Feminisme pada Sampek dan Engtay Karya Norbertus Riantiarno

Posted: 2 March 2011 in sastra

1. Pendahuluan
Dewasa ini di berbagai belahan dunia, perempuan mulai bangkit mempertanyakan dan menggugat dominasi dan ketidakadilan yang terjadi dalam sistem patriarkhi. Perempuan selama ini memang telah mengalami subordinasi, represi, dan marjinalisasi di dalam sistem tersebut, di berbagai bidang, termasuk di bidang sastra. Dalam sejarah kesusastraan di berbagai wilayah, kita akan melihat berbagai keadaan yang memiliki persamaan sehubungan dengan keberadaan perempuan di bidang ini, yakni tersubordinasi dan termarjinalisasinya keberadaan mereka, baik pada tataran proses kreatif, kesejarahan, maupun sosial.
Di Amerika, sejarah tidak pernah menulis tentang perempuan, karena penulisan sejarah biasanya hanya menyebutkan keberhasilan orang-orang yang memiliki kekuasaan, yang pada saat itu didominasi oleh laki-laki kulit putih. Menurut Saparie (http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=113881), Di Indonesia, seperti pernah dikatakan Nenden Lilis A, keterpojokan perempuan di dunia sastra juga terjadi, meski tak seeksis di Amerika. Sejarah kesusastraan kita sempat mencatat nama-nama dan karya-karya perempuan. Namun, dalam penilaian terhadap karya-karya mereka banyak terjadi pengabaian. Kritik kesusastraan lebih banyak difokuskan pada karya laki-laki sehingga pendeskripsian tentang wawasan estetik hanya didasarkan pada apa yang dicapai oleh laki-laki. Akibatnya, apa yang pernah dicapai perempuan, yang sebenarnya penting, tidak terjelaskan.

Sampai saat ini belum banyak kritikus sastra yang menggunakan perspektif feminisme dalam melakukan kritik terhadap karya sastra. Pada awalnya karya sastra perempuan di Amerika pun pernah dianggap tidak ada artinya. Anggapan itu muncul dari stereotip bahwa perempuan pasti akan membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan persoalan domestik. Bahkan, kalau ada karya yang baik dan bisa menggugah pembaca perempuan, dikhawatirkan akan membahayakan kedudukan dan kredibilitas pengarang laki-laki. Karena itu tidak mengherankan kalau pada awalnya pengarang perempuan di Amerika pun pernah menggunakan nama samaran laki-laki agar karya mereka bisa diterima masyarakat.
Kondisi-kondisi timpang di atas, seiring gerakan feminisme di berbagai belahan dunia dan berkembangnya kajian-kajian perempuan, dipertanyakan para feminis. Para feminis melihat perlu ada pengkajian dan penyusunan ulang terhadap kondisi kesusastraan itu dengan apa yang kemudian dinamakan kritik sastra feminis.
Kritik sastra feminis secara teknis menerapkan berbagai pendekatan yang ada dalam kritik sastra, Kritik yang mula-mula berkembang di Prancis (Eropa), Amerika, dan Australia ini merupakan sebuah pendirian yang revolusioner yang memasukkan pandangan dan kesadaran feminisme (pandangan yang mempertanyakan dan menggugat ketidakadilan yang (terutama) dialami perempuan yang diakibatkan sistem patriarkhi) di dalam kajian-kajian kesusastraan.
Makalah ini menyajikan teori, sejarah, serta tujuan dari kritik sastra feminisme. Tidak hanya itu, makalah ini juga akan menyajikan aplikasi terhadap karya sastra. Pengaplikasian teori ini dilakukan pada sebuah naskah drama N. Riantiarno yang berjudul Sampek Engtay.

2. Tinjuan Pustaka
2.1 Sejarah Gerakan Feminisme
Kritik ini berawal dari hasrat para feminis untuk mengkaji karya penulis-penulis wanita di masa silam dan untuk menunjukkan citra wanita dalam karya penulis-penulis pria yang menampilkan wanita sebagai makhluk yang ditekan, disalahtafsirkan, serta disepelekan oleh tradisi patriarkal yang dominan.
Hasrat pertama didasari oleh perasaan cinta dan setia kawan terhadap penulis-penulis wanita. Hasrat kedua didasari oleh perasaan prihatin dan amarah. Konvensi Seneca Falls Tahun 1848 yang dipelopori oleh Elizabeth Cady Stanton, Lucretia Mott, dan Susan B. Anthony, berhasil menggalang dukungan bagi tuntutan mereka agar wanita diberi hak yang sama (dalam bidang hukum, ekonomi, dan sosial). Usaha mereka ini banyak mendapat tantangan dari “nilai-nilai Victoria” yaitu wanita harus menjaga kesalehan dan kemurnian mereka, bersikap pasif dan menyerah, rajin mengurus keluarga dan rumah tangga.
Tahun 1860-an melakukan upaya untuk memperoleh hak politik dan pendidikan yang memunculkan perguruan tinggi khusus untuk perempuan seperti Vassar College, Smith College, Wellesley College, dan Bryn Mawr College. Kemudian, sebanyak 11.000 wanita muda terdaftar di 582 PT dan pada tahun 1900 tercatat 40% lulusan PT adalah wanita pada tahun 1870-an.
Tahun 1920 memperoleh hak memilih dan dipilih, setelah memperoleh pendidikan yang baik, dan mengambil alih berbagai pekerjaan yang ditinggalkan laki-laki yang pergi berperang pada PD I. Namun, di tahun 1920-1930 wanita Amerika cenderung kembali ke lingkungan domestik, tidak ikut bersaing dengan kaum pria dalam bidang politik maupun bisnis, dan mengalihkan perhatian ke bidang kesejahteraan wanita dan anak yang meliputi bidang pendidikan dan kesehatan. Di tahun 1963 terbit buku The Feminine Mystique, karya Betty Friedan (Ahli sosiologi dan aktivis Feminisme) yang menandai munculnya gerakan feminisme gelombng kedua di Amerika.
Di Indonesia sendiri, gerakan feminisme muncul di ketika terbitnya tulisan “Habis gelap terbitlah terang” karya R. A. Kartini (Ibu Emansipasi). Dilanjutkan Dewi Sartika Tahun 1904 mendirikan “Sekolah Isteri” kemudian namanya diganti dengan “Sekolah Keutamaan Isteri”. Hingga tahun 1912, ia telah mendirikan 9 sekolah. Selain itu, tahun 1912 lahirnya sebuah organisasi Perempuan bernama Poetri Mardika kemudian mengajukan mosi kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1915 agar perempuan dan laki-laki diperlakukan sama di muka hukum.
Berbagai organisasi Perempuan muncul pada kurun waktu 1915-1925. Diantaranya adalah: Pawiyatan Wanito (Magelang, 1915), Percintaan Ibu Kepada Anak Temurun—PIKAT (Manado, 1917), Purborini (Tegal, 1917), Aisyiyah atas bantuan Muhammadiyah (Yogyakarta, 1917), Wanito Soesilo (Pemalang, 1918), Wanito Hadi (Jepara, 1919), Poteri Boedi Sedjati (Surabaya, 1919), Wanito Oetomo dan Wanito Moeljo (Yogyakarta, 1920), Serikat Kaoem Iboe Soematra (Bukit Tinggi, 1920), Wanito Katolik (Yogyakarta, 1924). Dalam catatan sejarah, hampir setiap organisasi perempuan ini, menerbitkan majalah mereka sendiri sebagai media untuk membentuk opini publik sehingga gagasan-gagasan mereka terkomunikasikan ke dalam masyarakat luas. Kemudian dibentuklah Kongres Perempuan Indonesia I, II, dan III guna menempatkan perempuan Indonesia menjadi lebih baik dari sebelumnya (http://www.google.co.id/#hl=id&source=hp&biw=1280&bih=619&q=sejarah+kritik+sastra+feminisme&aq=f&aqi=&aql=&oq=&gs_rfai=&fp=9798f548f006646a).

2.2 Landasan Gerakan Feminisme
Landasan terbentuknya gerakan feminisme, didasari oleh beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut antara lain, aspek politis, aspek evangelis, dan aspek sosialisme. Aspek politis terlihat ketika terjadinya konferensi di Seneca Falls (USA) Tahun 1848, sebagai awal timbulnya gerakan perempuan secara terorganisasi dan dianggap pula sebagai Women’s Great Rebellion. Para tokoh feminis memproklamasikan versi lain dari Deklarasi kemerdekaan USA, yang awalnya berbunyi “all men are created equal”(1776) menjadi “all men and women are created equal”.
Aspek keduan, aspek evangelis, dilihat dari sudut pandang agama (Katholik & Protestan) menempatkan wanita pada posisi yang lebih rendah daripada laki-laki. Aspek yang terakhir yaitu aspek sosialisme. Ideologi feminisme dipengaruhi oleh konsep Sosialisme dan Marxis. Wanita Amerika sebagai kelas tertindas (proletar) dalam masyarakat kapitalis tidak memiliki nilai ekonomis karena hanya mengurus rumah tangga, berbeda dengan pekerjaan laki-laki yang menghasilkan uang (borjuis) (http://www.google.co.id/#hl=id&source=hp&biw=1280&bih=619&q=sejarah+kritik+sastra+feminisme&aq=f&aqi=&aql=&oq=&gs_rfai=&fp=9798f548f006646a).

2.3 Feminisme
Wolf dikutip Sofia (2009:13), mengartikan feminisme sebagai teori yang mengungkapkan harga diri pribadi dan harga diri semua perempuan. istilah “menjadi feminism”, bagi Wolf harus diartikan dengan “menjadi manusia”. Pada pemahamannya yang demikian, seorang permpuan akan percaya pada diri mereka sendiri. Sementara itu, Budianto masih dikutip Sofia mengartikan permasalahan ketimpangan dan ketidakadilan dalam pemberian peran dan identitas social berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Istilah feminism berarti kesadaran akan adanya ketidakadilan jender yang menimpa kaum perempuan, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Kesadaran itu harus diwujudkan dalam tindakan yang dilakukan baik oleh perempuan maupun laki-laki untuk mengubah keadaan tersebut.
Feminisme, dalam kamus bahasa Indonesia berarti mengenai (menyerupai seperti) wanita, bersifat kewanitaan. Feminisme berarti gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan kaum pria. Dari wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, mengenemukakan bahwa feminisme adalah sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria (http://id.wikipedia.org//w/index.php?title=Feminisme&action=edit/).
Dengan demikian, dapat diartikan feminisme merupakan sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria. Emansipasi cenderung digunakan sebagai istilah yang berarti pembebasan dari perbudakan yang sesungguhnya dan persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Perempuan dalam pendangan feminisme mempunyai aktivitas dan inisiatif sendiri untuk memperjuangkan hak dan kepentingan tersebut dalam gerakan untuk menuntut haknya sebagai manusia sepenuhnya.

2.4 Ragam Kritik Sastra Feminisme
Seperti yang kita ketahui, kritik sastra feminisme berawal dari hasrat para feminism untuk mengkaji karya penulis-penulis wanita di masasilam dan untuk menunjukkan citra wanita dalam karya penulis-penulis pria yang menampilkan wanita sebagai makhluk yang dengan berbagai cara ditekan, disalahtafsirkan, serta disepelekan oleh tradisi patriarchal yang dominan. Boleh dikatakan , hasrat yang pertama didasarkan oleh perasaan cinta dan setia kawan terhadap penulis-penulis wanita pada zaman dahulu, dan hasrat yang kedua didasari oleh perasaan prihatin dan amarah.
Kedua hasrat ini menimbulkan berbagai ragam cara mengkritik yang kadang-kadang berpadu. Djajanegara (2003:22—39) mengemukakan beberapa ragam kritik sastra feminism yang muncul dari kedua hasrat di atas. Ragam tersebut antara lain, kritik ragam idelogis, kritik ragam ginokritik, kritik ragam feminis-sosial, kritik ragam lesbian, dan kritik ragam feminis-ras.

2.4.1 Kritik Ragam Ideologis
Kritik ragam ideologis merupakan kritik sastra feminis yang paling banyak dipakai. Kritik sastra feminis ini melibatkan wanita, khususnya kaun feminis sabagai pembaca wanita adalah citra steriotipe wanita dalam karya sastra . kritik ini juga meneliti nkesalahpahaman tentang wanita dan sebab-sebab wanita sering tidak diperhitungkan , bahkan nyaris diabaikan sama sekali dalam kritik sastra. Pada dasarnya ragam kritik sastra ini merupakan cara menafsirkan suatu teks, yaitu satu di antara banyak cara yang dapat diterapkan untuk teks yang paling rumit sekali pun. Cara ini bukan saja memperkaya wawasan para pembaca wanita, tetapi juga membebaskan cara berpikir mereka.

2.4.2 Kritik Ragam Ginokritik
Kritik sastra feminis ragam lain adalah kritik yang mengkaji penulis-penulis wanita. dalam ragam ini termasuk penelitian tentang sejarah karya sastra wanita, gaya penulisan, tema, genre, dan struktur tulisan wanita, profesi penulis wanita sebagai suatu perkumpulan, serta perkembangan dan peraturan tradisi penulis, serta perkembangan dan peraturan tradisi penulis wanita. Jenis kritik sastra feminis ini dinamakan gynocritics atau ginokritik dan berbeda dari kritik ideologis, karena yang dikaji disini adalah maslah perbedaan. Ginokritik mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar, seperti apakah penulis-penulis wanita merupakan kelompok khusus, dan apa perbedaan antara tulisan wanita dan tulisan laki-laki.

2.4.3 Kritik Sastra Feminis-Sosialis
Kritik sastra feminis-sosialis atau kritik sastra marxis meneliti tokoh-tokoh wanita dari sudut pandang sosialis, yaitu kelas-kelas masyarakat. Pengrkritik feminis mencoba mengungkapkan bahwa kaum wanita merupakan kelas masyarakat yang tertindas. Gagasan ini memang mempunyai dasar kuat. Mary Wollstonecraft, perintis gerakan feminis di Inggris mengemukakan dalam tulisannya bahwa kaun wanita, khususnya dari kalangan menengah, merupakan kelas tertindas yang harus bangkit dari belenggu rumah tangga. Pandangan feminis lain menyatakan bahwa kaum wanita disamakan dengan kelas buruh yang hanya memiliki modal tenagadan tidak memiliki modal uang atau alat-alat produksi. Para penganut paham ini mengaku adanya dua kubu yaitu kubu “umum” dan kubu “rumah”. Dalam masyarat patriakal, perempuan dimasukkan ke dalam kubu rumah yang terbatas pada lingkungan serta kehiduppan an di rumah, sedangkan laki-laki mengusai kubu umum, yaitu lingkungan dan kehidupan di luar rumah. Maka, kritik sastra feminis-sosial mencoba menunjukkan bahwa tokoh-tokoh wanita dalam karya-karya sastra lama adalah manusia-manusia yang tertindas, yang tenaganya dimanfaatkan untuk kepentingan kaum laki-laki tanpa menerima bayaran.

2.4.4 Kritik Ragam Lesbian
Kritik sastra feminis lesbian, ragam kritik ini hanya meneliti penulis dan tokoh wanita saja. Ragam kritik ini masih terbatas kajiannya karena beberapa factor. Factor pertama, rupa-rupanya para feminis pada umumnya kurang menyukai kelompok wanita homoseksual dan memandang mereka sebagai kaum feminis radikal. Sebaliknya, kelompok lesbian menyesalkan sikap kaum feminis moderat yang hanya mengakui heteroseksual sebagai satu-satunya cara alami dalam pengungkapan emosi dan hasrat seksual yang normal. Kedua, waktu tulisan-tulisan tentang wanita bermunculan pada awal-awal tahun 1970-an, jurnal-jurnal kajian wanita untuk kurun waktu yang cukup panjang tidak memuat tulisan tentang lesbianism. Ketiga, kaum lesbian sendiri belum mencapai kesepakatan tentang definisi lesbianism. Berdasarkan uraian tersebut, tujuan kritik sastra feminis-lesbian adalah mengembangkan suatu definisi yang cermat tentang makna lesbian. Kemudian pengkritik satra lesbian akan menentukan apakah definisi ini dapat diterapkan pada diri penulis atau pada teks karyanya.

2.4.5 Kritik Ragam Feminis-Ras
Ragam kritik feminis yang terakhir adalah kritik sastra feminis-ras atau kritik sastra feminis-etnik. Kaum feminis etnik di Amerika menganggap dirinya berbeda dengan kaum feminis kulit putih. Mereka bukan saja mengalami diskriminasi dari kaum laki-laki kulit putih dan kulit hitam, tetapi juga diskriminasi rasial dari golongan mayoritas kulit putih baik laki-laki maupun perempuan.pengkritik sastra ini ingin membuktikan keberadaan sekelompok penulis feminis-etnik beserta karya-karyanya, baik dalam kajian wanita maupun dalam kanon sastra tradisonal dan sastra feminis.

3. Pendekatan Feminisme Kekuasaan
Selain kelima ragam feminimis tersebut, terdapat dua jenis pendekatan yang sangat menentukan sikap peneliti dalam menganalisis permasalahan perempuan dalam karya satra. Wolf dikutip Sofia (2009:17—19), membagi pendekatan feminism dalam dua hal yaitu feminisme korban dan feminisme kekuasaan.

3.1 Feminisme Korban (victim feminism)
Feminisme korban melihat permpuanj dalam peran seksual yang murni dan mistis, dipandu oleh burani untuk mengasuh dan memelihara, sertamenekankan kejahatan-kejahatan yang terjadi atas perempuan sebagai jalan untuk menuntut hak perempuan sebagai manusia biasa yang seksual, individual, tidak lebih baik dan tidak lebih buruk dibandingkan dengan laki-laki yang menjadi mitranya dan mengklaim hak-hakna atas dasar logika yang sederhana, yaitu perempuan memang memiliki hak.
Para pendekatan feminism korban, laki-laki menjadikan perempuan sebagai obejek dan mengklaim bahwa perempuan tidak pernah melakukan sebaliknya kepada laki-laki. Selain itu, laki-laki dianggap suka berpoligami dan hanya menegjar sesuatu yang tampak. Sementara itu, perempuan dipandang monogamy dan mementingkan emosi. Dengan adanya gegar gender (genderquake), yaitu tumbuhlah kesadaran bahwa perempuan bukanlah minoritas, perempuan tidak perlu mengemis kepada siapa oun untuk melakukan sesuatu.

3.2 Feminisme Kekuasaan
Dekade 1990-an mulai muncul citra perempuan sebagai pemegang kekuasaan yang telah membebaskan perempuan untuk membayangkan diri mereka sebagai makhluk yang tidak hanya menarik dan memberikan perasaan ingin menyayangi, melainkan juga dapat mendorong kea rah aksi adalah citra tentang agresivitas, keahlian, dan tantangan, ketimbang pencitraann tentang korban. Oleh karena itu, yang diperlukan untuk menganalisis perempuan-perempuan yang memahami kekuatan dirinya adalah pendekatan feminism kekuasaan. Pendekatan feminisme kekuasaan merupakan pendekatan yang luwes yang menggunakan dasar perdamaian, bukan dasar perang dalam perjuangan meraih hak setara. Pendekatan ini bersifat terbuka dan menghormati laki-laki serta dapat membedakan ketidaksukaan pada laki-laki.
Prinsip pendekatan ini yang pertama adalah perempuan dan laki-laki mempunyai arti yang sama dalam kehidupan wanita. Kedua, perempuan berhak menentukan nasibnya sendiri. Ketiga, pengalaman-pengalaman mempunyai makna bukan sekedar omong kosong. Keempat, perempuan berhak mengungkapkan kebenaran tentang pengalaman-pengalaman mereka. Kelima, perempuan layak mendapatkan lebih banyak segala sesuatu yang tidak mereka punya karena keperempuanan mereka.

4. Aplikasi
Sebagai pelengkap dari kajian feminisme ini, penulis mencoba mengaplikasikan teori feminisme dengan menggunakan pendekatan feminisme kekuasaan pada naskah drama Sampek Engtay karya Nobertus Riantiarno. Penulis memilih karya sastra berupa naskah drama karena tertarikan terhadap kemenarika dan komedi cerita serta hubungan yang erat terhadap kajian feminisme.

4.1 Nano Riantiarno
Lahir di Cirebon, Jawa Barat, 6 Juni 1949 atau biasa dipanggil Nano, adalah seorang aktor, penulis, sutradara dan tokoh teater Indonesia, pendiri Teater Koma (1977). Dia adalah suami dari aktris Ratna Riantiarno. Nano telah berteater sejak 1965, di kota kelahirannya, Cirebon. Setamatnya dari SMA pada 1967, ia melanjutkan kuliah di Akademi Teater Nasional Indonesia, ATNI, Jakarta, kemudian pada 1971 masuk ke Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta. Nano banyak menulis skenario film dan televisi. Karya skenarionya, Jakarta Jakarta, meraih Piala Citra pada Festival Film Indonesia di Ujung Pandang, 1978. Karya sinetronnya, Karina meraih Piala Vidia pada Festival Film Indonesia di Jakarta, 1987.
Menulis novel Cermin Merah, Cermin Bening dan Cermin Cinta, diterbitkan oleh Grasindo, 2004, 2005 dan 2006. Ranjang Bayi dan 18 Fiksi, kumpulan cerita pendek, diterbitkan Kompas, 2005. Roman Primadona, diterbitkan Gramedia 2006.
Sampek Engtay merupakan lakon klasik Cina ini disadur dan dilahirkan tahun 1988 oleh N. Riantiarno dan dipindahkan peristiwanya ke daerah Banten. Struktur ceriteranya tidak mengalami perubahan dari lakon aslinya, hanya ada beberapa penambahan sebagai ‘kembang lakon’ dengan mengingat bahwa kisah Sampek Engtay banyak sekali versinya. Lakon itu dalam ludruk, misalnya, berbeda dengan lakon yang dimainkan dalam drama gong di Bali. Juga berbeda dengan ketika lakon ini dipanggungkan oleh Dardanella atau Opera Bangsawan pada awal abad ke-20.
Dalam lakon versi Teater Koma, Engtay adalah gadis kelahiran Banten yang tinggal di Serang. Sampek asal Pandeglang dan Ma Tjoen, tunangan Engtay, anak Kapten Cina dari Rangkasbitung. Musik pun digarap secara gado-gado. Unsur Cina, Sunda, Betawi dan bunyi-bunyi ‘masa kini’ berbaur dan menciptakan harmoni yang unik. Ini sah saja. Sebagai contoh : ketika lakon ini di-Jawa-kan oleh sebuah grup (direkam oleh Tio Tek Hong, Batavia, pada awal abad ke-20), musik yang dipakai adalah musik gamelan Jawa. Sedang pada masa lakon ini dimainkan oleh Opera Bangsawan, irama wals dan tango masuk pula. Itu bukti bahwa lakon ini memang universal.
Inilah lakon melodramatis, disampaikan secara kocak dan dibungkus dengan tarian dan musik. Sebuah gurauan pahit remaja bercinta yang juga masih bisa dinikmati oleh para orang tua. Sebuah lakon tentang wanita yang menganggap sanggup merubah citra dirinya, tetapi pada akhirnya tetap tidak bisa lari dari keputusan keluarga. Namun, mampu menentukan nasibnya sendiri (http://www.teaterkoma.org/index.php?option=com_content&view=article&id=47:n-riantiarno&catid=36:angkatan-pendiri&Itemid=63).

4.2 Sinopsis Sampek Engtay
Dengan berbagai cara Engtay berhasil meyakinkan kedua orangtuanya bahwa sekolah itu baik bagi dirinya. Ia pun pergi ke Betawi dan bertemu Sampek. Engtay ditempatkan dalam satu kamar dengan Sampek, karena tidak seorang pun menyangka bahwa Engtay adalah perempuan. Maklum ia menyamar menjadi laki-laki.
Cinta pun tumbuh dan hampir saja Engtay menyerahkan dirinya kepada Sampek yang akhirnya tahu juga ia perempuan. Engtay berterus terang kepada Sampek lantaran ia geregetan terhadap kejujuran-yang disebutnya sebagai kebodohan-lelaki muda itu. Bayangkan sudah hampir satu tahun Sampek tetap tidak mengira bahwa selama ini ia tidur satu ranjang dengan seorang gadis.
Tapi cinta Sampek ditakdirkan tidak kesampaian karena tepat pada saat ia siap bercumbu, Engtay dipanggil pulang untuk dinikahkan dengan tunangannya, Ma Tjoen. Sampek pun merana dan sakit cinta menyebabkan ia mati. Ia dikubur dengan tanda-tanda seperti yang diminta oleh Engtay yaitu kuburan di sebelah timur dan menghadap ke barat, bongpay (batu nisan) warna biru dengan tulisan nama pemuda itu tertatah jelas.
Ketika Ma Tjoen berhasil memboyong Engtay ke Rangkasbitung dengan tandu pengantin, Engtay memohonkan sebuah permintaan : ziarah ke makam Sampek untuk sembahyang. Dasar Jodoh, ketika upacara sembahyang itulah kubur Sampek terbuka. Lalu Engtay melompat ke dalam kubur, menyatu bersama kekasihnya. Ma Tjoen marah bukan main. Ia membongkar kuburan. Tapi baik jasad Sampek maupun Engtay tidak terdapat dalam kuburan itu. Sebagai gantinya, di situ ada sepasang batu biru, sepasang tawon kuning dan sepasang kupu-kupu yang langsung terbang menuju langit.

4.3 Analisis
Analisis feminisme dalam Sampek Engtay ini dilakukan dalam beberapa dua tahap. Tahap pertama mengidentifikasi satu atau beberapa tokoh wanita dalam sebuah karya sastra. Tahap kedua, mengidentifikasi tokoh lain, terutama laki-laki yang memiliki keterkaitan dengan perempuan yang sedang diamati (Djajanegara, 2003:51). Dalam masing-masing tahap akan dianalisis dan dikaitkan dengan pendekatan kekuasaan. Hal ini dikarenakan pendekatan kekuasaan wanita dalam cerita terlihat dominan bila dibandingkan dengan pendekatan atau ragam-ragam feminisme lainnya. Tokoh-tokoh wanita dalam Sampek Engtay adalah Engtay, Nyonya Tjiok, Nyonya Liang, Djien Sim, dll. Tokoh wanita yang akan diidentifikasi dalam kajian ini adalah Engtay dan laki-laki yang berkaitan langsung dengan tokoh wanita yaitu Sampek.

4.3.1 Analisis Tokoh Engtay
Berbagai asumsi laki-laki tenang perempuan menghasilkan ekspresi yang merupakan tuntutan terhadap perempuan agar berada pada posisi sebagai pihak yang dikuasai. Tuntutan tersebut terlihat dalam kata-kata dalam naskah drama Sampek Engtay. Engtay merupakan perempuan kuasa yang menyadari bahwa ia memiliki kuasa untuk menentukan hidupnya. Ia melakukan banyak cara agar sesuat yang dikehendakinya terwujud. Namun, ia masih tetap dalam koridor anak berbakti terhadap orang tua. Jika ia bukan perempuan kuasa tentulah ia akan menerima apapun yang ditentukan atau diarahkan hidupnya tanpa beruasaha untuk merubahnya atau memperbaikinya agar menjadi lebih baik. Deskripsi sikap-sikap inilah yang merupakan kritik sastra feminisme, yaitu mengungkapkan harga diri pribadi dan harga diri perempuan.

1) Upaya memberikan pemahaman
Proses memberikan pemahaman merupakan langkah feminisme kekuasaan yang memandang aksinya dapat mengubah dunia dengan mempengaruhi kehidupan sekitarnya. Pada Sampek Engtay proses ini tampak jelas dari dialog-dialog Engtay yang mendapatkan belum langsung mendapatkan respons positif dari kedua orang tuanya sebagaimana kutipan berikut.
NYONYA CIOK : Engtay, apa kamu lupa kalau kamu ini perempuan? Sekolah hanya untuk kaum lelaki. Mana kamu bisa tahan? Berapa lama? Pasti mereka akan tahu juga kalau kamu itu lelaki jadi-jadian, lalu mereka akan kurang ajar. Apa daya kamu?
ENGTAY : Tunggu, ibu. Ibu akan lihat bagaimana pandainya anakmu menyamar.
NYONYA CIOK : Engtay …
ENGTAY : (LARI KE KAMARNYA) Tunggu saja, ibu harus lihat . (Riantiarno, 1988:13)
Dialog Engtay tersebut merupakan suatu reaksi feminis kekuasaan yang memperlihatkan kuatnya pendirian Engtay untuk belajar di Betawi meskipun di sekolah Putra Bangsa hanya menerima siswa laki-laki bukan perempuan. Ia mencoba membujuk kedua orang tuanya dengan cara menyamar menjadi laki-laki dan kedua orang tuanya tidak mengetahuinya. Karena melihat tekad dan usaha yang besar, akhirnya Engtay mendapat persetujuan kedua orang tuanya untuk bersekolah di Putra bangsa dengan menyamar sebagai anak laki-laki. Perhatikan kutipan berikut (Riantiarno, 1988:16).
ENGTAY : Mohon, ayah, aibu, izinkan aku pergi. Restui anakmu ini. (MENANGISMANJA)
NYONYA CIOK : (TERPENGARUH. IKUT MENANGIS) Engtay, anakku. Apa boleh buat. Ibu akan mengizinkan. Tapi kamu harus ekstra hati-hati. Waspada sama orang asing. Jangan terlalu cepat percaya sama orang yang baru kamu kenal. Betawi itu kota besar, jauh lebih gede dari Serang. Macam-macam orang berkumpul di kota itu, campur aduk kayak cendol. Kamu harus jeli memilih teman. Hemat pangkal pandai, rajin pangkal kaya. Harus patuh sama gurumu!
ENGTAY : (MASIH MENANGIS) Nasehat ibu, akan selalu aku turut. Ayah?
CIOK : Mau apa lagi? Kalau ibumu sudah setuju, masa aku tidak? Lebih baik kamu siap-siap. Besok pagi kamu berangkat. Nanti ayah urus supaya kamu bias langsung diantar kegedung sekolahan. Kebetulan ayah kenal baik guru kepala disana, ayah akan surati dia.
Beradasarkan kutipan dialog di atas, terlihat sekali jika dihubungkan dengan perjuanagan gerakan feminisme yanag menganjurkan kemandirian berpikir agar menempati kedudukan yang sama dengan kedudukan laki-laki. Selain memberikan pemahaman tentang pendidikan kepada orang tuanya, Engtay juga memberikan pemahaman bahwa seorang wanita mampu melakukan sesuatu tanpa pertolongan dari siapapun termasuk laki-laki. Hal ini tercermin dalam kutipan berikut.
CIOK : Jangan kuatir. Kami berkenalan waktu ayah masih bujangan. Ah, seharusnya kuantar kamu sampai Betawi. Tapi ayah sudah tidak kuat jalan jauh. Nanti
kalau encok dan darah tinggiku kumat, bagaimana? Atau Antong saja yang mengawal kamu? Bagaimana? Antong …
ENGTAY : Aku lebih suka pergi sendiri, ayah.
CIOK : Tuh, bu, sudah kuduga. Pergi sendirian. Anakmu rupanya ingin jadi pendekar silat yang merantau, seperti dalam komik picisan itu.
NYONYA CIOK : Sudah, sudah, lebih baik kita kedalam siap-siap.
Walaupun Engtay memberikan pemahaman kepada orang tuanya jika ia akan pergi sendiri saja, ia harus ditemani oleh Antong, suami dari dayang Engtay. Mereka pergi berdua dengan Engtay telah menyamar menjadi laki-laki.
Dari upaya pemahaman di atas dapat disimpulkan bahwa dengan memberikan pemahaman yang sabar akan didapatkan tujuan yang akan kita capai. Selanjutnya, akan dikaji kekuatan perempuan dalam mempertahankan dan melindungi dirinya.

2) Mempertahankan dan Melindungi Diri
Setelah memberikan pemahaman dan mendapatkan tujuan awalnya, perempuan harus tetap mampu mempertahankan dirinya dengan cara melindungi dirinya dari kekuasaan laki-laki. Hal ini dilakukan oleh Engtay ketika ia berada di sekolah Putra Bangsa dengan berani konsisten dan membuat peraturan-peraturan guna melindungi dirinya. Hal ini tercermin dalam kutipan berikut (Riantiarno, 1988:22).
SAMPEK : Adik Engtay, aku tidur dulu. Di sebelah mana adik mau pilih tempat? Di sini atau di situ?
ENGTAY : Tunggu dulu. Aku punya sedikit permintaan Semua barang yang ada dikamar ini boleh kita pakai berdua. Yang tetap menjadi milik pribadi adalah barang-barang yang memang tidak bisa dipakai berdua. Tapi, ehh .. tempat tidur ini .. ehh .. barang kali, lebih baik kita bagi dua saja ..
SAMPEK : Mengapa begitu?
ENGTAY : Tidurku suka berantakan.
SAMPEK : Yaa, namanya juga lelaki. Tidur berantakan kan biasa.
ENGTAY : Tidak. Kalau kakak tidurnya rapih, sedang aku tidak, itu kan tidak adil. Baiknya begini saja .. (MENGAMBIL SEUTAS TALI DAN MEMBELAH RANJANG MENJADI DUA. SAMPEK MELONGO SAJA)
ENGTAY : Tali ini akan menjadi batas. Sebelah sini milikku, dan sebelah siti milik kakak. Siapa melanggar batas tali ini, harus didenda.
Dari kutipan di atas tampak bahwa Engtay melindungi dirinya ketika ia sekamar dengan Sampek. Ia memberikan peraturan-peraturan agar Sampek tak mendekatinya ketika ia tidur dan menegtahui ia adalah seorang wanita. Ia mencoba memberikan alasan mengenai peraturan yang dibautnya agar terkesan tidak aneh atau bahkan dicurigai. Selain itu, terdapat kutipan dalam dialog drama Sampek Engtay yang mengungkapkan alasan-alasan Engtay agar mampu bertahan dan melindungi dirinya di sekolah Putra Bangsa ((Riantiarno, 1988:26).
ENGTAY : (MENAHAN SENYUM) Maaf, guru. Saya kencing sambil jongkok sejak saya kecil.
ENGTAY : Sudah kebiasaan. Kencing sambil berdiri, bukan saja menyalahi peraturan sekolah kita tapi juga melanggar ujar kitab-kitab yang bunyinya : “Jongkoklah Waktu Buang Air Kecil dan Besar, Supaya Kotoran Tidak Akan Berceceran”.
GURU : Itulah yang ingin kuutarakan pagi ini. Otakmu encer sekali Engtay dan sungguh tahu aturan. Kamu betul-betul kutu buku. Apa lagi kalimat-kalimat dalam kitab yang kamu baca perihal kencing? Katakan, biar kawan-kawanmu yang bebal ini mendengar.
ENGTAY : (BERLAGAK MENGHAFAL) “Yang Keluar Saat Buang Air Kecil Harus Air. Kalau Darah, Itu Pertanda Kita Sakit. Segeralah Ke Dokter”
Berdasarkan kutipan di atas tercerminlah bahwa Engtay memiliki kecerdasan yang tinggi. Bahkan melebihi teman yang lainnya. Dialog ke-9 tersebut terjadi di sekolah Putra Bangsa, ketika sang guru marah kepada muridnya karena wc sekolah hitamnya terlihat kotor. Hal ini disebabkan murid-murid laki-laki yang buang air kecil sambil berdiri bukan jongkok. Engtay yang memang kodratnya buang air kecil sambil jongkok mencoba memberikan pengertian bahwa ia melakukannya dengan jongkok sebagai upaya agar kesehatannya tetap terjaga. Pendapatnya itu, membuat sang guru terkesan. Hal tersebut seperti yang diagungkan teori feminisme bahwa perempuan harus mampu mempertahankan dirinya agar tidak merendahkan derajatnya di mata laki-laki.

3) Berfikir Cerdas dan Maju ke Depan
Riantiarno menggambarkan sosok Engtay sebagai gadis yang cantik, menawan tanpa ada yang menandinginya kecuali cahaya bulan. Selai cantik, Riantiarno juga menggambarkan sosok Engtay yang memiliki kecerdasan dalam bidang pendidikan dan pergaulan. Berikut kutipannya (Riantiarno, 1988:47).
SUHIANG : Kalau dibilang cantik, dikota ini memang nona kami adalah yang paling cantik. Hanya cahaya bulan yang sanggup mengalahkan kecantikannya. Dia bukan saja cantik tapi juga pintar. Semua kepandaian rumah tangga dia bisa. Sebut saja apa! Menyulam, memasak, berdandan? Bisa.
SUHIANG : Nona kami juga pintar surat menyurat. Dia pandai menulis syair ‘sindiran’ dan syair ‘pasangan’. Jika ada orang bertanya, siapakah perempuan muda di Serang ini yang memenuhi persyaratan sebagai perempuan luar dalam? Maka jawabannya hanya satu : Nona Engtay kami itu. Paham?
Berdasarkan kutipan di atas, terlihat bahwa Engtay adalah gadis yang cantik luar dan dalam baik dari penampilan maupun pemikiran. Hal ini sesuai dengan pemikiran feminisme yang menganjrkan seorang perempuan harus mampu mengembangkan intelektual guna memiliki kesejajaran dengan laki-laki.
Riantiarno juga mengisahkan perilaku atau peikiran Engtay yang banyak mempengaruhi hidupnya dengan cara dipikirkan matang-matang demi kebaikan hidupnya kelak. Hal ini terlihat dalam kutipan berikut (Riantiarno, 1988:51).
SAMPEK : Tidak. Tanya Sukiu. Waktu dia mengingatkanku aku pada hari ke-28, aku bilang padanya, kita harus sampai di Serang saat hari sebelum hari yang dijanjikan. Aku mohon padamu Engtay, jangan sampai kau tidak menepati janjimu.
ENGTAY : Berapa 2 ditambah 8, 3 ditambah 7, 4 ditambah 6? Sepuluh! Itulah hari yang kujanjikan. Kuucapkan ketiganya hanya untuk penegasan.
SAMPEK : Kalau begitu, perkataanmu terlalu samar-samar. Aku jumlahkan seluruhnya menjadi 30. Hari ini adalah hari yang ke-30.
ENGTAY : Tidak bisa begitu cara menghitung cinta. Kakak hanya bisa membaca yang tersurat, tapi tidak sanggup memahami apa yang tersirat. Kakak hanya mengerti apa yang terucap tapi tidak mampu menafsir apa yang ada di balik ucapan. Kakak terlalu berpikir lurus.
SAMPEK : Bukankah cinta seharusnya lurus?
ENGTAY : Tidak. Cinta penuh liku-liku. Tak terbatas bagai langit.
Sebelum Engtay dijuempt pulang ke rumahnya, Engtay sempat berpesan kepada Sampek agar segera datang ke rumahnya dengan lama atau perhitungan waktu 2 ditambah 8, 3 ditambah 7, 4 ditambah 6. Namun, Sampek berfikir bahwa semua angka harus dihitung maka itulah waktu yang diberikan Engtay agar ia segera melamarnya. Padahal seharusnya angka tersebut hanya permainan kata-kata yang diucapkan oleh Engtay. Dengan kata lain tidak perlu dijumlahkan. Hal tersebut sesuai dengan perhitungan Engtay yaitu sebelum 10 hari maka ia akan menerima lamaran Sampek dahulu daripada lamaran tunangannya.
Berdasarkan kutipan dan penjelasan jelas sudah bahwa Engtay memiliki pemikiran ke depan untuk kehidupannya. Hal ini sama hal dengan pemikiran feminisme bahwa seorang perempuan haruslahlah mampu menentukan hidupnya untuk masa depan dan akan melepaskan dirinya dari ketergantungan laki-laki. Berikut dikutip dialog yang menegaskan bahwa Engtay telah mampu menentukan masa depannya sendiri (Riantiarno, 1988:64).
SUKIU : Baik. (MEMBACA LAGI) “Kalau kakak sampai meninggal, kuburlah jasad kakak dipinggir jalan besar dipekuburan luar kota arah Rangkasbitung. Carilah tanah dipekuburan sebelah timur dan kuburan kakak harus menghadap kebarat.
SUKIU : Pilihlah bongpay yang berwarna biru dan tatahlah nama kakak di batu nisan itu dengan huruf-huruf yang jelas. Di belakang hari, aku tentu akan datang bersembahyang dikuburan kakak. Sekian surat dariku. Dan harap jangan melupakan pesanku. Salam. Engtay ..”……………………….
SAMPEK : Dengar semua pesanku! Kuburkan aku seperti apa yang ditulis Engtay dalam surat itu. Aku yakin, Engtay pasti akan datang ke kuburku. (MENGAMBIL TUSU KONDE DARI BALIK BANTALNYA) Ini tusuk konde, tanda mata dari Engtay. Taruhlah diatas piring pedupan di depan kuburku. Jika dia datang, Dia pasti tahu apa yang harus dilakukannya. Ibu, ayah, aku mohon maaf karena tidak bisa menjaga sampai ayah, ibu tua. Maafkan anakmu yang tidak berbakti ini. Aku merasa, ajalku sudah dekat sekali. Ikhlaskan anakmu pergi, tapi ada satu permintaanku: jangan benci sama Engtay, sebab dialah satusatunya gadis yang paling aku cintai. Selamat tinggal semuanya …(SAMPEK MATI. TANGISPUN MELEDAK)
Sampek yang patah hati terhadap keputusan Engtay yang menerima pernikahannya dengan tunangannya Macun mendapatkan surat berupa amanat dari Engtay bahwa Sampek akan segera mati. Engtay berpesan setelah Sampek mati ia harus dikuburkan di pekuburan luar kota arah Rangkasbitung. Dikubur di tanah pekuburan sebelah timur dan menghadap ke barat. Juga menggunakan nissan berwarna biru dengan tatahan nama yang jelas. Maka, Engtay kemudian pasti datang dan mereka pasti akan memperoleh kebaikan. Berdasarkan pemaparan di atas, terlihat jelas Engtay mampu memberikan pemikirannya untuk masa depannya. Bahkan, masa depan Sampek.

4) Mengakhiri Pernikahan dengan Strategi
Dalam kisah Sapek Engtay yang dihasilkan oleh Riantiarno, terdapat akhir cerita yang tragis. Engtay merelakan dirinya menikah dengan Macun. Hal tersebut merupakan permintaan sang ayah. Gerakan seperti itu sebenarnya bukanlah yang diinginkan dalam gerakan feminisme. Tindakan seperti itu terkesan seperti wanita lemah dan menerima nasib dengan pasrah. Namun, ternyata Riantiarno memiliki akhir cerita yang mengembalikan citra dari kepribadiaan Engtay yaitu mampu menentukan nasibnya sendiri. Ia memilih untuk terjun ke liang lahat bersama jasad Sampek. Akhirnya mereka terbebas dari belenggu kehidupan, bebas terbang menjadi kupu-kupu. Hal tersebut seperti yang tercantum dalam kutipan berikut (Riantiarno, 1988:66).
ENGTAY : Kau taruh tusuk kondeku disini. Aku tahu, apa yang kau harapkan dariku. Sampek, kuambil tusuk konde ini. Akan kuketuk-ketuk di kuburanmy. Kalau kita memang berjodoh, kuburan ini pasti akan terbuka. Lalu aku akan masuk dan menjadi satu dengan jasadmu untuk selama-lamanya. Tapi kalau kita memang tidak berjodoh, tentu aku akan terus dibawa Macun ke Rangkasbitung dan jadi isterinya seumur hidup. Sampek, kau mati lantaran aku. Buktikan, bahwa kematianmu tidak sia-sia. Aku ketukkan tusuk konde ini tiga kali. Terbukalah … Terbukalah kuburmu ini … (MENGETUK-NGETUK TUSUK KONDE KEKUBUR SAMPEK, SEBANYAK TIGA KALI)….
(TIBA-TIBA, SETELAH KETUKAN YANG KETIGA, TERDENGAR GELEGAR GUNTUR, PADAJAL
LANGIT TIDAK SEDANG MENDUNG LALU SEBUAH CAHAYA, BAGAI METEOR, JATUH DARI
LANGIT. CAHAYA ITU LANGSUNG MEMBENTUR KUBURAN SAMPEK, SEHINGGA KUBURAN
JADI TERBELAH DAN MENGANGA)
(ENGTAY TERKESIMA. SEMUA TERKESIMA)
CIOK : Apa itu?
NYONYA CIOK : Kuburan terbuka. Kuburan terbuka. Hantu!
ENGTAY : (TERSENYUM) Kita memang berjodoh. Tunggu aku, Sampek! Aku datang! (ENTAY MASUK KEDALAM KUBUR SAMPEK DENGAN GERAK YANG SANGAT INDAH SEKALI)
Sangat jelaslah bahwa Engtay yang menerima pinangan Macun memiliki strategi yang tersusun secara rapi untuk akhir kebahagiaannya kelak. Hal tersebut seperti pemikiran para feminis bahwa seorang wanita yang kuat tidak perlu memikirkan kepentingan orang lain, haruslah kepentingan diri sendiri dahulu yang diutamakan.

4.3.2 Analisis Tokoh Sampek
Selain Sampek masih banyak lagi tokoh laki-laki dalam naskah drama ini, antara lain Macun, Jurangan Ciok, Nio, Sukiu, Kapten Liong, dan lain sebagainya. Namun, penulis memilih Sampek sebagai bahan kajian karena Sampek merupakan salah satu pemeran utama dalam cerita yang berhubungan langsung dengan Engtay.

1) Pemikiran yang Lambat dan Lemah
Sampek merupakan anak laki-laki dari Nio dan Nyonya Nio. Sampek disekolahkan oleh Nio dan ditemani oleh bujangnya Sukiu. Namun, Riantiarno menggambarkan Sampeksebagai laki-laki yang memiliki pemikiran agak lambar dan lemah jika dibandingkan dengan Engtay yang derajatnya sebagai wanita. Hal ini tergambar dari kutipan berikut (Riantiarno, 1988:39).
SAMPEK : Kenapa tidak sejak dulu aku tahu kau itu perempuan?
ENGTAY : Karena …
SAMPEK : Ssstt, jangan diulang, aku tahu lantaran aku bego dan bodoo .. (BERBISIK)…kita …?
Kutipan di atas menceritakan selama hampir dua tahun bersekolah di Putra Bangsa dan sekamar dengan Engtay, Sampek masih belum juga mengetahui bahwa Engtay sebenarnya adalah perempuan. Beradasarkan kutipan di atas tercermin bahwa Sampek memiliki pemikiran yang lambat dan cenderung lemah. Pemikiran ini sebenarnya sangat didengungkan oleh para feminis bahwa kaum laki-laki tak selamanya berada diposisi sempurna.

2) Pemuja Cinta
Selain memiliki pemikiran yang lambat, tokoh laki-laki dalam cerita ini yaitu sampek memiliki rasa cinta yang sangat besar sehingga membuatnya menjadi manusia yang terkesan bodoh menurut penulis. Ia mampu melakukan apapun demi cinta yang absurd. Perhatikan kutipan berikut (Riantiarno, 1988:58 ).
SAMPEK : Aduh, ibu, ayah, lebih aku mati saja. Tidak sanggup lagi.
NYONYA NIO : Apa sih hebatnya Engtay? Masa tidak bisa dibandingkan dengan perempuan lain?
SAMPEK : Ibu tidak pernah jumpa dengan dia sih. Pokoknya, untukku Engtay tak bias digantikan oleh siapa pun.
Sampek yang sedang jatuh cinta dengan Engtay jatuh sakit ketika menegtahui Engtay menolak lamarannya dan menerima lamaran Mancu. Ia rela mati akan itu. Para feminis menganggap jika wanita memiliki kepribadian ini tidaklah mencerminkan pemikiran feminisme yang mencoba mengembangkan dirinya agar mampu hidup mandiri, baik secara intelektual maupun secara ekonomis.
Dilihat dari cara-cara penulis menyajikan lakon ini. Kesan yang didapat dari sikap Riantiarno manampilkan Sampek dan Engtay. Bagaimana ia menokohkan Engtay. Tampaknya ia ingin menyampaikan pandangan serta gagasan secara sungguh-sungguh dan terus terang. Tidak adanya rasa sindiran dan cemoohan terhadap penokohan Engtay. Tindakan dan ucapan Engtay tampak wajar-wajar saja, tidak dibuat-buat, dan tidak pula berlebihan. Hal inilah yang diinginkan dari gerakan feminisme yang senantiasa menghimbau wanita untuk memperjuangkan kehidupannya agar lebih maju dan mampu mengembangkan dirinya. Namun, berbeda dengan penokohan Sampek yang terkesan lebih dicemooh dibandingkan dengan tokoh lain.

5. Penutup
Feminisme adalah suatu kritik terhadap cara pandang yang mengabaikan permasalahan ketimpangan dan ketidakadilan dalam pemberian peran dan identitas social berdasarkan jenis kelamin. Ini berarti kesadaran akan adanya ketidakadilan gender yang menimpa kaum perempuan, baik dalam keluarga ataupun masyarakat. Keasadaran itu harus diwujudkan dalam tindakan yang dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan untuk mengubah keadaan terdebut.
Analisis feminisme dalam Sampek Engtay ini dilakukan dalam beberapa dua tahap. Tahap pertama mengidentifikasi satu atau beberapa tokoh wanita dalam sebuah karya sastra. Tahap kedua, mengidentifikasi tokoh lain, terutama laki-laki yang memiliki keterkaitan dengan perempuan yang sedang diamati.
Kesimpulan yang dapat ditarik kesimpulan bahwa Sampek Engtay memiliki unsure yang dapat dikaji melalui kajian feminisme. Riantiarno sebagai penulis cerita mampu menggambarkan sosok Engtay sebagai perempuan yang memiliki kekuasaan dalam menentukan kehidupannya.

Daftar Pustaka

Djajanegara, Soenarjati. 2003. Kritik Sastra Feminis Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.

Saparie, Gunoto. 2007. Kritik Sastra dalam
Perspektif Feminisme. (http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=113881). Diakses 2 Oktober 2010.

Sofia, Abid. 2009. Aplikasi Kritik Sastra Feminis Perempuan dalam Karya-karya Kuntowijoyo. Yogyakarta: Cipta Pustaka.

Riantiarno, N. 1988. Sampek Engtay. (www.google.com). Diakses 1 Oktober 2010.

________. 2010. N. Riantiarno. (http://www.teaterkoma.org/index.php?option=com_content&view=article&id=47:n-riantiarno&catid=36:angkatan-pendiri&Itemid=63). Diakses 9 Oktober 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s