hal tersebut seperti yang diagungkan teori feminisme bahwa perempuan harus mampu mempertahankan dirinya agar tidak merendahkan derajatnya di mata laki-laki.

3) Berfikir Cerdas dan Maju ke Depan
Riantiarno menggambarkan sosok Engtay sebagai gadis yang cantik, menawan tanpa ada yang menandinginya kecuali cahaya bulan. Selai cantik, Riantiarno juga menggambarkan sosok Engtay yang memiliki kecerdasan dalam bidang pendidikan dan pergaulan. Berikut kutipannya (Riantiarno, 1988:47).
SUHIANG : Kalau dibilang cantik, dikota ini memang nona kami adalah yang paling cantik. Hanya cahaya bulan yang sanggup mengalahkan kecantikannya. Dia bukan saja cantik tapi juga pintar. Semua kepandaian rumah tangga dia bisa. Sebut saja apa! Menyulam, memasak, berdandan? Bisa.
SUHIANG : Nona kami juga pintar surat menyurat. Dia pandai menulis syair ‘sindiran’ dan syair ‘pasangan’. Jika ada orang bertanya, siapakah perempuan muda di Serang ini yang memenuhi persyaratan sebagai perempuan luar dalam? Maka jawabannya hanya satu : Nona Engtay kami itu. Paham?
Berdasarkan kutipan di atas, terlihat bahwa Engtay adalah gadis yang cantik luar dan dalam baik dari penampilan maupun pemikiran. Hal ini sesuai dengan pemikiran feminisme yang menganjrkan seorang perempuan harus mampu mengembangkan intelektual guna memiliki kesejajaran dengan laki-laki.
Riantiarno juga mengisahkan perilaku atau peikiran Engtay yang banyak mempengaruhi hidupnya dengan cara dipikirkan matang-matang demi kebaikan hidupnya kelak. Hal ini terlihat dalam kutipan berikut (Riantiarno, 1988:51).
SAMPEK : Tidak. Tanya Sukiu. Waktu dia mengingatkanku aku pada hari ke-28, aku bilang padanya, kita harus sampai di Serang saat hari sebelum hari yang dijanjikan. Aku mohon padamu Engtay, jangan sampai kau tidak menepati janjimu.
ENGTAY : Berapa 2 ditambah 8, 3 ditambah 7, 4 ditambah 6? Sepuluh! Itulah hari yang kujanjikan. Kuucapkan ketiganya hanya untuk penegasan.
SAMPEK : Kalau begitu, perkataanmu terlalu samar-samar. Aku jumlahkan seluruhnya menjadi 30. Hari ini adalah hari yang ke-30.
ENGTAY : Tidak bisa begitu cara menghitung cinta. Kakak hanya bisa membaca yang tersurat, tapi tidak sanggup memahami apa yang tersirat. Kakak hanya mengerti apa yang terucap tapi tidak mampu menafsir apa yang ada di balik ucapan. Kakak terlalu berpikir lurus.
SAMPEK : Bukankah cinta seharusnya lurus?
ENGTAY : Tidak. Cinta penuh liku-liku. Tak terbatas bagai langit.
Sebelum Engtay dijuempt pulang ke rumahnya, Engtay sempat berpesan kepada Sampek agar segera datang ke rumahnya dengan lama atau perhitungan waktu 2 ditambah 8, 3 ditambah 7, 4 ditambah 6. Namun, Sampek berfikir bahwa semua angka harus dihitung maka itulah waktu yang diberikan Engtay agar ia segera melamarnya. Padahal seharusnya angka tersebut hanya permainan kata-kata yang diucapkan oleh Engtay. Dengan kata lain tidak perlu dijumlahkan. Hal tersebut sesuai dengan perhitungan Engtay yaitu sebelum 10 hari maka ia akan menerima lamaran Sampek dahulu daripada lamaran tunangannya.
Berdasarkan kutipan dan penjelasan jelas sudah bahwa Engtay memiliki pemikiran ke depan untuk kehidupannya. Hal ini sama hal dengan pemikiran feminisme bahwa seorang perempuan haruslahlah mampu menentukan hidupnya untuk masa depan dan akan melepaskan dirinya dari ketergantungan laki-laki. Berikut dikutip dialog yang menegaskan bahwa Engtay telah mampu menentukan masa depannya sendiri (Riantiarno, 1988:64).
SUKIU : Baik. (MEMBACA LAGI) “Kalau kakak sampai meninggal, kuburlah jasad kakak dipinggir jalan besar dipekuburan luar kota arah Rangkasbitung. Carilah tanah dipekuburan sebelah timur dan kuburan kakak harus menghadap kebarat.
SUKIU : Pilihlah bongpay yang berwarna biru dan tatahlah nama kakak di batu nisan itu dengan huruf-huruf yang jelas. Di belakang hari, aku tentu akan datang bersembahyang dikuburan kakak. Sekian surat dariku. Dan harap jangan melupakan pesanku. Salam. Engtay ..”……………………….
SAMPEK : Dengar semua pesanku! Kuburkan aku seperti apa yang ditulis Engtay dalam surat itu. Aku yakin, Engtay pasti akan datang ke kuburku. (MENGAMBIL TUSU KONDE DARI BALIK BANTALNYA) Ini tusuk konde, tanda mata dari Engtay. Taruhlah diatas piring pedupan di depan kuburku. Jika dia datang, Dia pasti tahu apa yang harus dilakukannya. Ibu, ayah, aku mohon maaf karena tidak bisa menjaga sampai ayah, ibu tua. Maafkan anakmu yang tidak berbakti ini. Aku merasa, ajalku sudah dekat sekali. Ikhlaskan anakmu pergi, tapi ada satu permintaanku: jangan benci sama Engtay, sebab dialah satusatunya gadis yang paling aku cintai. Selamat tinggal semuanya …(SAMPEK MATI. TANGISPUN MELEDAK)
Sampek yang patah hati terhadap keputusan Engtay yang menerima pernikahannya dengan tunangannya Macun mendapatkan surat berupa amanat dari Engtay bahwa Sampek akan segera mati. Engtay berpesan setelah Sampek mati ia harus dikuburkan di pekuburan luar kota arah Rangkasbitung. Dikubur di tanah pekuburan sebelah timur dan menghadap ke barat. Juga menggunakan nissan berwarna biru dengan tatahan nama yang jelas. Maka, Engtay kemudian pasti datang dan mereka pasti akan memperoleh kebaikan. Berdasarkan pemaparan di atas, terlihat jelas Engtay mampu memberikan pemikirannya untuk masa depannya. Bahkan, masa depan Sampek.

4) Mengakhiri Pernikahan dengan Strategi
Dalam kisah Sapek Engtay yang dihasilkan oleh Riantiarno, terdapat akhir cerita yang tragis. Engtay merelakan dirinya menikah dengan Macun. Hal tersebut merupakan permintaan sang ayah. Gerakan seperti itu sebenarnya bukanlah yang diinginkan dalam gerakan feminisme. Tindakan seperti itu terkesan seperti wanita lemah dan menerima nasib dengan pasrah. Namun, ternyata Riantiarno memiliki akhir cerita yang mengembalikan citra dari kepribadiaan Engtay yaitu mampu menentukan nasibnya sendiri. Ia memilih untuk terjun ke liang lahat bersama jasad Sampek. Akhirnya mereka terbebas dari belenggu kehidupan, bebas terbang menjadi kupu-kupu. Hal tersebut seperti yang tercantum dalam kutipan berikut (Riantiarno, 1988:66).
ENGTAY : Kau taruh tusuk kondeku disini. Aku tahu, apa yang kau harapkan dariku. Sampek, kuambil tusuk konde ini. Akan kuketuk-ketuk di kuburanmy. Kalau kita memang berjodoh, kuburan ini pasti akan terbuka. Lalu aku akan masuk dan menjadi satu dengan jasadmu untuk selama-lamanya. Tapi kalau kita memang tidak berjodoh, tentu aku akan terus dibawa Macun ke Rangkasbitung dan jadi isterinya seumur hidup. Sampek, kau mati lantaran aku. Buktikan, bahwa kematianmu tidak sia-sia. Aku ketukkan tusuk konde ini tiga kali. Terbukalah … Terbukalah kuburmu ini … (MENGETUK-NGETUK TUSUK KONDE KEKUBUR SAMPEK, SEBANYAK TIGA KALI)….
(TIBA-TIBA, SETELAH KETUKAN YANG KETIGA, TERDENGAR GELEGAR GUNTUR, PADAJAL
LANGIT TIDAK SEDANG MENDUNG LALU SEBUAH CAHAYA, BAGAI METEOR, JATUH DARI
LANGIT. CAHAYA ITU LANGSUNG MEMBENTUR KUBURAN SAMPEK, SEHINGGA KUBURAN
JADI TERBELAH DAN MENGANGA)
(ENGTAY TERKESIMA. SEMUA TERKESIMA)
CIOK : Apa itu?
NYONYA CIOK : Kuburan terbuka. Kuburan terbuka. Hantu!
ENGTAY : (TERSENYUM) Kita memang berjodoh. Tunggu aku, Sampek! Aku datang! (ENTAY MASUK KEDALAM KUBUR SAMPEK DENGAN GERAK YANG SANGAT INDAH SEKALI)
Sangat jelaslah bahwa Engtay yang menerima pinangan Macun memiliki strategi yang tersusun secara rapi untuk akhir kebahagiaannya kelak. Hal tersebut seperti pemikiran para feminis bahwa seorang wanita yang kuat tidak perlu memikirkan kepentingan orang lain, haruslah kepentingan diri sendiri dahulu yang diutamakan.

4.3.2 Analisis Tokoh Sampek
Selain Sampek masih banyak lagi tokoh laki-laki dalam naskah drama ini, antara lain Macun, Jurangan Ciok, Nio, Sukiu, Kapten Liong, dan lain sebagainya. Namun, penulis memilih Sampek sebagai bahan kajian karena Sampek merupakan salah satu pemeran utama dalam cerita yang berhubungan langsung dengan Engtay.

1) Pemikiran yang Lambat dan Lemah
Sampek merupakan anak laki-laki dari Nio dan Nyonya Nio. Sampek disekolahkan oleh Nio dan ditemani oleh bujangnya Sukiu. Namun, Riantiarno menggambarkan Sampeksebagai laki-laki yang memiliki pemikiran agak lambar dan lemah jika dibandingkan dengan Engtay yang derajatnya sebagai wanita. Hal ini tergambar dari kutipan berikut (Riantiarno, 1988:39).
SAMPEK : Kenapa tidak sejak dulu aku tahu kau itu perempuan?
ENGTAY : Karena …
SAMPEK : Ssstt, jangan diulang, aku tahu lantaran aku bego dan bodoo .. (BERBISIK)…kita …?
Kutipan di atas menceritakan selama hampir dua tahun bersekolah di Putra Bangsa dan sekamar dengan Engtay, Sampek masih belum juga mengetahui bahwa Engtay sebenarnya adalah perempuan. Beradasarkan kutipan di atas tercermin bahwa Sampek memiliki pemikiran yang lambat dan cenderung lemah. Pemikiran ini sebenarnya sangat didengungkan oleh para feminis bahwa kaum laki-laki tak selamanya berada diposisi sempurna.

2) Pemuja Cinta
Selain memiliki pemikiran yang lambat, tokoh laki-laki dalam cerita ini yaitu sampek memiliki rasa cinta yang sangat besar sehingga membuatnya menjadi manusia yang terkesan bodoh menurut penulis. Ia mampu melakukan apapun demi cinta yang absurd. Perhatikan kutipan berikut (Riantiarno, 1988:58 ).
SAMPEK : Aduh, ibu, ayah, lebih aku mati saja. Tidak sanggup lagi.
NYONYA NIO : Apa sih hebatnya Engtay? Masa tidak bisa dibandingkan dengan perempuan lain?
SAMPEK : Ibu tidak pernah jumpa dengan dia sih. Pokoknya, untukku Engtay tak bias digantikan oleh siapa pun.
Sampek yang sedang jatuh cinta dengan Engtay jatuh sakit ketika menegtahui Engtay menolak lamarannya dan menerima lamaran Mancu. Ia rela mati akan itu. Para feminis menganggap jika wanita memiliki kepribadian ini tidaklah mencerminkan pemikiran feminisme yang mencoba mengembangkan dirinya agar mampu hidup mandiri, baik secara intelektual maupun secara ekonomis.
Dilihat dari cara-cara penulis menyajikan lakon ini. Kesan yang didapat dari sikap Riantiarno manampilkan Sampek dan Engtay. Bagaimana ia menokohkan Engtay. Tampaknya ia ingin menyampaikan pandangan serta gagasan secara sungguh-sungguh dan terus terang. Tidak adanya rasa sindiran dan cemoohan terhadap penokohan Engtay. Tindakan dan ucapan Engtay tampak wajar-wajar saja, tidak dibuat-buat, dan tidak pula berlebihan. Hal inilah yang diinginkan dari gerakan feminisme yang senantiasa menghimbau wanita untuk memperjuangkan kehidupannya agar lebih maju dan mampu mengembangkan dirinya. Namun, berbeda dengan penokohan Sampek yang terkesan lebih dicemooh dibandingkan dengan tokoh lain.

5. Penutup
Feminisme adalah suatu kritik terhadap cara pandang yang mengabaikan permasalahan ketimpangan dan ketidakadilan dalam pemberian peran dan identitas social berdasarkan jenis kelamin. Ini berarti kesadaran akan adanya ketidakadilan gender yang menimpa kaum perempuan, baik dalam keluarga ataupun masyarakat. Keasadaran itu harus diwujudkan dalam tindakan yang dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan untuk mengubah keadaan terdebut.
Analisis feminisme dalam Sampek Engtay ini dilakukan dalam beberapa dua tahap. Tahap pertama mengidentifikasi satu atau beberapa tokoh wanita dalam sebuah karya sastra. Tahap kedua, mengidentifikasi tokoh lain, terutama laki-laki yang memiliki keterkaitan dengan perempuan yang sedang diamati.
Kesimpulan yang dapat ditarik kesimpulan bahwa Sampek Engtay memiliki unsure yang dapat dikaji melalui kajian feminisme. Riantiarno sebagai penulis cerita mampu menggambarkan sosok Engtay sebagai perempuan yang memiliki kekuasaan dalam menentukan kehidupannya.

Daftar Pustaka

Djajanegara, Soenarjati. 2003. Kritik Sastra Feminis Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.

Saparie, Gunoto. 2007. Kritik Sastra dalam
Perspektif Feminisme. (http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=113881). Diakses 2 Oktober 2010.

Sofia, Abid. 2009. Aplikasi Kritik Sastra Feminis Perempuan dalam Karya-karya Kuntowijoyo. Yogyakarta: Cipta Pustaka.

Riantiarno, N. 1988. Sampek Engtay. (www.google.com). Diakses 1 Oktober 2010.

________. 2010. N. Riantiarno. (http://www.teaterkoma.org/index.php?option=com_content&view=article&id=47:n-riantiarno&catid=36:angkatan-pendiri&Itemid=63). Diakses 9 Oktober 2010.