Posted: 8 May 2011 in Tak Berkategori

Tes Berbicara, Tes Membaca, Tes Menulis, Dikte, Tes Cloze, dan Tes C1

 Tresiana Sari Diah Utami2

 1.      Pendahuluan

Tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh anak atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi anak tersebut, yang dibandingkan dengan nilai yang dicapai anak-anak lain atau dengan nilai standar yang ditetapkan.

Definisi di atas bila dikaitkan dengan pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas, maka tes adalah suatu alat yang digunakan oleh pengajar untuk memperoleh informasi tentang keberhasilan peserta didik dalam memahami suatu materi yang telah diberikan oleh pengajar.

Tes bahasa merupakan bagian dari sebuah rangkaian pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa tersebut yang nantinya akan megarahkan bentuk tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Selain itu, atas dasar hasil tes, dapat diperoleh informasi tingkat penguasaan hasil belajar siswa. Apakah seorang siswa telah mencapai tingkat penguasaan bahasa yang cukup terhadap materi belajar, selain itu dapat juga diketahui tentang masalah dan kesulitan yang dialami siswa dalam belajar bahasa. Hal ini dapat dilihat dari jawaban atas pekerjaan siswa yang salah yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Menurut Djiwandono (2008:114—135), tes bahasa yang berdasarkan sasarannya, yaitu kemampuan atau komponen bahan mana yang dijadikan fokus pengukuran tingkat penguasaannya. Tes bahasa dapat dikategorikan sebagai tes yang sasarannya adalah kemampuan bahasa, yaitu (1) tes kemampuan menyimak, (2) tes kemampuan berbicara, (3) tes kemampuan membaca dan (4) tes kemampuan menulis.

Tes yang sasarannya komponen bahasa seperti (5) tes kemampuan melafalkan, (6) tes kemampuan kosakata, dan (7) tes kemampuan tata bahasa, karena sasaran utamanya adalah tingkat penguasaan kemampuan bahasa, dan tingkat penguasaan melafalkan atau penguasaan tata bahasa dan sebagainya.

Lebih lanjut Djiwandono mengemukakan, selain tes kemampuan bahasa dan tes unsur bahasa, masing-masing dengan berbagai jenis dan variasi tesnya, di dalam kelompok tes bahasa secara lugas dapat dimasukkan salah satu dari kedua kelompok tes bahasa itu. Misalnya, sasaran utama tes kemampuan membaca adalah kemampuan membaca. Demikian pula halnya dengan penguasaan dan kemampuan tata bahasa yang merupakan sasaran utama dari tes bahasa. Sementara itu, terdapat tes bahasa yang tidak dapat dengan lugas dikaitkan dengan salah satu dari kelompok tes bahasa tersebut. Jenis tes terrsebut dimasukkan ke dalam kelompo tes bahasa khusus, meliputi Dikte, Tes Cloze, dan Tes-C. Makalah sebelumnya telah dipaparkan tes menyimak. Makalah ini membahas tentang  Tes Berbicara, Tes Membaca, Tes Menulis, Dikte, Tes Cloze, dan Tes-C.

2.      Tes Kemampuan Berbicara

Berbicara merupakan aktivitas kedua dalam berbahasa yang dilakukan manusia setelah mendengarkan. Tes kemampuan berbicara dimaksudkan untuk mengukur tingkat kemampuan mengungkapkan diri secara lisan. Tingkat kemampuan berbicara ini ditentukan oleh kemampuan untuk mengungkapkan isi pikiran sesuai dengan tujuan dan konteks pembicaraan yang sedang dilakukan, bagaimana isi pikiran disusun sehingga jelas dan mudah dipahami, dan diungkapkan dengan bahasa yang dikemas dalam susunan tata bahasa yang wajar, pilihan kata-kata yang tepat, serta lafal dan intonasi sesuai dengan tujuan dan sifat kegiatan berbicara yang sedang dilakukan. Berikut akan dicontohkan berbagai bentuk tes kompetensi berbicara. Akan tetapi, tugas-tugas yang ditekankan pada tugas-tugas pragmatik pragmatik atau otentik, sedangkan tugas-tugas yang bersifat diskret atau mungkin integrative sengaja ditinggalkan. Tugas-tugas tes pragmatik dan otentik menghendaki peserta peserta didik telah menguasai tahap elementer dalam suatu bahasa, paling tidak sudah dapat mempergunakan bahasa itu untuk aktivitas berbicara. Dalam tugas berbicara otentik terdapat dua hal pokok yang tidak boleh dihilangkan, yaitu benar-benar tampil berbicara dan isi pembicaraan mencerminkan kebutuhan realitas kehidupan (bermakna). Peserta didik tidak sekedar ditugasi untuk berbicara (mempergunakan bahasa secara lisan) melainkan juga menyangkut isi pesan yang dijadikan bahan pembicaraan atau dengan kata lain berbicara dlam konteks yang jelas. Konteks meliputi : siapa yang berbicara, situasi pembicaraan, isi dan tujuan pembicaraan, dll. (Nurgiyantoro, 2010:397—400).

a.      Berbicara Berdasarkan Gambar

Media gambar dapat dijadikan rangsang pembicaraan yang baik. Rangsang berupa gambar ini baik dipergunakan untuk anak-anak usia sekolah dasar dan pembelajar bahasa asing tahap awal. Akan tetapi, dapat juga digunakan untuk tingkat yang lebih tinggi tergantung pada keadaan gambar yang dipergunakan itu sendiri. Rangsang gambar yang dapat dipakai sebagai rangsang berbicara dapat dikelompokkan ke dalam gambar objek  dan gambar cerita.

1)      Gambar Objek

Gambar objek adalah gambar yang masing-masing memiliki nama satu kata dan merupakan gambar-gambar lepas yang antara satu dengan yang lain kurang berkaitan. Gambar objek dapat dijadikan rangsang berbicara  untuk peserta didik tingkat awal, misalnya taman kanak-kanak, atau pembelajar bahasa asing tingkat pemula masih dalam tahap melancarkan lafal bahasa dan memahami makna kata. Mereka sekedar menyebutkan atau menemukan nama-nama gambar tersebut karenanya tidak pragmatik. Tugas yang diberikan tidak bermakna karena tidak bermakna dalam kaitannya dengan situasi konteks (Nurgiyantoro, 2008:402-403).

Contoh :

Siapa nama hewan di samping ini …

2)      Gambar Cerita

Gambar cerita adalah rangkaian gambar yang membentuk sebuah cerita. Ia mirip komik atau buku gambar tanpa kata (wordless picture), yaitu buku-buku gambar cerita yang alurnya disajikan lewat gambar-gambar. Gambar-gambar tersebut berisi suatu aktivitas, mencerminkan maksud, atau gagasan tertentu, bermakna, dan menunjukkan situasi konteks tertentu. Untuk menceritakannya diberikan nomor urut  atau dapat pula tanpa nomor agar peserta didik mampu menemukan logika urutannya sendiri.

Tugasnya menceritakan makna gambar atau menjawab pertanyaan terkait. Tugas-tugas pragmatik untuk berbicara bedasarkan gambar yang disediakan dapat dengan cara-cara sebagai berikut (Nurgiyantoro, 2010:405-406) :

a)      Pemberian Pertanyaan

Diajukan pertanyaan-pertanyaan yang dengan mudah dijawab karena memang memang hanya itu jawabannya. Misalnya, pertanyaan yang dimulai dengan siapa yang menanam padi? Atau apa yang ditanam oleh petani?. Jawabannya telah jelas yaitu petani dan padi. Jawaban peserta didik kemungkinan akan berbeda-beda. Untuk itu diperlukan kriteria jawaban yang tepat. Oller dikutip Nurgiyantoro (2008:405) mengemukakan bahwa penilaian dapat dilakukan secara terpisah yaitu dari segi ketepatan (struktur) bahasa dan kelayakan konteks.

b)     Bercerita

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan di atas hanya menuntut peserta didik untuk memberikan jawaban yang sesuai yang biasanya hanya terdiri dari satu kalimat. Peserta didik  diminta untuk mengungkapkan kemampuan berbahasa dan pemahaman kandungan makna secara logis yaitu meminta siswa bercerita sesuai gambar yang disediakan. Tugas ini dilakukan dalam tes proses, guru diminta menuliskan kesalahan-kesalahan berbahasa anak sehingga dapat dibetulkan kemudiannya. Guru tidak diperbolehkan memotong pembicaraan peserta didik agar mereka tidak terganggu dan mematikan keberaniaannya. Rubrik  penilaian yang digunakan sebagai berikut.

Tabel 2.1

No

Aspek yang Dinilai

Tingkat Capaian Kinerja

1

2

3

4

5

1 Kesesuaian dengan gambar
2 Ketepatan logika urutan cerita
3 Ketepatan makna keselurruhan cerita
4 Ketepatan kata
5 Ketepatan kalimat
6 Kelancaran
                Jumlah Skor :  

 b.      Bercerita Berdasarkan Rangsang Suara

Tugas berbicara berdasarkan rangsang suara yang lazim dipergunakan adalah suara yang berasal dari radio atau rekaman yang sengaja dibuat untuk maksud itu. Misalnya, siaran radio, sandiwara, atau program-program lain. Kegiatan seperti ini masih banyak digunakan dalam tidak sekolah dasar. Namun, dapat juga digunakan dalam tingkat menengah pertama disesuaikan dengan kesulitan dalam memahami bacaan. Tugas yang dapat diberikan misalnya, dengarkan siaran sandiwara berikut ini, kemudian tuliskan hal-hal penting. Setelah itu ceritakan kembali di depan kelas. Kegiatan berbicara seperti ini sering digunakan dalam tingkat dasar. Rubrik  penilaian yang digunakan sebagai berikut.

Tabel 2.2

No

Aspek yang Dinilai

Tingkat Capaian Kinerja

1

2

3

4

5

1

Kesesuaian isi pembicaraan

2

Ketepatan logika urutan cerita

3

Ketepatan makna keseluruhan cerita

4

Ketepatan kata

5

Ketepatan kalimat

6

Kelancaran
       Jumlah Skor :  

Namun, ada beberapa penulis buku yang menuliskan hal yang ditekankan adalah menyimak. Hal ini dikarenakan, kompetensi menyimaklah yang lebih dominan. Namun, kembali ke guru yang menekankan kompetensi yang akan dinilainya.

c.       Bercerita Berdasarkan Rangsang Visual dan Suara

Nurgiyantoro (2010;408—410) mengemukakan bahwa bercerita berdasarkan rangsang visual dan suara merupakan gabungan antara berbicara berdasarkan gambar dan suara di atas. Media yang digunakan misalnya siaran televisi, video, atau berbagai bentuk rekaman sejenis. Tugas bentuk ini terlihat lebih didominasi dengan kompetensi menyimak, namun juga terdapat bentuk-bentuk lain yang memerlukan pengamatan dan pencermatan seperti gambar, gerak, tulisan, dan lain-lain yang terkait langsung dengan unsur suara dan secara keseluruhan menyampaikan suatu kesatuan informasi.

Tugasnya dapat berupa : Cermatilah siaran televisi berikut. Catatlah hal-hal penting kemudian ceritakan kembali di dalam kelas. Penilaian yang digunakan hampir sama dengan berbicara berdasarkan rangsang suara tetapi dalam hal ini ditambahkan ketepatan detil peristiwa.

d.      Bercerita

Kemampuan berbicara yang berbentuk berbicara dapat dilakukan dengan cara meminta  untuk mengungkapkan sesuatu (pengalamannya atau topik tertentu). Hampir saama dengan tes berbicara terhadap rangsang. Namun, cakupannya lebih luas. Ia dapat berupa rangsang apa saja tergantung perintah guru. Misalnya, berbagai cerita fiksi, beberapa pengalaman, dan lain-lain. Dapat berupa tugas menceritakan kembali teks atau cerita. Bercerita berdasarkan isi buku banyak dilakukan guru bahkan hingga tingkatan pendidikan tinggi. Untuk tingkatan tinggi bercerita mencakup laporan secara lisan terhadap buku yang dibaca. Tugas bercerita ini dapat berkaitan dengan kompetensi menulis. Rubrik  yang dapat digunakan hampir sama dengan yang digunakan berbicara terhadap rangsang. Namun, terdapat tambahan aspek ketepatan penunjukan detil cerita. Rubrik  pun dapat dibuat sendiri oleh guru berdasarkan bahan tugas yang diberikan (Nurgiyantoro, 2010:409-410).

e.       Wawancara

Dipakai untuk mengukur kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi. tes ini bisa dipakai apabila memiliki kemampuan berbahasa yang cukup mewadahi sehingga memungkinkan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya dalam bahasa itu.

Masalah yang ditanyakan dalam wawancara dapat menyangkut beberapa hal tetapi hendaknya disesuaikan dengan tingkat pengalaman peserta uji. Misalnya usia, sekolah, dan kemampuan berbahasa. Anak sekolah dapat dimulai dengan berapa usiamu, di manakah kamu tinggal, dll. Anak  dalam tingkat menengah dapat digunakan pertanyaan seandainya anda menjadi X, apa yang Anda lakukan, bagaimanakah sikap Anda setelah melihat hal tersebut, dll. Kemudian untuk tingkatan yang lebih tinggi dapat menggunakan pertanyaan, setujukah Saudara terhadap pandangan itu dan paparkanlah alasannya, dll.

Dalam tahap sekolah dasar, diajukan pertanyaan yang mencakup pengetahuan sederhana yang tidak memerlukan penjabaran yang luas. Semakin tinggi tingkatan maka semakin luas pemaparan dalam menjawab pertanyaan yang diajukan.

Media bacaan dan rekaman dapat digunakan sebagai rangsang. Misalnya dapat diajukan pertanyaan, permintaan pandangan, pendapat, sikap, atau sesuatu yang lain berdasarkan bacaan atau rekaman. Namun, penggunaan media tersebut memiliki kelemahan, salah satunya ditakutkan terjadi kesalahpahaman dalam menafsirkan bacaan atau rekaman, dll. penggunaan media ini hanya tepat jika digunakan untuk tingkat lanjut. Selain itu, teknik wawancara ini juga memiliki kelemahan dalam penilaian karena adanya penilaian subjektif pada pihak penilai. Maka dibutuhkan beberapa model penilaian wawancara, misalnya model pengembangan guru sendiri dan model penilaian The Foreign Service Institute. Model penilain yang dikembangkan oleh guru dapat digunakan rubrik penilaian berikut.

Tabel 2.3

No

Aspek yang Dinilai

Tingkat Capaian Kinerja

1

2

3

4

5

1

Keakuratan dan keaslian gagasan

2

Ketepatan argumentasi

3

Keruntutan penyampaian gagasan

4

Ketepatan kata

5

Ketepatan kalimat

6

Kelancaran

7

Pemahaman
       Jumlah Skor :  

Model penilaian The Foreign Service Institute digunakan dalam menilai wawancara dalam bahasa kedua (asing, bahasa Inggris). Model ini mencakup tiga komponen yaitu tujuan, komponen, dan deskripsi kefasihan. Model ini hanya mencakup komponen kebahasaan saja dan tidak mengukur komponen gagasan (Nurgiyantoro, 2010:410—418).

f.       Berdiskusi dan Berdebat

Tugas berbicara ini paling tidak melibatkan dua orang pembicara. Tugas berbicara ini sering dilakukan para peserta didik di sekolah lanjutan menengah dan terlebih mahasiswa untuk melatih kemampuan dan keberanian berbicara.  Dalam aktivitas ini, peserta didik dilatih mengungkapkan gagasan, menanggapi gagasan sendiri dengan argumentasi secara logis dan dapat dipertanggungjawabkan. Rubrik penilai yang digunakan dapat digunakan dalam berwawancara tetapi dapat ditambahkan aspek ketepatan stile penuturan.

g.      Berpidato

Untuk melatih kemampuan peserta didik mengungkapkan gagasan dalam bahasa yang tepat dan cermat, tugas berpidato baik untuk diajarkan dan diujikan di sekolah. Baik tingkatan dasar, menengah, atau perguruan tinggi. Rubrik penilaian yang digunakan oleh guru dapat menggunakan aspek-aspek yang sebelumnya atau menggunakan/mengadaptasi rubrik penilaian yang dibuat oleh Jakobovits dan Gordon (Vallette dikutip Nurgiyantoro, 2010:421-422). Terdapat sedikit perbedaan yang dinilai oleh mereka. Mereka lebih menekankan aspek gagasan daripada kebahasaan yang mencakup kosakata dan struktur kalimat. Berikut disajikan rubrik penilaian yang telah diadaptasi,

Tabel 2.4

No

Aspek yang dinilai

Tingkat Capaian

1

Keakuratan informasi (sangat buruk-akurat sepenuhnya) 1   2   3   4   5   6   7   8   9   10

2

Hubungan antarinformasi (sangat sedikit-berhubungan sepenuhnya) 1   2   3   4   5   6   7   8   9   10

3

Ketepatan struktur (tidak tepat-tepat sekali) 1   2   3   4   5   6   7   8   9   10

4

Ketepatan kosakata (tidak tepat-tepat sekali) 1   2   3   4   5   6   7   8   9   10

5

Kelancaran (terbata-bata-lancar sekali) 1   2   3   4   5   6   7   8   9   10

6

Kewajaran urutan wacana (tidak normal-normal) 1   2   3   4   5   6   7   8   9   10

7

Gaya pengucapan (kaku-wajar) 1   2   3   4   5   6   7   8   9   10
       Jumlah Skor :  

3.      Tes Kemampuan Membaca

Sasaran tes kemampuan membaca adalah memahami isi teks yang dipaparkan secara tertulis. Tes membaca dapat berisi butir-butir tes yang menanyakan pemahaman rincian teks yang secara eksplisit disebutkan, rincian teks yang isinya terdapat dalam teks meskipun dengan kata-kata dan susunan bahasa yang berbeda, menarik kesimpulan tentang isi teks, memahami nuansa sastra yang terkandung dalam teks, memahami gaya dan maksud penulisan di balik yang terungkap dalam teks.

Tes kompetensi membaca adalah bagaimana mengukur kemampuan pemahaman isi pesan tersebut, yaitu apakah sekedar menuntut peserta didik memilih jawaban yang telah disediakan atau menanggapi dengan bahasa sendiri. Selama ini, bentuk soal yang lazim dipakai adalah merespon jawaban yang telah dibuat dan belum terlihat memaksimalkan tugas-tugas yang menuntut peserta uji mendayakan potensi yang dimiliki untuk merespon wacana dengan kemampuannya sendiri (Nurgiyantoro, 2008:377—392).

a.      Tes Kompetensi membaca dengan Merespon Jawaban

Soal ujian yang lazim dipilih adalah bentuk objektif pilihan ganda. Tes seperti ini hanya memnuntut peserta didik menjawab soal adalah dengan memilih opsi jawaban. Jenis tes ini dikenal sebagai tes tradisional. Soal yang dibuat dapat bervariasi tingkat kesulitannya tergantung tingkat kesulitan wacana dan kompleksitas soal yang bersangkutan. Di bawah ini dicontohkan soal-soalnya.

1)      Tes Pemahaman Wacana Prosa

Bahan ujian membaca pemahaman adalah wacana yang berbentuk prosa, fiksi atau nonfiksi, singkat atau panjang, dengan isi tentang berbagai hal menarik. Soal yang diberikan kepada peserta didik harus sesuai dengan bacaan atau pemahaman teks bacaan. Soal umum yang sering ditanyakan adalah tema, gagasan pokok, gagasan penjelas, makna tersurat dan tersirat, bahkan juga makna istilah dan ungkapan. Contohnya,

Keluarga kami hidup sederhana. Pakaian yang kami kenakan tidak ada yang berharga mahal. Lauk –pauk untuk makan sehari-hari pun hanya sekedar memenuhi kriteria gizi.Bila kami mengalami kejenuhan dalam bekerja, kami berekreasi dengan menciptakan permainan sendiri.

Gagasan pokok paragraf  tersebut adalah……………….

  1. hidup sederhana*
  2. pakaian tidak ada yang berharga
  3. lauk-pauk asal ada
  4. penciptaan hiburan untuk rekreasi

(http://zulmasri.wordpress.com/2008/02/26/soal-soal-latihan-un-bahasa-indonesia-smp/)

2)      Tes pemahaman Wacana Dialog

Tes membaca dalam wacana bentuk dialog dimaksudkan untuk mengukur pemahaman isi wacana. Wacana dialog banyak digunakan dalam realitas kehidupan, misalnya dalam pembicaraan telepon dan berbagai dialog yang melibatkan berbagai orang dalam berbagai profesi dalam berbagai konteks. Sehingga macam soal dapat dibuat bervariasi.

Contohnya,

Wartawan       : Visi GOPTKI apa, Bu?

Bu Tati            : Visi GOPTKI adalah membina anak usia dini, membentuk akhlak bangsa yang aktif, dinamis, dan kreatif.

                        Wartawan        : Mengapa anak-anak usia dini tersebut harus masuk TK?

                        Bu Tati            : Pendidikan itu di mulai sejak usia dini. Pada usia 0-8 tahun, anak harus diberi nutrisi mental atau pendidikan mental yang baik. Penyiapan mental usia dini ada yang formal yaitu Tk dan nonformal kelompok bermain

Pernyataan yang jawabannya terdapat dalam wacancara tersebut adalah…….

  1. Di mana wawancara tersebut berlangsung?
  2. Kapan wawancara itu berlangsung?
  3. Mengapa pewawancara berkepentingan tentang pendidikan usia dini?
  4. Bagaimana penjelasan Ibu Tati tentang pendidikan usia dini?*

3)      Tes Pemahaman Wacana Kesastraan

Pengambilan bahan biasanya mengutip sebagian teks yang secara singkat telah mengandung unsur tertentu yang layak untuk diteskan. Dalam banyak hal tes diambil dari teks-teks kesastraan tidak jauh beda dengan wacana yang bukan kesastraan. Kedua-duanya sama-sama terkait dengan pemahaman pesan, makna tersirat, makna ungkapan,dll. Contoh,

Bukan main lebih hati Bu Kasim waktu itu yang memikirkan nasib suaminya. Semua tetangga ikut bersedih ketika menyaksikan kejadian itu. Akan tetapi, mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Tentara Belanda bersenjata lengkap sedangkan penduduk tidak punya apa-apa untuk melawannya”. Tidak beberapa setelah kejadian itu, Guntarman pun pulang. Ia juga tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali menyimpan saja kesedihan dan dendam kesumat di dalam dadanya.

Kutipan novel tersebut menggunakan konflik….

a.  jasmani                                                                   c. Fisik

b.  batin*                                                                    d. Lahir

4)      Tes Pemahaman Wacana Lain : Surat, Tabel, dan Iklan

Selain jenis wacana di atas, ada sejumlah wacana penting lain yang juga banyak ditemukan, misalnya surat, tabel, diagam, iklan, slogan, telegram, dll. berbagai jenis wacana tersebut erat kaitannya denan kebutuhan hidup, maka mereka menjadi penting.

b.      Tes kompetensi Membaca dengan Mengkontruksi Jawaban

Jenis kedua tes membaca ini menuntut peserta didik untuk memahami wacana berdasarkan pemahamannya tersebut, mereka mengerjakan tugasnya. Tugas ini dapat menggali dan memaksimalkan potensi peserta didik untuk mengkreasikan dan mengkontruksi jawaban dengan bahasa pilihannya sendiri.

1)      Pertanyaan Terbuka

Guru memberikan pertanyaan berkaitan dengan teks bacaan yang harus dijawab oleh peserta didik. Pertanyaan bersifat memaksa mereka berpikir tingkat tinggi, analitis, sintesis, dan evaluatif. Contoh,

Sebanyak 30 nelayan asal kabupaten Indramayu, Jawa Barat, dikabarkan hilang di perairan Laut Jawa. Mereka merupakan awak dua kapal penangkapan ikan Sarijadi I dan Sarijadi II, yang rusak dihempas ombak dan mengalami kebocoran di tengah lautan.

Pertanyaan :

Apakah yang seharusnya disiapkan oleh para nelayan agar tidak terjadi kecelakaan?

2)      Menceritakan Kembali

Tes seperti ini sudah sering dilakukan. Untuk mengerjakan tugas ini, peserta didik harus memahami bacaan lebih saksama. Peserta didik bebas memilih bahasa, namun gagasan yang dikemukakan harus sesuai dengan isi pesan wacana tersebut. Rubrik penilaian yang dapat digunakan jika disajikan secara lisan,

Tabel 3.1

No

Aspek yang Dinilai

Tingkat Capaian Kinerja

1

2

3

4

5

1

Pemahaman isi teks

2

Pemahaman detil isi teks

3

Ketepatan diksi

4

Ketepatan struktur kalimat

5

Kebermaknaan penuturan

6

Kelancaran pengungkapan
  Jumlah Skor :  

Contoh tugas,

Bacalah dengan cermat bacaan di hadapan Anda, setelah ini ceritakan kembali dengan bahasamu sendiri isi wacana tersebut.

Bentuk tes membaca yang dipaparkan di atas dapat digunakan untuk semua tingkatan. Membeedakannya hanya tingkat kesulitan bacaan dan juga soal yang diajukan.

4.      Tes Kemampuan Menulis

Tes kemampuan menulis diselenggarakan dengan tujuan untuk mengukur tingkat penguasaan kemampuan mengungkapkan pikiran kepada orang lain secara tertulis. Pengukuran tingkat kemampuannya pada dasarnya mengacu pada relevansi isi, keteraturan penyusunan isi, dan bahasa yang digunakan. Penggunaan bahasa pada tes menulis lebih menekankan penyusunannya, karena waktu yang lebih longgar untuk memilih kata-kata dan menyusunnya dengan lebih tepat bahkan peluang untuk memperbaiki dan melengkapi apa yang kurang jelas.

Menulis diartikan sebagai aktivitas pengekspresikan ide, gagasan, pikiran atau perasaan ke dalam lambang-lambang kebahasaan  Kemampuan menulis yang merupakan keterampilan berbahasa produktif lisan melibatkan kemampuan : penggunaan ejaan, penggunaan kosa kata, penggunaan kalimat, penggunaan jenis komposisi, penentuan ide, pengolahan ide, pengorganisasian ide. Kesemua inilah yang diukur dalam kemampuan menulis.

Secara umum, bentuk tes yang digunakan dalam tes menulis dapat berupa tes objektif dengan berbagai variasinya (untuk tingkat ingatan dan pemahaman) dan tes subjektif dengan berbagai variasinya (untuk tingkat penerapan ke atas). Ragam bentuk tes subjektif yang digunakan dalam tes menulis dapat dipaparkan sebagai berikut (Nurgiyantoro, 2008:422—442).

1)       Menulis Berdasarkan Rangsangan Gambar

Bentuk tes menulis berdasarkan rangsangan visual dilakukan dengan cara disajikan gambar yang membentuk rangkaian cerita, dan peserta didik diminta untuk membuat karangan berdasarkan gambar yang telah diberikan. Gambar yang digunakan sebagai rangsang diberikan kepada murid sekolah dasar atau pelajar bahasa (bahasa target) pada tahap awal.

Contoh tugas :

Di bawah ini disediakan empat buah gambar yang membentuk sebuah cerita,

  1. Buatlah sebuah karangan berdasarkan gambar itu yang panjangnya kira-kira  satu halaman.
  2. Jangan lupa karangan harus diberi judul.

Rubrik penilaian yang digunakan dapat disamakan dengan rubrik penilaian berbicara berdasarkan gambar. Perbedaannya hanyalah saran yang digunakan untuk mengungkapkan bahasa, berikut rubrik yang dapat digunakan pada tabel 4.1,

No

Aspek yang Dinilai

Tingkat Capaian Kinerja

1

2

3

4

5

1 Kesesuaian dengan gambar
2 Ketepatan logika urutan cerita
3 Ketepatan makna keselurruhan cerita
4 Ketepatan kata
5 Ketepatan kalimat
6 Ejaan dan tata tulis
                Jumlah Skor :  

2)      Menulis Berdasarkan Rangsang Suara

Bentuk tes ini dilaksanakan dengan cara disajikan suara yang dapat berbentuk ceramah, diskusi, atau tanya jawab, baik yang berupa rekaman suara maupun langsung. Tugas yang diberikan kepada peserta didik berupa tugas untuk menulis berdasarkan pesan atau informasi yang didengarkannya melalui sarana rekaman atau radio.  Contoh tugas ;

Dengarkan siaran radio sandiwara yang telah direkam dengan baik. Anda boleh mencatat hal-hal penting. Setelah itu, Anda diminta untuk menceritakannya secara tertulis.

Rubrik penilaian yag digunakan hampir sama dengan penilain berbicara berdasarkan rangsang suara, yang membedakannya  pada aspek ke-6. Ejaan tata tulis dapat digunakan dalam penilaian berbicara ini.

3)         Menulis Berdasarkan Rangsang Visual dan Suara

Tugas bentuk ini terkait dengan kompetensi menyimak, namun juga terdapat bentuk-bentuk lain yang memerlukan pengamatan dan kencermatan seperti gambar, gerak, tulisan, dll. yang secara keseluruhan menyampaikan satu kesatuan iformasi. Tugasnya dapat berbunyi :

Cermatilah siaran televisi (siaran binatang) pada pukul 18.00 WIB. Catatlah hal-hal penting. Setelah itu, Anda diminta untuk menceritakan kembali hal yang Anda tonton ke dalam bentuk tulisan.

Rubrik penilaian yang dapat digunakan seperti pada berdasarkan rangsang dengan sedikit penambahan komponen pada ejaan dan tata tulis. Tes menulis berdasarkan rangsang, suara, dan rangsang suara dapat diterapkan untuk setiap jenjang pendidikan. Persoalan dan jenis pertanyaan yang diajukan disesuaikan dengan tingkat/jenjang pendidikan.

4)      Tes Menulis dengan Rangsangan Buku

Pada tingkat-tingkat sekolah yang lebih rendah (sekolah dasar), menengah pertama, dan menengah ke atas, menulis dengan rangsang buku lebih dimaksudkan untuk melatih peserta didik secara produktif menghasilkan bahasa. Termasuk mahasiswa bahasa asing dalam rangka menulis dalam bahasa target. Pada tingkat sekolah yang lebih tinggi, tugas menulis bukan lagi sebagai latihan, menulis dengan rangsang buku biasanya laporan buku untuk meningkatkan pemahaman terhadap isi buku yang bersangkutan.

Bentuk tes ini dilakukan dengan cara menyajikan teks bacaan, dan peserta didik diminta untuk membuat karangan berdasarkan teks yang telah dibacanya. Bentuk tugas yang harus dikerjakan peserta didik dapat berupa membuat ringkasan/rangkuman, membentuk resensi, atau membuat kritik.

Buku yang dijadikan rangsang dapat berupa buku fiksi dan nonfiksi. Tugas buku fiksi lebih banyak dipilih untuk melatih kemampuan  menulis karena menarik dan dilakukan dengan senang hati. Misalnya :

Tulislah kembali dengan bahasa sendiri buku Mutiara dari Sebuah Dusun yang Anda baca. Tugas tersebut biasanya dilakukan pada jenjang sekolah dasar dan tahap awal dalam jenjang sekolah menengah. Kemudian tugas untuk meringkas bacaan novel Ayat-ayat Cinta dapat dilakukan untuk jenjang yang lebih tinggi. Tugas menulis berdasarkan rangsang buku ini juga dapat berupa tugas membuat resensi.

Rubrik yang dapat digunakan : Tabel 4.2.

No

Aspek yang Dinilai

Tingkat Capaian Kinerja

1

2

3

4

5

1 Pemahaman isi buku
2 Ketepatan penunjukkan detil isi buku
3 Ketepatan argumentasi
4 Kebermaknaan keseluruhan tulisan
5 Ketepatan kata
6 Ketepatan kalimat
7 Ketepatan stile penulisan
8 Ejaan dan tata tulis
                Jumlah Skor :  

 

5)         Tes Menulis Laporan

Bentuk tes ini dilakukan dalam tahap tingkatan menengah, baik pertama maupun atas dengan cara meminta peserta didik untuk membuat laporan kegiatan yang pernah dilakukan (mengikuti khotbah jumat, mengikuti seminar/diskusi, mengikuti darmawisata, atau kegiatan perkemahan) atau kegiatan penelitian sederhana yang telah dilakukan. Salah satu bentuk tugas otentik dalam pembelajaran adalah kerja proyek. Peserta didik dilatih bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk menghasilkan sebuah karya tertentu. Salah satu hasil kerjanya berupa laporan tertulis dalam melakukan penelitian kecil  (menganalisis berita tentang pendidikan di sejumlah surat kabar). Peserta didik harus mampu bekerja sama dalam pembagian tugas, dan pemecahan masalah dalam berkelompok. Berikut rubrik penilaian yang dapat digunakan pada tabel 4.3:

No

Aspek yang Dinilai

Tingkat Capaian Kinerja

1

2

3

4

5

1 Pemahaman isi berita
2 Organisasi penulisan
3 Ketepatan analisis data dan menyimpulkan
4 Kebermaknaan keseluruhan tulisan
5 Ketepatan diksi
6 Ketepatan kalimat
7 Ketepatan stile penulisan
8 Ejaan dan tata tulis
                Jumlah Skor :  

6)         Tes Menulis Surat

Bentuk tes ini dilakukan dengan cara peserta didik diminta untuk menulis sebuah surat. Jenis surat yang ditulis hendaknya ditekankan pada surat-surat resmi atau penulisan surat yang menuntut penggunaan bahasa secara benar. Penilaian dapat menggunakan rubrik berikut ini :

Tabel 4.4.

No

Aspek yang Dinilai

Tingkat Capaian Kinerja

1

2

3

4

5

1 Ketepatan isi surat
2 Kelengkapan isi surat
3 Kepantasan format surat
4 Ketepatan kata
5 Ketepatan kalimat
6 Ejaan dan tata tulis
                Jumlah Skor :  

7)      Tes Menulis Berdasarkan Tema Tertentu

Bentuk tes ini dilakukan dengan cara  disajikan sebuah atau beberapa topik, tema, dan ada kalanya judul-judul yang dapat dipilih peserta didik kemudian diminta untuk membuat suatu karangan berdasarkan topik yang telah ditentukan. Jenis karangan dapat berupa fiksi dan nonfiksi. Penulisan nonfiksi berupa pemberian tugas mengarang yang harus memaksa peserta didik mencari bacaan, data, rujukan, atau hal-hal yang terkait baik yang diperoleh dari buku, kamus, internet, dll. misalnya, bertemakan “Bahaya Merokok”. Siswa diharuskan mencari data-data berdasarkan sumber-sumber yang empirik. Hal ini diharapkan adanya kemajuan datam tiap tingkat peserta didik dalam mengarang. Tes ini dapat diterapkan dalam tingkat menengah atas. Tingkat sekolah dasar dan menengah lebih banyak ke arah penulisan fiksi (kesastraan) sedikit yang mengulas mengenai penulisan nonfiksi. Rubrik penilaian yang dapat digunakan:

Tabel 4.5

No

Aspek yang Dinilai

Tingkat Capaian Kinerja

1

2

3

4

5

1 Isi gagasan yang dikemukakan
2 Organisasi isi
3 Tata bahasa
4 Gaya : pilihan struktur dan kosakata
5 Ejaan dan tata tulis
                Jumlah Skor :  

5.      Dikte

Dikte menyangkut lebih dari satu jenis kemampuan atau komponen bahasa dan menugaskan peserta tes untuk menulis suatu wacana yang dibacakan oleh seorang penyelenggara tes. Dalam penyelenggaraan dikte, seorang peserta tes hanya dapat menuliskan apa yang didengarkan dari pemberi dikte dengan benar apabila dia mampu mendengar dan memahami dengan baik wacana yang didiktekan (kemampuan menyimak). Apabila peserta tidak mendengarkan secara utuh, ada kalanya peserta tes menggunakan kemampuan bahasa yang lain berupa  kemampuan tata bahasa dan kosakata.

Tes dikte lebih banyak digunakan dalam tingkatan dasar. Dikte yang banyak digunakan di sekolah-sekolah mengikuti format biasa yang dapat digolongkan ke dalam dikte standar dan dikte sebagian. Dikte standar menggunakan teks standar yang telah dipilih sesuai dengan isi, jenis teks, panjang teks, dll. Teks dibaca tiga kali, pembacaan pertama dilakukam dengan kecepatan membaca biasa dan peserta tes hanya mendengarkan dengan seksama. Pembacaan kedua, dilakukan bagian demi bagian, penjedaan waktu digunakan peserta tes untuk menulis. Pembacaan ketiga, dilakukan kembali pembacaan seluruh teks dengan kecepatan biasa.

Dikte sebagian, merupakan gabungan dikte dan tes Cloze. Diawali dengan pembacaan teks secara keseluruhan. Perbedaannya adalah sambil mendengarkan pembacaan teks secara keseluruhan peserta tes memiliki teks tertulis yang sama dengan yang dibacakan, kecuali beberapa bagian yang sengaja dilesapkan. Bagian-bagian yang dilesapkan itu yang perlu diperhatikan baik-baik untuk dituliskan pada lembar khusus yang disediakan (http://arerariena.wordpress.com/category/bahasa/).

Misalnya :

Dikte Sebagian

Dengarkan baik-baik pembacaan teks berikut, sambil memperhatikan teks dihadapan Anda.

Kekayaan alam Minangkabau dan seni budayanya sangat mempengaruhi  (1)…………………….dengan pola yang mengangumkan. Sekalipun ragam hias tercipta dari alat yang amat sederhana serta (2) ……………………tetapi hasil tenunannya merupakan (3) ……………………Jadi, songket (4) ……………………, melainkan telah menjadi suatu bentuk seni rupa. Karena diproses dengan kecintaan dan (5) ……………………yang ramah terhadap lingkungan alam.

Jawaban :

(1)   Terciptanya berbagai ragam

(2)   Proses kerja menenun yang terbatas

(3)   Karya seni yang tinggi nilainya

(4)   Tidak hanya sekedar kain

(5)   Diangkat dari fantasi penciptnya

 6.      Tes Cloze

Cloze test yang dikembangkan oleh Taylor (1953) adalah sejenis tes dalam bentuk wacana dengan sejumlah kata yang dikosongkan (rumpang) dan pengisi tes diminta mengisi kata-kata yang sesuai di tempat yang kosong itu. Kebenaran isi jawaban akan dilihat dari naskah asli wacana tersebut (http://penchenk.blogspot.com/2009/01/cloze-test.html).

Tes Cloze bertujuan untuk mengukur tingkat penguasaan kemampuan pragmatik, yaitu kemampuan memahami wacana atas dasar penggunaan kemampuan linguistik dan ekstralinguistik. Pengukuran tingkat penguasaan kemampuan pragmatik itu dilakukan dengan menugaskan peserta tes untuk mengenali, dan untuk mengembalikan seperti aslinya, bagian-bagian suatu wacana yang telah dihilangkan.

Dalam prosedur cloze, kata-kata dihilangkan dari sebuah teks setelah pengenalan kalimat. Dasar penghilangan disusun dengan adalah rumus setiap kata ke-n,  biasanya antara kata ke-5, ke-7, dan seterusnya. Para peserta harus mengisi tiap yang dikosongkan/celah dengan mengisi kata yang mereka pikir telah dihilangkan.

Prosedur dan langkah-langkah dalam penggunaan cloze test adalah :

1)      menghilangkan kata pada urutan tertentu secara konsisten, tanpa membedakan jenis kata (the fixed-ratio method). Misalnya, apabila kata yang dihilangkan itu adalah kata yang ke-5, maka setiap kata yang kelima dihilangkan secara konsisten.

2)      menghilangkan kata pada urutan tertentu dengan ketentuan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan pembuat tes (the variables-fixed ratio). Misalnya, kata itu akan dihilangkan apabila termasuk kata benda atau kata kerja.

3)      menghilangkan kata pada urutan tertentu secara sistematis tetapiapabila kata pada urutan tertentu itu adalah nama tempat, nama diri, angka, tanggal, bulan, tahun, atau istilah, maka kata itu dilampaui dan dipilih kata berikutnya. (the modified fixed-ratio method).

Prosedur dan langkah-langkah dalam penggunaan tes cloze adalah :

  1. Ambil sampel (bagian awal, tengah, dan akhir). Uraian yang dipilih sebaiknya :
  • Narasi / wacana
  • Isinya suatu pemikiran yang utuh
  • Tidak mengandung banyak nama diri
  • Tidak mengandung banyak istilah baru
  1. Pilih kata-kata kurang lebih 250 kata.
  2. Biarkan kalimat pertama dan kalimat terakhir utuh
  3. Rumpangkan / bolongi pada kata kelima atau ketujuh, dll. secara konsisten
  4. Beri nomor pada setiap kata yang dibolongi
  5. Kumpulkan, dan beri skor (penilaian). Dengan pengkategorian :
    a.  50% benar = Mudah dipahami, dalam arti pembaca mengerti isi bacaan.

            Contoh :

TES KETERBACAAN

LKS BAHASA INDONESIA

UNTUK KELAS XII SEKOLAH MENENGAH ATAS

Petunjuk:

  1. Bacalah teks bacaan dibawah ini dengan teliti dan pahami isinya!
  2. Tulislah kata yang tepat (sesuai dengan kata yang terdapat dalam teks asli) pada bagian-bagian yang masih kosong yang terdapat dalam teks bacaan tersebut pada lembar jawaban yang tersedia
  3. Waktu 90 menit

 

Banyak Pupuk Bersubsidi Diselundupkan

Banyak pupuk urea bersubsidi yang diselundupkan ke negara tetangga sehingga pupuk langka di sejumlah daerah antara lain di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatra Utara.

“Kalau pupuk langka sama (1)………. tidak, tapi memang ada (2)………. di beberapa daerah akibat (3)………… yang pas-pasan karena produksi (4)……….. akibat pasokan gas yang (5)………..”, kata Dirut PT Pusri (6)………. menjadi induk BUMN produsen (7)………. , Zainal Soedjais, di sela-sela (8)…………. di Jakarta, kamis 29 (9)……….

Dijelaskannya, akibat pasokan pupuk (10)………… tersendat, pupuk untuk sektor (11)……….. yang diberi subsidi semakin (12)……….. yang merembes ke sektor (13)…………., seperti perkebunan, sehingga ada (14)………….. yang mengalami kelangkaan.

Harga (15)………. sektor pangan dan nonpangan (16)……… selisih Rp 200 – Rp (17)……….. per kilogram. Pemerintah dalam (18)……….. mendukung ketahanan pangan telah (19)………… subsidi pupuk urea kepada (20)………. sehingga harganya Rp 1.050 (21)……. kilogram.

Namun Sudjais tidak (22)………. memperkirakan berapa persen dari (23)……….. subsidi yang merembes ke (24)………… nonpangan (perkebunan dan industri) (25)………… sebenarnya kecil sekitar 600.000 (26)………. per tahun. Sedangkan untuk kebutuhan pupuk sektor pangan sekitar empat juta ton per tahun.

(http://fikriyansyah8.wordpress.com/2010/04/19/cara-membuat-dan-contoh-tes-cloze/).

Di atas merupakan tes cloze yang diberikan untuk anak tingkat menengah atas. Tes cloze ini dapat diberikan disemua tingkatan. Tingkat kesulitan soal hanya perlu disesuaikan dengan tingkat pendidikannya. Namun, kenyataan yang merisaukan tentang tingkat kesulitan tes cloze yang menunjukkan bahwa bahkan penutur asli tidak mudah untuk memperoleh skor maksimum. Penilaian jwaban peserta didik yang dapat dilakukan secara beragam yang menurut beberapa ahli tes bahasa merupakan sumber ketidakpastian yang menganggu. Maka, terdapat sebuah alternatif untuk menghindari ketidakpastian itu. Penyesuaian tes Cloze disebut Tes-C.

7.      Tes-C

Tes-C merupakan upaya untuk beranjak dari kesulitan dan keberatan terhadap tes cloze, terutama karena tingkat kesulitan yang tinggi untuk mencapai skor yang memadai. Dikembangkan di Jerman oleh C. Klein Braley (1983). Tes-C diselenggarakan dengan menggunakan wacana berupa teks bacaan sebagai bahan pokok. Perbedaannya, tes cloze menggunakan teks bacaan utuh sedangkan Tes-C menggunakan beberapa teks bacaan pendek .

Pelesapan kata pada Tes-C dilakukan dengan menerapkan formula kaidah serba dua. Kalimat pertama dan terakhir teks dibiarkan tetap seperti aslinya, tanpa pelesapan kata. Pelesapan kata baru dimulai oada kalimat ke-2, mulai dengan kata ke-2 dan setiap kata ke-2 berikutnya dengan melesapkan bagian ke-2 dari kata-kata tersebut (Djiwandono, 2008:149—151). Contoh,

Keluarga kami hidup sederhana. Pakaian (1) ya.. kami (2) kena… tidak (3) a.. yang (4) ber…… mahal. Lauk-pauk (5) un… makan (6) sehari-…. pun (7) ha… sekedar (8) meme…. kriteria (9) gi… Bila kami mengalami kejenuhan dalam bekerja, kami berekreasi dengan menciptakan permainan sendiri.

Kenyataan bahwa tes-C dirasakan peserta tes lebih sederhana dan kurang sulit  dibandingkan tes cloze. Secara umum perolehan skor pada tes C lebih tinggi daripada tes cloze.

 

8.      Penutup

Tes bahasa yang berdasarkan sasarannya, yaitu kemampuan atau komponen bahan mana yang dijadikan fokus pengukuran tingkat penguasaan-nya. Tes bahasa dapat dikategorikan sebagai tes yang sasarannya adalah kemampuan bahasa, yaitu (1) tes kemampuan menyimak, (2) tes kemampuan berbicara, (3) tes kemampuan membaca dan (4) tes kemampuan menulis.

Selain tes kemampuan bahasa tersebut, terdapat tes bahasa yang tidak dapat dengan lugas dikatitkan dengan salah satu dari kelompok tes bahasa tersebut. Jenis tes tersebut dimasukkan ke dalam kelompok tes bahasa khusus, meliputi Dikte, Tes Cloze, dan Tes-C. Berbagai macam tes bahasa yang telah dipaparkan, hampir semuanya dapat diterapkan dalam segala tingkatan. Namun, ada juga yang hanya diberikan pada tingkatan dasar, menengah, atau tingkatan atas.

Daftar Pustaka

Djiwandono, Soenardi. 2008. Tes Bahasa Pegangan Bagi Pengajar Bahasa. Jakarta: Indeks.

Fikriyansyah. 2010. Cara Membuat dan Contoh Tes Cloze.  http://fikriyansyah8.wordpress.com/2010/04/19/cara-membuat-dan-        contoh-tes-cloze/. Diunduh 3 Maret 2011.

Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Penilaian Pembelajaran Bahasa Berbasis                      Kompetensi. Yogyakarta : BPFE-Yogyakarta.

Nuzulia, Dian. 2010. Tes Bahasa.                                                                      (http://arerariena.wordpress.com/category/bahasa/) Diunduh 3 Maret 2011.

­­­­­­­­______. 2011.  Cloze Test .http://penchenk.blogspot.com/2009/01/cloze-test.html. diunduh 3 Maret 2011.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s