PEMEROLEHAN SINTAKSIS ANAK AUTIS YAYASAN PELITA HATI PALEMBANG

Posted: 2 March 2011 in bahasa

1. PENDAHULUAN

Bahasa sebagai alat komunikasi manusia diperoleh sejak kecil. Potensi  berbahasa seorang anak dibawanya sejak lahir. Sejak dini bayi telah berinteraksi di dalam lingkungan sosialnya. Menurut Chomsky (dalam Subyakto dan Nababan, 1992:77), setiap anak sejak lahir sudah dilengkapi dengan perangkat yang memungkinkannya memperoleh bahasa Chomsky menamakannya dengan Language Acquisition Device (disingkat LAD). Karena semua orang telah dilengkapi dengan LAD, seorang anak tidak perlu lagi menghafal dan menirukan pola-pola kalimat agar mampu menguasai bahasa itu. Ia akan mampu dengan sendirinya mengucapkan kalimat yang belum pernah didengar sebelumnya dengan menerapkan kaidah-kaidah tata bahasa yang secara tidak sadar diketahui melalui LAD.

Pemerolehan bahasa adalah proses penguasaan bahasa secara alamiah.  Dimaksudkan adalah proses penguasaan bahasa secara langsung melalui interaksi atau komunikasi dengan masyarakat pemakai bahasa itu. Dapat juga dikatakan bahwa pemerolehan bahasa merupakan proses penguasaan bahasa yang berlangsung secara alamiah karena pemerolehan bahasa pertama terjadi pada bayi sampai usia kurang lebih enam tahun (Purnomo, 2002:1).

Penelitian tentang pemerolehan bahasa pada umumnya dilakukan terhadap output yang dihasilkan anak, karena sulitnya mengamati bagaimana proses itu terjadi. Pemerolehan bahasa anak dapat dikatakan mempunyai ciri-ciri  kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit.

Pemerolehan bahasa kedua (second language acquisition) merupakan penguasaan bahasa setelah anak-anak atau orang dewasa menguasai suatu bahasa. Pemerolehan bahasa kedua dapat terjadi pada anak-anak dan dapat pula terjadi pada orang dewasa. Pemerolehan bahasa kedua  terjadi secara alamiah setelah seseorang menguasai suatu bahasa  sebagai bahasa pertamanya. Sifat alamiah yang merupakan ciri pemerolehan bahasa juga berlaku pada pemerolehan bahasa kedua ini (Purnomo, 2002:1—2).

Penelitian ini bebeda dengan penelitian yang telah dilakukan Dardjowijojo pada cucunya Echa ataupun Bloom yang menggunakan anaknya Allison dalam penelitiannya. Dardjowijojo melakukan penelitian pada cucunya dengan menggunakan desain longitudinal lebih kurang lima tahun lamanya. Desain longitudinal sendiri memiliki ciri utama period yang memerlukan jangka waktu panjang karena yang diteliti adalah perkembangan sesuatu yang dikaji dari satu masa hingga ke masa yang lain. Masa yang hanya selama satu hingga empat bulan lazimnya belum dapat memberikan gambaran bagaimana sesuatu itu berkembang dalam bahasa. Jumlah subjek biasanya juga lebih sedikit dan bahkan satu orang cukup (Soenjono, 2009:192).

Penelitian ini menggunakan desain cross-sexsional. Desain cross-sexional dilakukan pada masa tertentu. Dalam satu jangka masa. Subjeknya lebih dari satu orang, dan topiknya sudah ditentukan terlebih dahulu. Topik yang dipilih bukanlah topik yang menyangkut perkembangan (misalnya, bagaimana anak menguasai bentuk pasif) tetapi yang berlaku pada masa itu (misalnya, bagaimana anak umur 2 tahun dan 3 tahun menggunakan bentuk pasif) (Soenjono, 2009:193). Penelitian ini dilakukan pada 2 anak autis kelas 2 SD Yayasan Pelita Hati Palembang dengan jangka waktu ± 1 bulan dengan frekuensi pengamatan 5 kali seminggu (senin s.d. jumat) dengan lama pertemuan tiga jam, yaitu mulai pukul 13.00 s.d. 16.00 WIB. Penelitian berlangsung pada situasi formal dan informal. Penelitian dilakukan untuk mengetahui situasi dan kondisi ketika ujaran diproduksi.

Pemerolehan sintaksis diperoleh setiap anak dimulai dari satu kata, dua kata, atau multi kata.  Mulai dari kata hingga kalimat. Ujaran satu kata pada anak sudah muncul ketika mereka memasuki umur lebih kurang satu setengah tahun. Berikut contohnya:

(a)    [mam] ’makan’

(b)   [bem] ’mobil’

(c)    [bo’] ’bobo/ tidur’

dari contoh-contoh di atas tampak bahwa anak tersebut telah mampu memproduksi ujaran satu kata dan memilih suku terakhir untuk mewakili kata yang dimaksud. Contoh kata di atas, bagi anak sebenarnya kalimat penuh, tetapi karena dia belum dapat mengatakan lebih dari satu kata, dia hanya mengambil satu kata dari seluruh kalimat itu. Misalnya saja mam, kata mam dapat berfungsi saya ingin makan, saya tidak ingin makan, dll. Memasuki umur dua tahun atau lebih seorang anak telah mampu memproduksi ujaran yang lebih banyak. Selanjutnya ujaran dua kata dan ujaran multi kata telah mereka produksi dan menghasilkan komunikasi dua arah.

Setiap anak normal memiliki kemampuan memproduksi kata, frasa, klausa dan kalimat. Mereka memproduksi frasa, klausa, dan kalimat tersebut untuk mengekspresikan pikirannya. Kemampuan tersebut mereka peroleh dari kecil secara bertahap dari yang sederhana hingga yang sangat kompleks. Misalnya:

(a) mau makan dong ’ mau makan dong’

(b)   nak nyampak ’mau jatuh’

(c)    nak belanjo ’mau berbelanja’

dari contoh frasa diatas tampak bahwa seorang anak mampu memproduksi frasa yang terdiri dari dua kata dalam satu fungsi yaitu predikat. Frasa verbal yang mereka gunakan berfungsi untuk mengekspresikan keinginan mereka untuk makan,  jatuh, dan berbelanja. Setelah mereka mampu menghasilkan frasa, mereka pun memproduksi klausa selanjutnya kalimat. Berikut contoh ujaran yang diproduksi oleh anak berdasarkan hasil penelitian Helmi (2006:81):

(a)    Aku yang pendek. ’Aku yang pendek’.

(b)   Minum, buk Titik!. ’Minum, Bu Titik!’.

(c)    Ibuk, itu ciki siapo? ’Ibu, itu Chiki siapa?’.

dari contoh kalimat di atas sang anak memproduksi kalimat untuk mengekspresikan pikirannya baik berupa penyampaian berita, memerintah, ataupun bertanya kepada siapapun.

Berbeda dengan anak normal, anak yang tidak normal belum tentu mampu memperoleh sintaksis secara sempurna. Misalnya anak autis. Autis merupakan salah satu kelainan dalam berbahasa. Menurut Veskarisyanti (2008:26), autis merupakan salah satu gangguan pada anak yang ditandai munculnya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, komunikasi, ketertarikan pada interaksi sosial, dan perilakunya. Kelainan ini ditemukan pada otak kecil, yang berfungsi untuk melakukan proses daya ingat, berpikir, aktivitas sensoris, perhatian, dan belajar berbahasa. Setiap anak autis belum tentu mampu memproduksi bahasa seperti anak normal yang lainnya. Hal ini seperti pendapat yang dikeluarkan oleh Maulana (2007:13—14) bahwa ”Jika kita memerhatikan kemampuan berbicara para penderita autisme itu, maka separuh anak-anak penderita autis tidak memiliki kemampuan itu. Sementara itu, anak autis yang lainnya hanya dapat mengeluarkan suara gema-gema saja dari tenggorokan mereka”.

Tidak setiap anak autis mengekspresikan pikirannya secara verbal. Contohnya saat ia mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya. Ketika ia melakukan kesalahan, ia membutuhkan penghapus pensil yang ada di tangan gurunya tersebut. Si anak autis ini hanya mendekat dan tidak berbicara. Ketika ditanya ia tidak menjawab dan hanya memandang gurunya dengan tatapan kosong kemudian ia tertawa sendiri tanda ia menghayalkan sesuatu. Ketika disadarkan oleh gurunya dari lamunan tersebut, sang guru memberikan penghapus tersebut kepada anak autis tersebut dan ia langsung mengambilnya. Namun, pada saat ia tak terkontrol maka banyak ujaran yang mampu ia produksi. Peristiwa tersebut terjadi di Yayasan Pelita Hati yang merupakan tempat bersekolahnya anak autis ketika berlangsungnya proses belajar mengajar.

Anak slow learner (lambat belajar) juga memiliki kemampuan yang berbeda dengan anak normal dalam hal berbahasa. Berikut pendapat yang dikutip dalam situs Universitas Surabaya bahwa ”Anak dengan SL memiliki ciri fisik normal. Namun, saat di sekolah mereka sulit menangkap materi, responnya lambat, dan kosa kata juga kurang” (http://www.ubaya.ac.id/ubaya/news_wu_detail/400/Anak_Slow_Learner_bukan_Anak_Idiot.html). Anak  slow learner memiliki prestai belajar rendah (di bawah rata-rata anak pada umumnya) pada salah satu atau seluruh area akademik, tetapi mereka ini bukan tergolong anak terbelakang mental. Skor tes IQ mereka menunjukkan skor anatara 70 dan 90.  Dengan kondisi seperti demikian, kemampuan belajarnya lebih lambat dibandingkan dengan teman sebayanya (http://bppk.dindikbanten.org).

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengkaji pemerolehan bahasa khususnya sintaksis pada anak autis yang slow learner. Anak autis berbeda dengan anak biasa pada umumnya. Pemerolehan bahasanya pun berbeda. Berdasarkan pengamatan peneliti di Yayasan Pelita Hati Autis Plaju Palembang selama dua minggu dengan intensitas pertemuan sepuluh hari pada tanggal 10 s.d. 22 Agustus 2009, anak-anak yang berada di kelas 2 SD Yayasan Pelita Hati Palembang sebagian telah mampu memproduksi frasa, klausa, dan kalimat. Namun, ada sebagian juga yang belum mampu memproduksi frasa, klausa, dan kalimat. Kebanyakan anak autis tidak memiliki dorongan untuk mengungkapkan apa yang ingin ia ungkapkan secara verbal padahal secara kasat mata memandang bahwa ia mampu mengungkapkannya secara verbal.

Subyek penelitian diwakili oleh dua orang siswa kelas II Yayasan Pelita Hati Palembang yaitu Kevin dan Yudo Pangestu. Berikut adalah wawancara dengan orang tua dan dokter yang menangani mereka. Wawancara dilakukan tanggal 20 Agustus 2009. Kevin dilahirkan di Palembang 31 Agustus 1999 dan bertempat tinggal di jalan D .I Panjaitan Lrg. Kolam  Plaju. Pada usia 3 tahun sudah terlihat tanda-tanda Kevin mengalami autis. Sejak kecil Kevin senang bermain sendiri, melamun, tertawa, dan menangis tanpa sebab yang pasti. Ayah Kevin Charles Abdi yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil dan ibunya Meisya sebagai ibu rumah tangga. Selain autis kevin juga termasuk anak yang slow learner (lambat belajar). Kevin harus selalu diawasi oleh gurunya agar proses belajarnya berjalan dengan normal. Kevin termasuk dalam anak autis yang hiperaktif. Proses berkomunikasi Kevin masih terlihat satu arah karena Kevin lebih sering bermonolog. Ia telah mampu berkomunikasi dengan orang lain meskipun produksi kosakatanya masih belum sempurna, hanya sepenggal-sepenggal kata yang ia produksi dengan sempurna. Namun, ketika ia tidak melanggar ”diet”, ia akan mampu memproduksi kata melebihi biasanya. Bahasa yang digunakan Kevin sehari-hari adalah bahasa Palembang.

Subjek penelitian berikutnya adalah Yudo Pangestu. Yudo panggilan akrabnya. Yudo lahir di Inderalaya, 15 September 1999 dan bermukim di Komp. Persada Blok F/24. Yudo sejak umur 3, 5 tahun telah nampak mengalami autis ditandai dengan tidak adanya komunikasi. Sepintas dibandingkan dengan temannya Yudo tak terlihat seperti anak autis. Namun, ditelisik lebih jauh kita akan melihat lama-kelamaan Yudo terlihat  senang berimajinasi dengan diri sendiri. Selain autis Yudo juga termasuk anak yang slow learner (lambat belajar). Komunikasinya telah lancar seperti anak normal lainnya hanya memproduksi kosakatanya masih kurang sempurna atau cedal. Yudo harus selalu diawasi oleh gurunya agar proses belajarnya berjalan dengan normal seperti Kevin. Selain menuntut ilmu di sekolah khusus anak autis, Yudo juga bersekolah di sekolah umum anak normal. Ayah Yudo, Abrahim Ahmad adalah seorang anggota polisi dan ibunya Aminah seorang ibu rumah tangga. Bahasa yang digunakan Yudo sehari-hari adalah bahasa Palembang.

Dalam hal berbahasa, Ujaran yang diamati merupakan ujaran yang diproduksi saat belajar di dalam kelas dan istirahat makan siang karena pada waktu itu anak-anak mempunyai kesempatan yang cukup leluasa untuk berkomunikasi, baik dengan teman sepermainan, guru, maupun dengan orang-orang disekelilingnya. Berikut contoh hasil ujaran yang dihasilkan oleh beberapa anak autis yang slow learner.

1)      penghapus Udo ’penghapus Yudo

2)      modek ke Lahat……. ’mudik ke Lahat……..’

3)      Nama saya Kevin. ’Nama saya Kevin’

contoh frasa (1) di atas dikategorikan ke dalam frasa nominal subordinatif. Frasa nominal tersebut berstruktur nomina+nomina yang memiliki makna gramatikal ’milik’. Frasa tersebut diujarkan oleh Yudo ketika penghapus pensilnya akan diambil oleh Hafis. Klausa (2) Modek ke Lahat……. merupakan sepenggal dari kalimat yang diujarkan oleh Yudo ketika ia bercerita tentang bagaimana ia menghabiskan akhir pekannya. Klausa di atas  termasuk dalam kategori klausa preposisional. Klausa yang fungsi predikatnya yaitu modek diisi oleh frase preposisional yaitu ke Lahat. Contoh (3) yaitu Kalimat Nama saya Kevin merupakan kalimat yang diproduksi oleh anak autis yang berjenis eksesif/hiperaktif yaitu Kevin. Kalimat diatas digunakannya untuk memberikan informasi kepada peneliti.  Kalimat tersebut dikategorikan kalimat deklaratif karena selain memberikan informasi kalimat tersebut merupakan pernyataan yang diucapkan oleh Kevin.

Penelitian ini hanya dibatasi pada frasa, klausa, dan kalimat. Hal ini mengacu kepada pendapat banyak pakar pemerolehan bahasa yang menganggap bahwa pemerolehan sintaksis dimulai ketika kanak-kanak mulai dapat menggabungkan dua buah kata atau lebih (Chaer, 2002:183). Berdasarkan pendapat tersebut maka komponen kata yang merupakan satuan terkecil dari sintaksis tidak diteliti begitu juga dengan satuan wacana yang merupakan satuan tertinggi dalam hierarki sintaksis.

Penelitian pemerolehan bahasa anak telah diteliti oleh Dardjowidjojo (2000) pada cucunya Echa. Penelitian tersebut menggunakana desain longitudinal dengan masa waktu lebih kurang lima tahun lamanya. Pada pertumbuhan bahasa Echa terdapat Perkembangan sintaksis yang mengikuti kecenderungan universal, tetapi ada cukup banyak yang menyimpang atau tepatnya berbeda dari pemerolehan bahasa pada anak-anak, khususnya anak-anak yang di Barat.

Indrawati dan Oktaria (2003) juga meneliti pemerolehan bahasa tehadap empat orang siswa TK Pembina Bukit Besar Palembang. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ada ciri-ciri tertentu untuk menandai fungsi ujaran, yaitu ciri verbal dan nonverbal.

Penelitian mengenai pemerolehan sintaksis pernah dlakukan oleh Helmi pada tahun 2006 dengan skripsinya yang berjudul ”Pemerolehan Sintaksis terhadap Anak Play Group Kiddy Club Plaju Palembang”. Penelitian ini menunjukkan adanya beberapa frasa dan kalimat yang muncul dalam ujaran anak tersebut. Selain itu, kalimat yang muncul adalah kalimat tunggal dan kalimat majemuk..

Anak autis juga pernah menjadi objek penelitian yang dilakukan oleh Maruti (2009). Maruti meneliti pemerolehan bahasa anak autis di Yayasan Pelita Hati. Hasilnya dua anak penderita autis yang berjenis hiperaktif atau eksesif, mampu menguasai ketujuh fungsi bahasa dan menunjukkan bahwa tidak semua pola interaksi fungsi bahasa yang dikemukakan Halliday terpenuhi.

Perbedaan antara penelitian sebelumnya yaitu terletak pada objek penelitian dan fokus kajiannya. Objek penelitan adalah pada jenis kelainan autis tersebut. anak autis tersebut tidak hanya semata autis hiperaktif ’murni’ tetapi anak tersebut juga mengalami slow learner (lambat belajar). slow learner (lambat belajar) merupakan kelainan pada kemampuan proses belajar anak. Anak memiliki kecenderungan untuk dipaksa dalam menangkap pelajaran. Fokus kajiannya pun tak semata frasa dan kalimat saja tetapi klausa juga dikaji dalam penelitian ini.

 

2. Masalah

Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pemerolehan sintaksis anak autis Yayasan Pelita Hati Palembang, khususnya:

  1. Bentuk-bentuk frase apa sajakah yang diproduksi anak autis Yayasan Pelita Hati Palembang?
  2. Bentuk-bentuk klausa apa sajakah yang diproduksi anak autis Yayasan Pelita Hati Palembang?
  3. Bentuk-bentuk kalimat apa sajakah yang diproduksi anak autis Yayasan Pelita Hati Palembang?

 

3. Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemerolehan sintaksis anak autis Yayasan Pelita Hati Palembang, khususnya:

  1. Mendeskripsikan pemerolehan bentuk-bentuk frasa anak autis Yayasan Pelita Hati Palembang.
  2. Mendeskripsikan pemerolehan bentuk-bentuk klausa anak autis Yayasan Pelita Hati Palembang.
  3. Mendeskripsikan pemerolehan bentuk-bentuk frasa kalimat anak autis Yayasan Pelita Hati Palembang.

 

4. Manfaat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan secara teoretis dan praktis. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai penyumbang bagi teori pemerolehan bahasa khususnya sintaksis, yaitu memperkuat teori yang ada. Secara praktis, penelitian ini bermanfaat bagi guru. Khusunya guru sekolah khusus anak autis. Dimana diharapkan mampu membantu guru dalam memperlancar proses belajar mengajar. Guru dapat membantu siswa autis yang memiliki kesulitan dalam memproduksi bahasa khususnya frasa, klausa, dan kalimat agar proses berbahasa anak autis tersebut menjadi lebih baik dan sempurna.

 

5.  TINJAUAN PUSTAKA

5.1 Pemerolehan Bahasa Pertama dan Bahasa Kedua

Pemerolehan bahasa pertama memang bersifat primer, paling sedikit dalam dua hal, dari segi urutan dan dari segi kegunaan  (Tarigan, 1988:84). Istilah pemerolehan bahasa (language acquisition) dibedakan dengan belajar bahasa (language learning). Pateda (1990:42) menyatakan bahwa psikologi dewasa ini cenderung menggunakan istilah pemerolehan bahasa (language acquisition) daripada belajar bahasa (language learning). Beberapa ahli berpendapat bahwa perbedaan antara pemerolehan dan belajar bahasa terletak pada proses penguasaan bahasa itu. Istilah “pemerolehan” digunakan dalam penguasaan bahasa pertama oleh anak-anak, sedangkan istilah “belajar” digunakan oleh orang-orang yang ingin menguasai bahasa kedua.

Bahasa pertama adalah bahasa yang digunakan anak sejak kecil. Pemerolehan bahasa pertama terjadi apabila anak sejak semula tanpa bahasa dan selanjutnya memperoleh bahasa. Menurut Purnomo (1996:1), “Pemerolehan bahasa pertama adalah pemerolehan bahasa yang terjadi pada awal kehidupan anak pada umumnya”. Pada umumnya, pemerolehan bahasa pertama terjadi pada bayi sampai usia kurang lebih enam tahun.

Pemerolehan bahasa kedua adalah pemerolehan bahasa secara sadar dan alamiah setelah seseorang memperoleh bahasa pertama. Prose pemerolehan bahasa kedua pada dasarnya memiliki persamaan dengan proses pemerolehan bahasa pertama. Penguasaan bahasa pertama menunjukkan persamaan atau kemiripan dengan proses pemerolehan bahasa pertama merupakan suatu proses yang secaratidak sadar dialami oleh semua orang. Namun, proses mempelajari bahasa kedua merupakan proses tersendiri yang membutuhkan perhatian khusus. Adapun persamaannya mencakup strategi kognitif yang sama, yakni pemelajar mencari keteraturan susunan kata demi kata, bergerak dari permasalahan yang sederhana sampai kompleks dalam hal perkembangan sintaksis, membuat generalisasi bentuk-bentuk leksikal dan morfologis, dan juga menafsirkan apa-apa yang tidak diketahui dengan berdasarkan pada hal-hal yang sudah diketahui. Perbedaan antara kedua proses tersebut adalah berkaitan dengan aspek linguistik, aspek sosial, dan aspek psikologis (Pramuniati dalam Helmi, 2006:8).

Beberapa ahli bahasa membagi tahap-tahap perkembangan bahasa ke dalam tahap pralinguistik dan tahap linguistik. Akan tetapi, tahap pralinguistik tidak dapat dikatakan bahasa permulaan karena bunyi-bunyi seperti tangisan dan rengekan dikendalikan oleh rangsangan (stimulus) semata dan tidak mengandung makna. Selaras dengan teori pemerolehan bahasa anak, penguasaan sintaksis berlangsung secara bertahap satu kata, dua kata, dan tiga kata atau lebih. Dalam bahasa Barat seperti Bahasa Inggris, ujaran satu kata (one world ulterancer) adalah sama dengan ujaran satu kata dalam Bahasa Indonesia karena kebanyakan hal, kata dalam Bahasa Indonesia karena kata dalam Bahasa Indonesia pada umumnya adalah dwisuku atau bahkan polisuku (Dardjowijojo, 2000:124).

Sejalan dengan gagasan mengenai kriteria pemerolehan bahasa, Tarigan (1988:85) menambahkan bahwa produksi ucapan-ucapan yang berdasarkan tata bahasa yang teratur rapi tidaklah secara otomatis mengimplikasikan bahwa sang pembicara telah menguasai bahasa yang bersangkutan secara baik, dia mungkin saja memaknai ucapan-ucapan ini dengan makna yang agak berbeda.

5.2 Sintaksis

Ada banyak definisi sintaksis yang dikemukakan oleh linguis. Chrystal  dalam Ba’dulu (2004:43)  mendefinisikan ”Sintaksis sebagai telaah tentang kaidah-kaidah yang mengtur cara kata-kata yang dikombinasikan untuk membentuk kalimat dalam suatu bahasa”. ”Sintaksis adalah telaah tentang hubungan antara unsur-unsur struktur kalimat, dan telaah kaidah-kaidah yang menguasai pengaturan kalimat dalam gugus-gugus kata” menurut Paul Robert dalam Ba’dulu (2004:43).

Jika sebuah struktur muncul hanya pada satu konteks, ia seharusnya diperhitungkan. Contohnya pada saat seorang anak menggunakan struktur wh-question dengan benar hanya pada “what’s that?” kita tidak dapat mengasumsikan bahwa mereka memperoleh struktur wh-. Faktanya mereka bisa menghasilkan why we here dan konstruksi pertanyaan transisional wh- pada saat yang sama.

Sama halnya jika contoh  yang ada dari possessive yang digunakan secara benar adalah Granma’s seperti pada we’re going to Granma’s seperti bahwa posesif’s adalah pola yang diingat daripada sebuah aturan produktif. Kata-kata yang pernah digunakan dalam bentuk tunggal juga menjadi kandidat “mengingat keseluruhan’. Itulah yang terbaik untuk menganalisis kata seperti scissors, glasses dan slacks terpisah dari nomina-nomina lain yang digunakan baik tunggal ataupun jamak menurut Dulay, Burtm dan Krashen dalam Helmi (2006:13).

5.2.1 Frase

Menurut Chaer (2008:120), “Frasa adalah satuan sintaksis yang tersusun dari dua buah kata atau lebih, yang di dalam klausa menduduki fungsi-fungsi sintaksis”. Simak bagan berikut:

S P O KEt
Adik saya Suka makan Kacang goreng di kamar

Semua fungsi klausa di atas diisi oleh sebuah frase: fungsi S oleh frase adik saya, fungsi P diisi oleh frase suka makan, fungsi O oleh frase kacang goreng, dan fungsi Keterangan diisi oleh frase di kamar (Chaer, 2008:39).

5.2.1.1 Pembagian Frase

Frasa dilihat dari hubungan kedua unsurnya dibagi menjadi frasa koordinatif dan frase subordinatif. Frase koordinatif adalah frase yang kedudukan kedua unsurnya sederajat, dan frase subordinatif yaitu yang kedua unsurnya tidak sederajat. Dilihat dari hubungan kedua unsurnya dibedakan adanya frase endosentrik, yaitu yang salah satu unsurnya dapat menggantikan keseluruhannya, dan adanya frase eksosentrik, yaitu  yang kedua unsurnya merupakan satu kesatuan. Kemudian kalau  dilihat dari kategorinya, dibedakan adanya frase nominal, frase verbal, frase adjektifal, dan frase preposisional. Berdasarkan kriteria di atas kita dapat mencatat adanya:

  1. frase nominal  koordinatif
  2. frase verbal koordinatif
  3. frase ajektifal  koordinatif
  4. frase nominal  subordinatif
  5. frase verbal subordinatif
  6. frase ajektifal  subordinatif

karena frase subordinatif pada dasarnya sama dengan frase endosentrik, maka merupakan frase eksosentrik hanyalah:

  1. frase preposional.

(Chaer, 2008: 120-121)

a. Frase Nominal Koordinatif (FNK)

FNK dapat disusun dari

1)      dua buah kata berkategori nomina yang merupakan pasangan dari antonim relasional. Contoh:

(1)   ayah ibu

(2)   guru murid

2)      dua buah kata berkategori nomina yang merupakan anggota dari suatu medan makna. Contoh:

(3)   sawah ladang

(4)   kampung halaman

(Chaer, 2008: 121-122)

b. Frase Verbal Koordinatif (FVK)

Menurut Chaer (2008: 138), FVK dapat disusun dari:

1)      dua buah kategori verbal yang merupakan anggota antonim relasional, dan memiliki makana gramatikal ‘menggabungkan’ sehingga diantara keduanya  dapat disisipkan kata dan. Contoh:

(5)   tambah kurang

(6)    jual beli

2)      dua buah kategori  verbal yang merupakan anggota dari satu medan makna dan memiliki gramatikal ‘menggabungkan’ sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata dan. Contoh:

(7)   makan pakai

(8)   dengar lihat

c. Frase Ajektifal  Koordinatif  (FAK)

FAK dapat disusun dari:

1)  dua buah kategori ajektifal yang merupakan anggota antonim relasional, dan memiliki makna gramatikal ‘pilihan’ sehingga di antara keduanya  dapat disisipkan kata atau. Contoh:

(9)               baik buruk

(10)           tua muda

2)   dua buah kategori  ajektifal yang merupakan anggota dari pasangan bersinonim, dan memiliki makna gramatikal ‘sangat’. Contoh:

(11)           tua renta

(12)           cantik molek

3)      dua buah kata berkategori ajektifal yang maknanya sejalan tidak bertentangan dan memiliki makana gramatikal ‘himpunan’ sehingga diantara keduanya dapat disisispkan kata dan. Contoh:

(13)           bulat panjang

(14)           gemuk pendek

4)      dua buah kata berkategori ajektival yang maknanya tidak sejalan (bertentangan) dan memiliki makna ‘berkebalikan’ sehingga di antara kedua unsurnya harusnya disisipkan kata tetapi. Contoh:

(15)           murah tetapi bagus

(16)           jelek tetapi kaya

(Chaer, 2008: 144-145).

d. Frase Nominal  Subordinatif (FNS)

FNS dapat disusun dari:

1)      FNS yang berstruktur N+N

Sejauh ini yang berstruktur N+N memiliki makna gramatikal:

(a)    Milik, contoh: rumah paman, mobil direktur, dll.

(b)   Bagian, contoh: awal tahun, akhir bulan, dll.

(c)    Asal bahan, contoh: soto ayam, cincin emas, dll.

(d)   Asal tempat contoh: jeruk Bali, putri Solo, dll.

(e)    Campuran, contoh: sate lontong, kopi susu, dll.

(f)    Hasil, contoh: lukisan Afandi, sate Pak Kumis, dll.

(g)   Jenis, contoh: rokok kretek, pisau lipat, dll.

(h)   Jender, contoh: ayam jago, anak laki-laki, dll.

(i)     Seperti, contoh: kopi bubuk, jamur kuping.

(j)     Model, contoh: topi koboi, peci haji, dll.

(k)   Menggunakan, memakai, contoh: kereta listrik, mesin bensin, dll.

(l)     Peruntukan, contoh: pensil alis, tinta computer, dll.

(m) Ada di, contoh: kapal laut, ski air, dll.

(n)   Wadah, contoh: botol kecap, tabung gas, dll.

(o)   Letak, contoh: laci atas, pintu belakang, dll.

(p)   Dilengkapi, contoh: kursi roda, sepeda motor, dll.

(q)   Sasaran, contoh: pelebaran jalan, pelestarian alam, dll.

(r)     Perilaku, contoh: bantuan presiden, pemberian kakek, dll.

(s)    Alat, contoh: balap mobil, perang mulut, dll.

(Chaer, 2008: 122-134).

e. Frase Verbal Subordinatif (FVS)

Frase verbal subordinatif  dapat disusun dari Adv+V, V+Adv, V+N, dan V+A.

1)      FVS yang berstruktur Adv+V, memiliki makna gramatikal:

(a)    Ingkar, contoh: tidak membayar, tidak sembahyang, dll.

(b)   Frekuensi, contoh: jarang mandi, sering muncul, dll.

(c)    Kuantitas, contoh: banyak menulis, sedikit bicara, dll.

(d)   Waktu, contoh: lagi makan, sudah mandi, dll.

(e)    Keinginan, contoh: mau mandi, ingin makan, dll.

(f)    Keselesaian, contoh: sudah hadir, belum membaca, dll.

(g)   Keharusan, contoh: harus pergi, boleh datang, dll.

(h)   Kepastian, contoh: pasti hadir, tentu datang, dll.

(i)     Pembatasan, contoh: hanya minum, cuma menonton, dll.

2)      FVS yang berstruktur V+Adv memiliki makna gramatikal:

(a)    Berulang, contoh: makan lagi, tidur lagi, dll.

(b)   Ikut serta, contoh: minum juga, naik juga, dll.

3)      FVS yang berstruktur V+N, contoh: terjun payung, lempar cakram, dll.

4)      FVS yang berstruktur V+A, contoh: lompat jauh, loncat indah, dll.

(Chaer, 2008: 139-143).

 

f.   Frase Adjektifal Subordinatif (FAS)

Menurut Chaer  (2008: 145—148), FAS disusun dengan struktur:

1)      A+N, memiliki makna gramatikal ‘seperti’, contoh: merah darah, kuning emas, dll.

2)      A+A, memiliki makna gramatikal ‘jenis warna’, contoh: merah terang, putih kebiru-biruan, dll.

3)      A+V, memiliki makna gramatikal ‘untuk’, contoh: berani datang, takut pulang, dll.

4)      Adv+A, memiliki makna gramatikal:

(a)    ‘ingkar’, contoh: tidak takut, tidak malas, dll.

(b)   ‘derajat’, contoh: sangat bagus, kurang bagus, dll.

5)      A+Adv, memiliki makna gramatikal ‘sangat’ atau ‘tingkat superlatif’, contoh: indah sekali, merah sekali, dll.

 

g. Frase Preposisional

Frase preposisional adalah frase yang berfungsi sebagai pengisi fungsi keterangan di dalam sebuah klausa. Frase preposisional ini bukanlah frase koordinatif ataupun frase subordinatif, melainkan frase eksosentrik. Jadi, di dalam frase ini tidak ada unsur inti dan unsur tambahan. Kedua unsurnya merupakan satu kesatuan yang utuh. Frase preposisional tersusun dari kata berkategori preposisi dan kata atau frase berkategori nominal. Contoh: di pasar, ke dalam kamar, ke rumah sakit, dll (Chaer, 2008: 149).

 

5.2.2 Klausa

Berdasarkan pendapat Chaer (2008:41), “Klausa merupakan satuan sintaksis yang berada di atas satuan frase dan di bawah satuan kalimat, berupa runtutan kata-kata berkonstruksi predikatif”. Klausa dapat dibedakan berdasarkan kategori dan tipe kategori yang menjadi predikat.

1)      Klausa Nominal, yakni klausa yang predikatnya berkategori nomina. Contoh:

(1)   kakeknya orang Batak

S                  P

 

2)      Klausa Verbal, yakni klausa yang redikatnya berkategori verba. Lalu, karena secara gramatikal dikenal beberapa verba maka dikenal adanya.

(a)  Klausa verba transitif, yakni yang predikatnya berupa verba transitif, seperti:

(2)   Andi membaca komik

S         P            O

(b)   Klausa verba intransitif, yakni klausa yang predikatnya berupa verba intransitive, misalnya:

(3)   anak-anak berlari

S           P

 

3)      Klausa Ajektifal, yakni klausa yang predikatnya berkategori ajektifa.

Misalnya:

(4)   nenekku masih cantik

S              P

4)      Klausa Preposisional, yakni klausa yang predikatnya berkategori preposisi. Misalnya:

(5)   nenek ke Medan

S           P

 

5)      Klausa Numeralia, yakni klausa yang predikatnya berkategori numeralia. Misalnya:

(6)   simpanannya lima juta

S                   P

(Chaer, 2008: 150-162).

 

5.2.3 Kalimat

Kalimat adalah satuan sintaksis yang dibangun oleh konstituen dasar dan memiliki intonasi final (Chaer, 2008:163). Kalimat, jika dilihat dari bentuk sintaksisnya, dapat dibagi atas (1) kalimat deklaratif, (2) kalimat interogatif, (3) kalimat imperatif, dan (4) kalimat eksklamatif.

 

5.2.3.1 Kalimat Deklaratif

Kalimat deklaratif yang juga dikenal dengan nama kalimat berita. Dalam pemakaian bahasa bentuk kalimat deklaratif umumnya digunakan oleh pembicara/penulis untuk membuat pernyataan sehingga isinya merupakan berita bagi pendengar atau pembacanya. Dalam bentuk tulisnya, kalimat berita diakhiri dengan tanda titik. Dalam bentuk lisan, suara berakhir dengan nada turun (Alwi, dkk,. 1998:353).

Menurut Chaer (2008:187), kalimat deklaratif adalah kalimat yang isinya menyampaikan pernyataan yang ditujukan kepada orang lain. Kalimat deklaratif ini dibangun oleh seseorang kepada orang lain untuk menyatakan sesuatu. Contoh: Tadi pagi ada tabrakan mobil di dekat monas.

 

5.2.3.2 Kalimat Interogatif

Kalimat interogatif  yang juga dikenal dengan kalimat tanya, secara formal ditandai oleh kehadiran kata tanya seperti apa, siapa, berapa, kapan, dan bagaimana dengan atau tanpa partikel –kah sebagai penegas. Kalimat interogatif diakhiri dengan tanda tanya (?) pada bahasa tulis dan pada bahasa lisan dengan suara naik, terutama jika tidak ada kata tanya atau suara turun.

Bentuk kalimat interogatif biasanya digunakan untuk meminta (1) jawaban ”ya”  atau ”tidak”, atau  (2) informasi mengenai sesuatu atau seseorang dari lawan bicara atau pembaca. Contoh: apa pemeritah akan memungut pajak deposito? (Alwi, dkk,. 1998:357—358).

 

5.2.3.2 Kalimat Imperatif

Menurut Alwi, dkk (1998:353—354), perintah atau suruhan dan permintaan jika ditinjua dari isinya, dapat diperinci menjadi enam golongan:

1)         Perintah atau suruhan biasa jika pembicara menyuruh lawan bicaranya berbuat sesuatu;

2)         Perintah halus jika pembicara tampaknya tidak memerintah lagi, tetapi menyuruh mecoba atau mempersilakan lawan bicara sudi berbuat sesuatu;

3)         Permohonan jika pembicara, demi kepentingannya, minta lawan bicara berbuat sesuatu;

4)         Ajakan dan harapan jika pembicara mengajak atau berharap lawan bicara berbuat sesuatu;

5)         Larangan atau perintah negatif, jika pembicara menyuruh agar jangan dilakukan sesuatu; dan

6)         Pembiaran jika pembicara minta agar jangan dilarang.

Kalimat imperatif memiliki ciri formal sebagai berikut.

1)         Intonasi yang ditandai nada rendah di akhir tuturan,

2)         Pemakaian partikel penegas, penghalus, dan kata tugas ajakan, harapan, permohonan, dan larangan,

3)         Susunan inversi sehingga urutannya menjadi tidak selalu terungkap predikat-subjek jika diperlukan, dan

4)         Pelaku tindakan tidak selalu terungkap.

Misalnya: Belikanlah adikmu sepatu baru!

5.2.3.3 Kalimat Eksklamatif

Kalimat eksklamatif, yang juga dikenal dengan kalimat seru, secara formal ditandai oleh kata alangkah , betapa, atau bukan main pada kalimat berpredikat ajektival. Kalimat ekslamatif ini, yang juga dinamakan kalimat interjeksi biasa digunakan untuk menyatakan perasaan kagum atau heran. Contoh: Alangkah bebasnya pergaulan meraka! (Alwi, dkk,. 1998:362).

 

5.3 Beberapa Aliran Pemerolehan Bahasa

5.3.1 Aliran Nativisme

Penganut aliran ini adalah Noam Chomsky. Dia percaya bahwa setiap manusia normal yang lahir ke dunia dilengkapi dengan suatu alat memperoleh bahasa yang disebut dengan Language Acquisition Device (LAD). LAD ini mempunyai kemampuan untuk mengklasifikasi dan memproses data bahasa yang masuk sehingga data itu dapat dikelompokkan secara teliti dan sekaligus membuat aturan-aturan gramatika. Chomsky (dalam Pateda, 1990:46) berpendapat bahwa ujaran anak-anak dapat dipengaruhi oleh kaidah-kaidah yang mereka dengar.

Menurut pandangan natives, bahasa terlalu kompleks dan mustahil dipelajari secara singkat melalui peniruan. Karena itu, beberapa aspek penting mengenai sistem bahasa pasti sudah ada pada manusia secara alamiah. Aliran nativisme memandang pelajar sebagai “inisiator menawan”. Input dilihat sebagai usaha yang membangkitkan mekanisme internal.

 

5.3.2 Aliran Behavioristik

Aliran ini berpandangan bahwa proses penguasaan bahasa (pertama) dikendalikan dari luar, yaitu oleh ransangan  yang disodirkan melalui lingkungan.

”Aliran ini dikembangkan oleh B.F Skinner dan kelompoknya. Teori behaviorisme ini bertolak pada hubungan tanggapan (response) dan peristiwa yang ada disekelilingnya. Usaha untuk menghasilkan tanggapan yang tepat terhadap rangsangan merupakam usaha pokok pemelajar. Tanggapan yang sesuai akan mendapat penguatan dan menjadi kebiasaan, sedangkan tanggapan yang tidak sesuai tidak akan diulangi pada situasi yang sama dan mirip” (Purnomo, 2002:4).

Aliran behavioristik menekankan pada aspek perilaku berbahasa yang langsung bisa diamati dan hubungan antara rangsangan dan reaksi (Bardja, 1990:12).

5.3.3 Aliran Kognitif

Piaget berasumsi bahwa bahasa itu bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah, melainkan salah satu diantara beberapa kemampuan  yang berasal dari pematangan kognitif. Menurut aliran ini, bahasa harus berlandaskan pada perubahan yang menyadarkan dan lebih umum.

Pada tahap ini, orang juga berbicara tentang peran biologi pada bahasa karena mereka mulai merasa bahwa biologi merupakan landasan dimana bahasa itu tumbuh. Orang-orang seperti Chomsky dan Lenneberg menyatakan bahwa pertumbuhan bahasa seseorang manusia terikat secara geneik dengan pertumbuhan biologinya (Dardjowijojo, 2003:6).

5.4 Anak Autis

Autism syndrome merupakan kelainan yang disebabkan adanya gangguan neurobiologis pada susunan saraf pusat (otak).

”Autis merupakan salah satu kelompok dari gangguan pada anak yang ditandai dengan munculnya gangguan keterlambatan dalam kognitif, komunikasi, ketertarikan pada interaksi sosial, dan perilakunya. Dalam bahasa Yunani dikenal kata autis, “auto” berarti sendiri ditujukan kepada seseorang ketika dia menunjukkan gejala “hidup dalam dunianya sendiri atau mempunyai dunia sendiri.” Autisme memang merupakan kelainan perilaku  yang penderitanya hanya tertarik pada aktivitas mentalnya sendiri” (Veskarisyanti, 2008:17) .

Autisme banyak disebabkan oleh gangguan saraf otak, virus yang ditularkan oleh ibu ke janin, dan lingkungan yang terkontaminasi zat beracun. Autisme yang sering melanda anak-anak sudah tampak sebelum anak tersebut mencapai umur 3 tahun. Perkembangan yang terganggu pada anak yang mengalami autisme adalah dalam bidang:

  1. Komunikasi, munculnya kualitas komunikasi yang tidak normal. Misalnya, tidak mampu untuk memulai suatu pembicaraan yang melibatkan komunikasi dua arah dengan baik.
  2. Interaksi sosial, timbulnya gangguan kualitas interaksi sosial. Misalnya, anak mengalami kegagalan untuk bertatap mata, menunjukkan wajah yang tidak berekspresi.
  3. Perilaku, aktivitas, perilaku, dan ketertarikan anak terlihat sangat terbatas. Misalnya, banyak pengulangan terus-menerus seperti adanya suatu kelekatan pada rutinitas atau rutinitas atau ritual yang tidak berguna, misalnya kalau mau tidur harus cuci kaki dulu, sikat gigi, pakai piyama, menggoosokkan kaki di keset, baru naik ke tempat tidur. Bila ada satu aktivitas di atas yang terlewatkan atau terbalik urutannya, maka ia akan sangat terganggu dan menangis bahkan berteriak-teriak minta diulang.
  4. Gangguan sensorik, misalnya senang mencium-cium, menjilat-jilat mainan atau benda-benda.
  5. Pola bermain, misalnya dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa kemana-mana.
  6. Emosi, misalnya: sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis tanpa alasan.

Perilaku autistik pada anak dapat digolongkan menjadi 2 macam, yaitu: perilaku yang eksesif (berlebihan) yaitu perilaku yang tidak terkontrol antara lain perilaku hiperaktif dan mengamuk berupa menjerit, menggigit, menyepak, memukul, dsb serta perilaku defisit (berkekurangan) (Veskarisyanti, 2008:17-27).

 

5.5 Anak Slow Learner

Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/25/kesulitan-dan-bimbingan-belajar/). Anak yang mengalami kesulitan belajar seperti slow learner akan tampak dari berbagai gejala yang dimanifestasikan dalam perilakunya, baik aspek psikomotorik, kognitif, konatif maupun afektif . Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar, antara lain :

  1. Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
  2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah
  3. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
  4. Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.
  5. Menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau pun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, dan sebagainya.
  6. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti : pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.

 

6. METODE PENELITIAN

6.1 Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Menurut Best (dalam Sukardi, 2003:167), “Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasikan objek sesuai dengan apa adanya”. Ini dilakukan dengan usaha mengumpulkan data, mengolah data, menyimpulkan, dan melaporkan sesuai dengan tujuan penelitian.

6.2 Lokasi dan Subjek Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah Yayasan Pelita Hati Palembang, yang merupakan yayasan yang membawahi Klinik Autis Anakku (terapi) dan Sekolah Pelita Hati (SD Autis). Berdasarkan pengamatan, klinik Autis Anakku (terapi) hanya untuk anak-anak yang menjalani terapi biasanya 1 guru mengajar untuk 1 siswa di dalam ruangan. Sedangkan, sekolah Pelita Hati terdiri dari 6 kelas. Kelas 1 berjumlah 1 anak diajar 1 guru. Kelas 2 berjumlah 8 anak diajar oleh 3 guru, kelas 2 berjumlah 4 anak diajar oleh 2 guru, kelas 3 berjumlah 4 anak dan diajar oleh 2 guru, kelas 4 berjumlah 1 anak dan diajar 1 guru, kelas 5 berjumlah 3 anak diajar oleh 1 guru dan kelas 6 berjumlah 1 anak diajar oleh 1 guru.

 

Data penelitian ini bersumber dari ujaran-ujaran yang diproduksi oleh siswa kelas II Yayasan Pelita Hati (SD Autis). Tempat yang digunakan untuk mengambil data adalah kelas yang merupakan tempat situasi pembelajaran berlangsung.

6.3 Teknik Pengumpulan Data

Dalam mengumpulkan data dipergunakan teknik-teknik sebagai berikut:

6.3.1 Pengamatan

Pengamatan dilakukan pada delapan siswa dalam jangka waktu satu bulan dengan frekuensi pengamatan 5 kali seminggu (senin s.d. jumat) dengan lama pertemuan tiga jam, yaitu mulai pukul 13.00 s.d. 16.00 WIB. Pengamatan berlangsung pada situasi formal dan informal. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui situasi dan kondisi ketika ujaran diproduksi.

6.3.2 Pencatatan

Sewaktu pengamatan dilakukan, teknik catat juga digunakan untuk mencatat situasi kondisi ketika ujaran produksi. Hal-hal yang dicatat meliputi tindakan-tindakan yang dilakukan dan ekspresi anak ketika ujaran diproduksi. Pencatatan dilakukan selama berlangsungnya pengamatan.

6.3.3 Perekaman

Saat pengamatan dan pencatatan, ujaran-ujaran yag diproduksi  anak direkam dengan menggunakan  tape recorder dan handphone nokia N70 dan 5320 jika dibutuhkan. Perekaman dilakukan bersamaan dengan belangsungnya pengamatan.

 

6.4 Teknik Analisis Data

Metode yang digunakan dalam anlisis data adalah metode agih. Metode agih digunakan berkaitan dengan kajian sintaksis. Sudaryanto (1993:15) menyatakan bahwa metode agih adalah metode yang dipakai untuk mengkaji  atau menentukan identitas satuan lingual tertentu dengan alat penentunya bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri.

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik bagi unsur langsung (BUL). Teknik BUL dalam peneltian ini digunakan untuk menganalisis data yang berupa frase, klausa, dan kalimat.

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan prosedur sebagai berikut:

  1. Mengubah data rekaman ke dalam bentuk teks yaitu data yang direkam dalam audio tape recorder dipindahkan ke dalam teks tertulis.
  2. Menerjemahkan data yang berbahasa Palembang ke dalam Bahasa Indonesia, data tersebut dikelompokkan berdasarkan kategorinya.
  3. Mengidentifikasi frasa, kalusa, dan kalimat. Pengidentifikasian dilakukan dengan memperhatikan ciri-ciri frasa, klausa, dan kalimat. Berikut contohnya:

Frasa terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa, misalnya:

S

P
Aku

mau berlibur.

Kalimat itu terdiri dari dua fungsi, yaitu Aku sebagai subjek dan mau berlibur sebagai predikat. Kata mau berlibur disebut frasa karena terdiri dari dua kata dalam satu fungsi yaitu predikat. Oleh karena itu, jika ada kata yang terdiri dari dua kata atau lebih dalam satu fungsi kalimat dikategorikan sebagai frasa. Klausa merupakan satuan sintaksis di atas satuan frasa dan di bawah satuan kalimat, beberapa runtutan kata-kata berkonstruksi predikatif dan tidak adanya intonasi final. Misalnya:

S

P
Intan

cantik sekali

Penggalan kalimat itu terdiri dari dua fungsi, yaitu Intan sebagai sub                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  jek dan sakit sebagai predikat. Intan cantik sekali disebut klausa karena terdiri dari frasa cantik sekali yang berfungsi sebagai predikat dan Intan sebagai subjek. Klausa di atas berdasarkan kategori termasuk kedalam frasa ajektifal. Dikatakan klausa ajektifal didasarkan predikatnya dikategorikan ajektifal. Oleh karena itu, jika ada runtutan kata yang berkonstruksi predikat dan yang lainnya berfungsi sebagai subjek, objek, dan lainnya dikategorikan sebagai klausa.

Selanjutnya, suatu data tersebut adalah kalimat jika adanya intonasi final. Setiap satuan kalimat dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik. Misalnya: Tulisan Faisal jelek seperti ibuk ’Tulisan Faisal jelek seperti Ibu’. Kalimat tersebut tergolong sebagai kalimat deklaratif. Hal ini berdasarkan ciri formalnya yang berupa pola intonasi berita, serta tidak adanya kata-kata tanya, seruan, atau larangan. Kalimat tersebut berdasarkan kategori klausanya tergolong kalimat ajektifal karena dibentuk dari sebuah klausa ajektifal yang predikatnya dikategorikan ajektifal.

  1. Mengklasifikasikan data-data yang sudah diidentifikasi tadi sehingga jelas data-data mana saja yang tergolong frasa, klausa, dan kalimat.
  2. Mengelompokkan frasa, klausa, dan kalimat tersebut ke dalam pembagian atau jenis frasa, klausa, dan kalimat.
  3. Menyimpulkan.

7. Langkah Kerja dan Jadwal Penelitian

No Kegiatan Agustus September Oktober November Desember Januari
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Mengajukan Judul
2 Membuat Proposal Penelitian
3 Seminar Perbaikan
4 Pelaksanaan Penelitian
5 Pengolahan Data
6 Penyusunan Laporan
7 Pertanggung Jawaban

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai             Pustaka

Ba’dulu, Abdul Muis dan Herman. 2004. Morfosintaksis. Jakarta: Rineka                    Cipta.

Chaer, Abdul. 2002. Psikolinguistik Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta

Chaer, Abdul. 2008. Sintaksis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2000. Echa Kisah Pemerolehan Bahasa Anak                     Indonesia. Jakarta: Gravindo.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2009. Psikolinguistik: Memahami Asas Pemerolehan Bahasa. http://books.google.co.id/books/desainlongitudinalpemerolehanbahasa.html. Diakses 1 Oktober 2009.

Indrawati, Sri dan Santi Oktarina. 2003. “Pemerolehan Bahasa Anak TK         Pembina Bukit Besar Palembang: Sebuah Kajian Fungsi Bahasa Halliday”. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unsri. Laporan Penelitian.

Helmi. 2006. “Pemerolehan Sintaksis Anak Play Group Kiddy Club Plaju Palembang”. Inderalaya: Skripsi Sarjana FKIP Unsri.

Maruti, Centi Agustia. 2009. ”Pemerolehan Bahasa Anak Autis Yayasan Pelita Hati Palembang: Suatu Kajian Berdasarkan Fungsi Bahasa Halliday”. Inderalaya: Skripsi Sarjana FKIP Unsri.

Maulana, Mirza. 2007. Anak Autis, mendidik Anak Autis dan Gangguan Mental Lain Menuju Anak Cerdas dan Sehat. Yogyakarta: Kata Hati

Pateda, Mansoer. 1990. Aspek-Aspek Psikolinguistik. Flores: Nusa Indah

Purnomo, Mulyadi Eko. 2002. ”Teori Pemerolehan Bahasa Kedua”. Inderalaya: Diktat FKIP Unsri.

Subyakto, Sri Utari dan Nababan. 1992. Psikolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Pendidikan Wahana Kebudayaan Secara Linguistik. Yogyakarta: Duta Wahana University Press.

Sudrajat, Ahmad. 2008. Kesulitan Belajar Siswa dan Bimbingan Belajar. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/25/kesulitan-dan-bimbingan-belajar/. Diakses  tanggal 6 November 2009.

Sukardi. 2003. Metodelogi Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: Bumi Aksara.

Tarigan, Henry Guntur. 1988. Psikolinguistik. Bandung: Angkasa.

­­­­­­­­­

Veskarisyanti, Galih A. 2008. Terapi Autis. Yogyakarta: Pustaka Anggrek.

____. 2007. Anak Slow Learner bukan Anak Idiot. http://www.ubaya.ac.id/ubaya/news_wu_detail/400/Anak_Slow_Learner_bukan_Anak_Idiot.html. Diakses  tanggal 6 November 2009.

____. 2009. Slow Learner. http://bppk.dindikbanten.org/index.php.article:slow-learner. Diakses  tanggal 6 November 2009.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s